Mohon tunggu...
HIMIESPA FEB UGM
HIMIESPA FEB UGM Mohon Tunggu... Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada

Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi (HIMIESPA) merupakan organisasi formal mahasiswa ilmu ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada DI Yogyakarta.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Westeros dan Paradoks Industrialisasi

12 Mei 2019   20:15 Diperbarui: 12 Mei 2019   20:40 0 0 0 Mohon Tunggu...
Westeros dan Paradoks Industrialisasi
Oleh: Yusuf Fajar Mukti (Ilmu Ekonomi 2017), Staf Ahli Departemen Kajian dan Penelitian Himiespa FEB UGM

Oleh: Yusuf Fajar Mukti (Ilmu Ekonomi 2017), Staf Ahli Departemen Kajian dan Penelitian Himiespa FEB UGM 

"When you play the game of thrones, you win or you die. There is no middle ground."

Cersei Lannister (A Game of Thrones, Bab 45 : Eddard XII)

Serial televisi Game of Thrones telah memasuki musim ke delapan. Perang perebutan tahta yang sesungguhnya telah dimulai efektif sejak kekalahan bala tentara Night King (Salah satu musuh utama) pada episode ke-tiga yang lalu. Sekilas, dinamika persaingan antarpihak berjalan normal dan sesuai ekspektasi. Namun, di tengah hiruk pikuk intrik politik dan adu senjata yang terjadi antarpasukan kerajaan di benua Westeros (sebutan untuk benua fiksi di dalam cerita), terdapat masalah fundamental yang secara langsung berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup jangka panjang rakyat di daratan tersebut pasca konflik besar yang sedang terjadi, yaitu perihal progres teknologi dan pertumbuhan ekonomi. Apabila melihat masifnya intensitas persaingan antarkerajaan serta geografi wilayah mereka yang hanya dibatasi oleh dinding, rasanya cukup janggal untuk terjadi absensi inovasi teknologi yang dapat menangkal ancaman terbesar dalam medan tempur seperti naga (semisal dengan penciptaan helikopter atau rudal balistik), mengingat hewan tersebut sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Lyman Stone, ekonom dari Institute for Families Studies (AEI) mengatakan bahwa Westeros mengalami pekembangan teknologi yang lamban selama 8.000 tahun terakhir, yaitu hanya "satu inovasi dalam seribu tahun." Di dunia nyata, manusia (Homo sapiens) telah mengalami bebagai rangkaian revolusi teknologi yang signifikan hanya dalam 6.000 tahun terakhir, terutama sejak diciptakannya sistem tulisan di Sumeria pada tahun 3.200 SM yang lalu. Lantas, hal apa yang dapat menjelaskan ketidakmampuan rakyat di benua Westeros dalam mencapai revolusi serupa? 

Sistem Sosial dan Ekonomi

Struktur perekonomian Westeros pada dasarnya analog dengan eropa abad pertengahan, yang dicirikan dengan kegiatan pengekstrasian bahan mentah dari alam: seperti emas, baja, dan besi, serta pertanian subsisten skala kecil yang sporadis. Sistem stratifikasi sosial secara umum mencakup lahan yang dimiliki beberapa tuan tanah (landlord) dan digarap oleh banyak rakyat jelata (peasant). Kaum bangsawan, melalui pegawai istana (Noble/lord) dan Ksatria (Knight) menarik pajak dari rakyat sebagai imbal dari jasa perlindungan yang diberikan. Porsi sektor manufaktur tidak signifikan, dengan didominasi hanya oleh jenis barang-barang produksi tertentu seperti lilin, anggur fermentasi (wine), senjata berat, dan tekstil manual. Dalam sosiologi, kondisi tersebut dikenal dengan istilah sistem sosio-ekonomi feodalisme. 

Untuk mendapatkan gambaran utuh terkait perkembangan perekonomian Westeros, kita akan menggunakan kasus negara di dunia nyata yang secara struktural memiliki kemiripan. George R. R. Martin, penulis utama novel dari serial tersebut mengungkapkan bahwa keseluruhan alur di dalam narasi cerita sebagian besar merujuk pada sejarah Perang Mawar (War of The Roses) yang terjadi di tanah Inggris sekitar tahun 1455 -- 1487 Masehi. Oleh karena itu, jejak historis negara Ratu Elizabeth sekiranya dapat merepresentasikan serangkaian momen yang terjadi di Westeros. Grafik berikut menampilkan perkembangan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Inggris sejak tahun 1270 M hingga tahun 2015 

