Mohon tunggu...
Hara Nirankara
Hara Nirankara Mohon Tunggu... Penulis Buku

Kadang seperti anak kecil.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Al-Quran, Si Kitab Kering

8 April 2020   00:47 Diperbarui: 8 April 2020   00:41 40 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Al-Quran, Si Kitab Kering
Image via Historia

Ketika kita menerima suatu kabar, ada baiknya kabar itu ditampung layaknya kedua telapak tangan ketika menadahi air wudhu. Tapi bukan berarti kabar itu bisa kita terima dan konsumsi mentah-mentah. Dan kabar itu bisa datang dari mana saja, serta dari siapa saja. Ada baiknya kita mengamati tanpa membantah terlebih dahulu, karena bagi sebagian kaum, adab itu nomer satu. Namun bukan berarti kita tunduk tanpa mencari tahu, tanpa bertanya, dan tanpa berguru. Begitu pula dengan agama, yang dikabarkan lewat Al-Qur'an.

Kita mungkin mengenal namanya, yaitu Muhammad. Mungkin juga kita mengenal nama sahabatnya, Ali dan Abu Bakar. Tapi bukan berarti kita bisa menerima Al-Qur'an tanpa unsur penela'ahan. Qur'an dulunya datang dengan wujud gundul, lalu semakin berganti masa, ditambahi dengan harokat-harokat. Agar apa? Agar kita bisa membacanya, dan mengetahui artinya, serta membedakan maknanya. Kabar itu bernama Qur'an. Sedang Muhammad, Ali, Abu Bakar, dan juga penambah harokat adalah pembawanya. Kita tidak boleh menerima kabar itu dengan polos, hingga mengabaikan makna tersurat dan tersiratnya. Karena memang seperti itulah yang dinamakan kering, Al-Qur'an Si Kitab Kering.

Lalu bagaimana cara kita untuk membuatnya basah? Jika dianalogikan sebagai tanah tandus, maka hadist dan tafsir adalah airnya. Air yang akan membuat tanah tandus itu menjadi basah, sehingga kita lebih mudah untuk menela'ah kandungannya. Membaca saja tidak cukup. Mengerti artinya saja tidak cukup. Urusan kabar tidak seremeh itu. Dan untuk menela'ah tanah tandus yang sudah basah, kita membutuhkan ranting, atau sekop, bahkan dengan kuku kita sekalipun.

Mereka berkata bahwa umat islam harus kembali pada Qur'an dan Sunnah. Tapi Qur'an yang seperti apa? Sunnah yang bagaimana? Apakah Qur'an tanpa tanda baca, atau Sunnah tanpa penuturan? Ini yang patut kita pertanyakan dari sebuah kabar. Kembali ke Qur'an dan Sunnah saja tidak cukup, kita memerlukan tafsir, hadist. Maka dengan begitu, beragama bukan hanya sekedar mempunyai agama, tapi mengerti esensi serta tujuannya.

Katanya mulut perempuan adalah aurot, sehingga harus ditutupi dengan cadar. Tapi apakah benar kabar itu? Menutupi aurot dengan cadar? Bagaimana bila yang dimaksud menutupi aurot (mulut perempuan) adalah dengan tidak berkata kotor? Tidak boleh mengghibah? Tidak boleh memfitnah? Katanya mata perempuan juga termasuk aurot, maka harus ditutupi dengan burqa.

Bagaimana bila yang disebut menutup mata adalah memalingkan pandangan dari hal-hal yang dilarang? Menatap sinis ke orang lain? Memberikan tanda dalam sebuah kecurangan? Pernahkah kita berpikir ke arah itu? Jika mereka yang membawa kabar palsu itu menentang logika, bagaimana dengan dalil aqli? Bukankah islam sendiri memperbolehkan kita untuk menggunakan logika? Logika yang disertai literasi. Logika yang mempunyai dasar. Tentu islam sangat memperbolehkan logika yang demikian. Karena apa? Kita adalah penerima kabar, sedang pembuat kabar sudah lama sekali mati.

Melafalkan ayat-ayat suci tidak cukup hanya dengan bersuara saja. Kita diwajibkan untuk memahaminya, mengerti batasan-batasannya. Sehingga yang kita lafalkan tidak hanya sampai di kerongkongan, melainkan sampai ke dalam jantung kita, ke dalam diri kita. Seperti halnya Qur'an yang tidak menyebutkan perintah sholat dengan tata caranya. Tata cara sholat, bacaan, wudhu, kita dapatkan melalui Muhammad dan juga sahabat yang menceritakan serta mengajari. Seperti itulah membaca, memahami, serta mengamalkan kandungan Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.

Ada lagi. Kata mereka bunga bank itu haram, atau yang biasa dikenal riba. Orang islam dilarang untuk berhubungan dengan yang namanya riba, karena ancaman siksa di neraka telah menanti. Mungkin itulah sebabnya para miliader Middle East tidak pernah mengambil bunga yang disimpan di Swiss Bank. Karena mereka menerima kabar kering. Beragama tanpa mempelajari.

Namun saat ini, bunga bank itu sudah diambil oleh para miliader, dan menyerahkannya untuk kegiatan sosial. Kiranya apa yang membuat basah? Tentu tafsir dari para Ulama Middle East. Bunga bank yang tadinya tidak diambil itu, digunakan oleh Swiss Bank dalam hal kemanusiaan.

Mendengar kabar itu, para Ulama sepakat untuk membuat tafsir baru, yaitu diperbolehkan mengambil "riba" asal nantinya digunakan untuk kebutuhan hidup manusia. Aspal jalan yang dilalui berasal dari bunga bank juga. Fasilitas umum yang dinikmati juga berasal dari riba. Bahkan bantuan sosial pun tidak terlepas dari peran riba. Maka dari itu, sangat berbahay bagi kita untuk menerima kabar dari Kitab Kering tanpa "membasahinya" terlebih dahulu.

Bayangkan, jika semua orang tidak mengkonsumsi yang kering itu? Pasti dunia ini akan bertambah baik, dengan hadirnya sumber daya manusia yang berkapasitas. Tidak ada pembunuhan. Tidak ada pengrusakan. Tidak ada pembakaran. Tidak ada pengkafiran. Dan tidak ada perselisihan. Bukankah Allah menciptakan kita bersuku-suku? Berbeda-beda? Agar kita semua bisa saling mengenal, menjaga, menghormati, dan membantu. Betapa indahnya dunia ini yang kering kita basahi terlebih dahulu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN