Mohon tunggu...
Hara Nirankara
Hara Nirankara Mohon Tunggu... Penulis Buku

Kadang seperti anak kecil.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Bercumbu dengan Buku

12 Juni 2019   14:45 Diperbarui: 12 Juni 2019   15:03 0 2 1 Mohon Tunggu...

Banyak yang perlu kita ketahui, mengenai dunia ini. Apa saja yang ada di dalamnya, intrik apa saja yang biasanya terjadi. Sesumbar dengan apa yang kita ketahui tidaklah baik. Sesumbar dengan apa yang kita baca juga tidaklah baik. Namun apa salahnya mencoba? Sesuatu yang kita anggap remeh tidak selalu seperti apa yang kita duga. Wiji Tukhul pernah berkata, "kamu calon konglomerat ya, kamu harus rajin belajar dan membaca, jangan ditelan sendiri. Berbagilah dengan teman-teman yang tak mendapat pendidikan".

Membaca bukan hanya soal membaca, tapi memahami. Dan yang paling penting ialah menginterprestasikan. Mungkin banyak di antara kita yang gemar membaca, hobi mengkoleksi buku-buku. Tapi sangat sedikit jumlahnya di antara kita yang mau untuk berbagi. Kadangkala ketika ada seseorang yang ingin meminjam buku yang kita punya, kita ragu. Kita lebih takut buku yang kita punyai rusak bahkan hilang. Tapi itu merupakan hal yang lumrah, tapi jangan dijadikan kebiasaan.

Jika bukumu rusak karena dipinjam, jangan marah. Marahlah ketika kamu tidak meminjamkan. Karena itu sama saja dengan egois. Setidaknya bukumu yang rusak dikarenakan temanmu membacanya, membukanya, halaman per halaman. Setidaknya temanmu mendapatkan ilmu dari buku yang ia pinjam. Itu yang lebih penting. Menjadi sabar memanglah susah, tapi kamu akan terbiasa dengannya.

Dibilang Soekarnois, bukan. Dibilang Soehartois, juga bukan. Dibilang Marxist, bukan juga. Saya termasuk tipe orang yang melahap segalanya. Karl Marx, Emile, Karen, Russell, Gus Dur, Sa'ad dan beberapa penulis esai dari dalam negeri dan luar negeri. Mungkin itulah kenapa saya menjadi pelupa. Judul buku, quotes, penulis bahkan apapun yang berkaitan dengan mereka. Ketika ditanya "buku apa saja yang sudah kamu baca", pasti saya akan kelimpungan. Bukan hanya buku, artikel pun sering saya baca dan siapa nama penulisnya, tidak terlalu saya amati bahkan tidak saya hafalkan. Saya langsung ke isi, bercumbu dengan barisan-barisan itu.

"Kalau kita membaca buku yang sama dengan buku yang dibaca dengan orang lain, kita cuma bisa berfikir seperti orang lain", celoteh Haruki Murakami dalam Norwegian Wood-nya. Setidaknya saya membaca buku apa yang saya suka, bukan apa yang orang lain suka. Saya tidak suka mempelajari atau membaca sebuah buku yang ditulis oleh satu orang saja. Karena bagi saya, itu akan menempatkan saya di dalam tembok besar persegi. Yang saya perlu lakukan adalah mencerna setiap buku yang saya punya, tidak peduli siapa penulisnya, tidak peduli apa agamanya, tidak peduli apa ras-nya dan tidak peduli, apakah dia percaya kepada Tuhan atau tidak.

Ketika saya sedang membaca bukunya Bertrand Russell yang berjudul "berTuhan tanpa agama", ada yang bertanya kepada saya, "apa kamu ingin menjadi teroris dengan membaca buku yang seperti itu?" Saya hanya bisa tersenyum sambil berkata "saya hanya ingin memahami sudut pandang dari Russell. Bagaimana pandangan dia tetang agama dan Tuhan". Orang itu hanya terdiam dan melanjutkan makannya. 

Lalu orang yang ada di sebelahnya juga bertanya, "itu buku tentang apa dan jenis buku apa". Saya menjawab, "ini buku filsafat". Orang tersebut hanya manggut-manggut. Dan ketika mereka berbincang, membicarakan tentang aktivitas pekerjaan mereka. Orang yang kedua tadi bertanya lagi, "kalau dalam filsafat, sikap yang saya ambil berkaitan dengan apa?". "humanisme". Jawab saya. Orang kedua tadi tersenyum lebar sambil membusungkan dada. Sungguh pemandangan yang membuat saya keheranan.

Ada lagi. Ketika saya membaca bukunya Syaikh Abu Mush'ab As-Suri yang berjudul Balada Jihad Aljazair, ayah saya kaget dan berkata, "kamu mau pergi jihad? Kamu mau gabung sama isis?" Saya yang rada gugup, menjelaskan kepada ayah saya, "justru ini yang mengungkap kebusukan para muhajid palsu di timur tengah." Jawab saya. Ayah yang mendengar jawaban dari saya lantas berubah menjadi lebih santai. Beliau sangat sayang kepada saya, dan beliau juga tidak ingin saya salah langkah.

Ada lagi. Ketika saya membaca bukunya Zaini Rahman dan Drs. Baharuddin Ahmad yang berjudul Fiqih Nusantara dan Eksistensi, Implementasi Hukum Islam Di Indonesia, ada yang menyambar dan berkata, "wuihh kamu ingin menjadi wahabi yang suka mengkafirkan?". Saya pun menjawab, "loh ini buku justru yang mematahkan argumen dari para wahabi tersebut. Di dalam buku ini dijelaskan tentang peng-adobsi-an hukum-hukum Islam yang ada di Indonesia. justru hukum di negara kita bersumber dari hukum Islam. Jadi argumen wahabi yang mengatakan thaghut terpatahkan dengan dua buku ini."

Kemudian dia menjelaskan kepada saya tentang wahabi yang dimaksud, siapa pendirinya, bagaimana cara mainnya. Padahal ia hanya seorang tukang ojek pengkolan, namun wawasan dia sangat luas, kebetulan ia merupakan teman dari kakak saya. Orang yang sama dikemudian hari kaget untuk yang kedua kalinya ketika saya membaca naskahnya Faiza Mardzoeki yang diadaptasi dari An Enenmy of the People karya Henrik Ibsen. Dia tidak banyak berkata, seingat saya, dia hanya berkata "lawan, lawan, lawan". Saya hanya melirik sambil tersenyum.

Lalu ada lagi, beliau, kalau tidak salah ingat lulusan S2, ilmu apa , saya lupa. Yang pasti beliau berumur kisaran kepala 6. Dia berkata kepada saya yang intinya menanyakan apa alasan saya membuka perpustakaan jalanan, mengoleksi buku-buku, ilmu apa yang sedang saya tempuh dan buku apa yang paling saya suka. Setelah saya menjelaskan tentang semuanya, termasuk bidang studi yang saya ambil. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2