Mohon tunggu...
Hara Nirankara
Hara Nirankara Mohon Tunggu... Penulis Buku

Kadang seperti anak kecil.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

"Bule Gembel"

8 Juli 2019   18:19 Diperbarui: 8 Juli 2019   18:23 0 0 0 Mohon Tunggu...

Fenomena maraknya 'bule gembel' yang terjadi di Indonesia bahkan di seluruh dunia sepertinya akan menjadi catatan baru bagi pemerintah, khususnya di negara yang memberlakukan bebas visa seperti di Indonesia. Di Bali, banyak kasus-kasus baru yang disebabkan oleh keberadaan wisatawan mancanegara. Sebagian dari kita tentu masih ingat dengan kejadian di Bali beberapa tahun yang lalu, yaitu ketika bule-bule itu membuat resah pengunjung pantai dengan mengendarai sepeda motor hingga memasuki bibir pantai. Kasus lain yaitu ada beberapa bule yang berkelahi dengan orang Bali dan juga sesama bule. Nah, pada tulisan kali ini saya ingin sedikit menyinggung masalah 'bule gembel' yang ada di Bali, mungkin juga di wilayah lain di Indonesia.

Kedatangan foreign people ke Indonesia khususnya dalam pariwisata pastilah sangat diharapkan oleh pemerintah. Dengan banyaknya wisatawan mancanegara tentunya akan menambah devisa negara. Tapi fenomena akhir-akhir ini justru membuat saya pribadi merasa miris sekaligus kasihan. Bule yang awalnya datang untuk berwisata, lama kelamaan justru menjadi pengemis, pengamen, hingga menjual apa yang mereka miliki agar bisa tetap hidup di Indonesia. Sedangkan jika mereka [bule gembel, red] sudah mendapatkan rupiah, mereka malah menggunakan rupiah untuk pergi ke klub malam, mencari hiburan, bersenang-senang. Yang jadi pertanyaan saya "tujuan sebenarnya dari mereka [bule] datang ke Indonesia untuk apa?". Jika mereka murni karena wisata, tentu kita semua merasa senang. Tetapi jika mereka datang ke Indonesia hanya untuk membodohi masyarakat lokal, apakah kita masih bisa diam? Membodohi masyarakat lokal yang saya maksud adalah, mereka hanya memanfaatkan kasta ras kulit putih agar bisa diistimewakan oleh masyarakat Indonesia yang sudah lebih dari 350 tahun bertekuk lutut dihadapan ras kulit putih.

Kita tidak perlu mengelak, tidak perlu malu untuk mengakui bahwa masih banyak masyarakat kita yang mempunyai mindset "orang bule = orang hebat, tuan, orang keren, dlsb." Dengan masih banyaknya masyarakat kita yang mempunyai mindset demikian, tentunya akan membuat bule semakin di atas angin.

Orang Indonesia terkenal dengan keramahannya, kebaikannya, dan dengan segala sifat bernilai positif itu justru dimanfaatkan oleh mereka yang saya sebut dengan 'bule gembel' untuk membodohi masyarakat Indonesia yang masih berpikiran primitif. Bule-bule gembel itu merasa diistimewakan karena sejarah ras kulit putih yang pernah menjajah Indonesia, sehingga mereka pasti dengan leluasa membodohi masyarakat lokal.

Jika kalian masih ingat dengan esai saya yang membahas 'keidiotan' sebagian masyarakat Indonesia, terutama yang berkaitan dengan bule, pasti kalian akan bisa menebak mindset seperti apa yang saya maksud. Banyak masyarakat langsung bangga ketika ada bule yang membahas Indonesia walaupun hanya secuil. "hai, i'm from Indonesia", "Indonesian people here", "saya bangga kamu menyebut nama Indonesia/saya bangga kamu berbahasa Indonesia", dlsb. Padahal kumpulan orang idiot itu belum tentu paham dengan isi konteks atau pembahasan yang sedang dibicarakan oleh bule, entah di Ig, Yt, atau media sosial yang lain.

Dalam fenomena 'bule gembel' yang sedang saya bahas, sebenarnya saya sedang berfokus pada dua hal: 'bule gembel' yang membodohi masyarakat, dan masyarakat yang senang dibodohi. Seharusnya dengan semakin pesatnya perkembangan jaman, semakin menuanya usia Indonesia, kita semua harus meninggalkan mindset bahwa orang bule itu adalah orang hebat, orang keren, kastanya di atas kasta masyarakat lokal, dll. Sudah saatnya kita semua lepas dari pengaruh ras kulit putih yang sebenarnya sama dengan kita semua, tidak ada yang berbeda.

Coba pikir, disaat kalian membanggakan bule, mengistimewakan mereka, menjadikannya selebgram bahkan artis, apakah orang Indonesia akan diperlakukan sama ketika sedang di negara lain? Sampai kapan negara ini masih terus saja mempertahankan mental jongos? Sudah saatnya kita berani menindak 'bule gembel' dan bule-bule lain yang melanggar peraturan ataupun adat istiadat beserta norma-norma yang ada di Indonesia. Siapa kita??????? Jongos!