Mohon tunggu...
Hara Nirankara
Hara Nirankara Mohon Tunggu... Penulis Buku

Kadang seperti anak kecil.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Relativitas Alam Bawah Sadar

31 Juli 2019   20:20 Diperbarui: 31 Juli 2019   20:52 0 2 1 Mohon Tunggu...
Relativitas Alam Bawah Sadar
Image by Hara Nirankara

Masih ingat dengan konsep takdir yang pernah saya bahas? Dalam esai yang saya buat itu, saya menekankan bahwa apa yang terjadi kepada manusia bukanlah takdir, tapi sebabnya. Sebabnya itu ya dari diri kita sendiri, pertama. Dari orang lain, kedua. Dan, yang ketiga adalah dari alam. Kita pasti sudah tidak asing dengan yang namanya faktor lingkungan/alam, faktor teknis, dan human error.

 Ketiga faktor itu kerap menjadi penyebab utama dalam sebuah kecelakaan. Ada banyak orang menganggap bahwa kematian adalah bagian dari takdir. Argumen seperti itu lumrah digunakan oleh orang-orang yang beragama. Misalkan ada sebuah kecelakaan pesawat. Orang-orang yang kehilangan anggota keluarganya akan pasrah dan ikhlas karena menganggap kecelakaan itu bagian dari takdir. 

Apa sih yang melatar-belakangi dari sikap pasrah dan ikhlas itu? Mereka pasrah dan ikhlas karena pikiran mereka sudah terbebani oleh perihal duka. Yang ada di pikiran mereka hanya pusing, jenuh. Perasaan mereka juga pastinya sangat sedih, sehingga mereka tidak ingin tambah pusing dengan mencari tahu apa penyebab dari kecelakaan itu. Saya memberikan contoh bukan berarti menyuruh orang-orang terkait untuk menuntut maskapai penerbangan. Saya rasa banyak di antara mereka yang berfikir, "sudahlah. Namanya juga takdir." Dan seketika pula waktu seakan berhenti dan mematikan semua logika ketika kalimat itu digunakan.

Tapi ada pula orang yang selamat dari kecelakaan pesawat itu. Entah mereka ketinggalan pesawat, mengubah jadwal dan maskapai, atau memang membatalkan keberangkatan itu. Mereka yang selamat itu rata-rata berkata, "syukur saya tidak jadi terbang bla bla bla. Mungkin sudah menjadi rejeki saya, takdir saya untuk hidup." What the hell? Mereka berkata "rejeki" sedangkan banyak orang yang meninggal atas kecelakaan tersebut. Penggunaan kata "rejeki" ini seperti "menari di atas bencana". 

Padahal mereka bisa selamat ya karna human error. Kalau bukan human error, harusnya mereka tewas semuanya. Sedangkan jika satu pesawat tewas semua tanpa ada kasus "ketinggalan pesawat", hanya ada dua kemungkinan. Faktor alam dan faktor teknis. Kalian pasti sering mendengar sebuah berita yang menyebutkan bahwa penyebab kecelakaa pesawat adalah faktor alam ataupun faktor teknis. Pernahkah pembawa berita menyebutkan bahwa penyebab terjadinya kecelakaan pesawat dikarenakan takdir Tuhan?

Contoh lainnya. Misalkan saya adalah orang yang hidupnya jalan di tempat. Saya belum memiliki pekerjaan, saya tidak memiliki penghasilan, pokoknya hidup saya ini miskin dan menyedihkan. Jika hingga tua dan mati saya masih tetap begini, apakah ini merupakan takdir saya? Bagaimana jika penyebab saya tidak dilirik oleh perusahaan adalah karena saya tidak memiliki pengalaman bekerja, cv yang tidak menarik, hingga ada banyak orang yang lebih baik dari saya?

Bagaimana jika penyebab saya tidak mempunyai penghasilan dikarenakan saya memilih-milih pekerjaan, bermalas-malasan, atau saya tidak mempunyai kreatifitas? Bagaimana jika penyebab saya miskin dikarenakan saya yang sudah putus asa? Saya akan kutipkan perkataan dari Buddha, "Aku tidak percaya takdir yang didapatkan manusia bagaimanapun mereka berlaku, tapi Aku percaya pada sebuah takdir yang didapatkan manusia dengan bertindak." Kalau saya ingin hidup makmur dan banyak uang, berarti saya harus memperbaiki cv saya, tidak selektif dalam memilih pekerjaan, lebih mengedepankan pengalaman. Kalau saya "gagal" sampai mati, berarti saya harus menyalahkan diri sendiri. Tidak perlu menyalahkan orang lain, Tuhan, atau pasrah terhadap takdir Tuhan.

Lagi-lagi tulisan saya ini akan mengerucut pada "pola berpikir manusia". Hidupmu akan miskin jika kamu tidak melakukan apapun. Kamu akan jatuh miskin jika terus hedonis dan komsutif. Kamu akan mati jika penyedia layanan kurang teliti. Kamu akan mati jika kamu tidak berhati-hati. Dan saya teringat kepada salah satu netizen yang ikut berkomentar terhadap esai yang saya sebutkan tadi. Ia berkata "ada dokter di China yang bisa edit DNA dua bocah perempuan untuk kebal HIV. 

Banyak orang Barat pada ribut. Nah, jika DNA bisa dikoreksi, berarti bakal ada orang yang kebal kanker dong?". Tapi sampai saat ini saya kesulitan mencari artikel ataupun jurnalnya. Masalah rekayasa DNA ini sebenarnya saya sudah sempat mendengarnya dulu. Tentang bercinta di tanggal sekian untuk menghasilkan bayi laki-laki/perempuan. Memakan ikan, buah-buahan ini itu bla bla bla agar waktu kelahiran si bayi menjadi "baik" fisiknya dan kapasitas otaknya.

Dan perihal bayi lahir cacat, banyak jurnal yang menyatakan bahwa cacat lahir dari seorang bayi diakibatkan karena pengaruh lingkungan yang diterima si Ibu ketika sedang mengandung. Dan satu lagi,  janin dapat merespon ucapan orang dewasa melalui alam bawah sadar. "alam bawah" sadar inilah yang nantinya akan menghasilkan perilaku seperti apa ketika si bayi sudah tumbuh dan berkembang.

Saya tidak akan menyalahkan kalian yang masih menganggap bahwa semua yang terjadi merupakan takdir Tuhan. Kita mempunyai pola dan cara berpikir masing-masing, karakter yang masing-masing pula. Tapi saya sendiri rada miris jika apa yang terjadi di dunia ini selalu disangkut-pautkan dengan agama dan Tuhan.