Mohon tunggu...
Hara Nirankara
Hara Nirankara Mohon Tunggu... Penulis Buku

Kadang seperti anak kecil.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Dimensi Ketiadaan

15 September 2019   21:13 Diperbarui: 15 September 2019   21:15 0 1 1 Mohon Tunggu...
Dimensi Ketiadaan
Image by Hara Nirankara

Ada hujan yang tak merata, membasahi segelintir angan manusia, menuangkan banjir di sela misi bernama asa. Aku membayangkan sebuah merananya sepihak manusia, yang mana selalu merasa tersaingi, dimarjinalkan. Fisik-fisik terlihat sempurna terbang bergentayangan. Dan kepada siapa mereka mengadu, menyalurkan kesedihan selain kepada alam? 

Awan gelap, geledek menggelegar, angin riuh menerbangkan debu-debu fana penyebab sesak di dada. Jika pun alam tak mendukung, segelintir manusia itu menciptakan sebuah drama yang mendukung suasana hati mereka yang sedang terluka, yang sangat memengapkan dada

Sebagian dari mereka bertanya, mengadu, berdo'a kepada Tuhan yang katanya Maha Esa. Menadahkan tangan diirngi ayat-ayat suci, duduk bersimpuh di depan patung Wali Tuhan, ada juga yany rela berdiam diri, meditasi hingga semua lelah benar-benar lelap. Ada pula yang menyalahkan Tuhan, mengumpat sesuka hati, menyumpah sepuas mulut terbuka. 

Padahal mereka yang berdo'a dan mengumpat sama-sama tidak tahu tentang hakekat Tuhan. Mencampurkan urusan duniawi, mengadukan urusan pribadi kepada Dzat yang disebut dengan Tuhan.

Letih. Lelah bosan pasti yang namanya Tuhan itu. Mendengarkan miliaran do'a, mendengarkan miliran umpatan. Tuhan tak akan melakukan apapun, tak akan memberikan apapun. Konsep alam bawah sadar manusia yang memberikan sensasi, memberikan gelombang antar dimensi, hingga tercipta sebuah kepuasan batin, walaupun itu umpatan sekalipun.

Secuil do'a akan sangat bermakna bagi mereka yang percaya. Sebaris lantunan ayat suci akan bermakna bagi mereka yang beriman. Kepercayaan-kepercayaan itu terus tumbuh, menjalar hingga pada akhirnya manusia berhak dan wajib untuk menyembah kepada sesuatu yang Maha Ghaib. Tak ada yang dapat menjelaskan bagaimana proses spiritual itu terjadi. Bahkan Nabi sekalipun nampak kebingungan, dari mana datangnya suara yang berkata "Iqra". 

Sang Nabi pun akhirnya terperangkap ke dalam ilusi, yang kemudian disabdakan lalu dipercayai. Aku tak akan menyebut Nabi itu serta pengikutnya sebagai kumpulan orang gila. Karna Nabi sendiri menyuruh umatnya untuk membaca dan berpikir, bukan hanya Sami'na Wa Atho'na, tapi lebih luas dan mematikan dari itu. Itulah sebabnya dalam agama sendiri terdapat tingkatan. Mulai dari Syariat hingga Hakikat.

Jiwa-jiwa kosong yang sedang terombang-ambing itu akan selamanya tersesat, detak jantung berdegub kencang ketika dihadapkan pada sebuah masalah serta fenomena. Mereka terus memanggil asma Tuhan, terus menyeru agar kembali beriman kepada Tuhan. Hingga pada akhirnya jiwa-jiwa yang kesakitan itu akan terus mendengungkan gumaman, yang mana akan semakin membisingkan telinga Tuhan.

Terka lah wahai kawanku. Menerka lah atas susunan kalimat per kalimat yang aku buat, hingga kau benar-benar lelah dan tersesat. Kemudian hilang hilang selamanya ke dalam dimensi ketiadaan. Dan beruntunglah mereka yang kembali dalam ketiadaan. Kosong. Senyap. Nihil. Tak ada apapun. Tiada siapapun.