Sumber: Bank of England (2017)
Sumber: Bank of England (2017)
Apabila dibandingkan dengan perkembangan dua abad terakhir (1800 -- 2000), beberapa abad sebelumnya hampir tidak mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam rasio jangka panjangnya (long-run growth). Angus Maddison (2017) mengestimasi bahwa secara rata-rata, pertumbuhan ekonomi di wilayah eropa barat selama rentang tahun 1000 -- 1500 Masehi adalah sebesar 0,3% per tahun. Pada tahun 1270 hingga 1650, PDB per kapita Inggris sebesar 1.050 apabila dihitung dengan tingkat harga US Dollar tahun 2011. Setelah itu, nilai per kapita penduduk meningkat 29 kali lipat hingga mencapai 30.000 hanya dalam beberapa generasi. Artinya, rata-rata pendapatan penduduk Inggris masa sekarang dalam dua minggu, setara dengan besaran pendapatan penduduk Inggris di abad pertengahan selama setahun. Pola yang sama juga terlihat pada grafik total pertumbuhan PDB dunia dalam dua milenium terakhir yang ditunjukkan pada grafik berikut.

Sumber: Maddison, 2017
Sumber: Maddison, 2017
Secara umum, kedua grafik menunjukkan bahwa pertumbuhan signifikan terjadi hanya ketika dimulainya revolusi industri pada akhir abad ke-17, yang mana pertumbuhan ekonomi didorong oleh perkembangan teknologi dan peningkatan produktivitas. Sebelum itu, pola pertumbuhan ekonomi lebih didorong oleh faktor pergerakan populasi suatu wilayah, bukan berbasis inovasi. Pertumbuhan ekonomi sebelum era revolusi industri bercirikan zero-sum game, yaitu kondisi total output yang konstan di dalam perekonomian, di mana satu-satunya cara untuk menumbuhkan skala ekonomi adalah dengan cara merampas sumber daya dari wilayah lain atau menambah populasi dengan cara meningkatkan birth-to-mortality rate (rasio tingkat kelahiran berbanding tingkat kematian). Hal tersebut dibuktikan dengan peningkatan sementara PDB per kapita Inggris pada awal abad ke-14 yang disebabkan oleh penurunan setengah populasi Inggris dalam tiga tahun (1348 -- 1351) selama kejadian wabah pes (black death) yang tersebar di hampir seluruh wilayah eropa (Roser et al, 2019). Penduduk yang selamat dari wabah setelahnya memiliki daya tawar yang kuat, dikarenakan jumlah supply labor yang sedikit sehingga menikmati kenaikan pendapatan per kapita. Namun, kondisi tersebut hanya sementara, serta akan hilang seiring dengan pertumbuhan jumlah populasi 

Prasyarat Revolusi Industri

Telah menjadi rahasia umum bahwa revolusi industri adalah salah satu tonggak sejarah yang mengeluarkan umat manusia dari stagnansi ekonomi abad pertengahan. Namun, faktor apa yang mendorong suatu wilayah untuk mencapai kondisi tersebut?

Dalam Lectures on Jurisprudence, Adam smith (1762) mengatakan bahwa transformasi sistem feodalisme menjadi masyarakat komersial (commercial society) besar dipengaruhi oleh sistem politik yang berlaku di suatu wilayah dan derajat kekerasan (violence). Untuk menciptakan iklim ekonomi yang ideal, dibutuhkan sistem politik yang terintegrasi serta tersentralisasi, guna menjamin penegakkan hukum terhadap pihak-pihak yang melanggar aturan main dalam kegiatan ekonomi sehingga memberikan insentif kepada seluruh pihak untuk meningkatkan produktivitas. Selain itu, derajat kekerasan juga merupakan salah satu faktor yang menghambat pertumbuhan ekonomi. Kekerasan dalam konteks ini dapat berupa pemberlakuan hukum yang diskriminatif terhadap rakyat jelata, opresi pihak yang berwenang, intrik politik antarbangsawan, maupun perang antarkerajaan. Keempat hal tersebut merupakan fenomena sosial yang cukup wajar ditemukan di kehidupan eropa abad pertengahan maupun Westeros. Bukan sebuah kebetulan bahwa kejatuhan Imperium Romawi pada abad ke-5 Masehi menandakan permulaan dari abad pertengahan yang dicirikan dengan stagnansi pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut disebabkan oleh hilangnya pemerintahan yang tersentralisasi sehingga menyebabkan dataran eropa dikuasai oleh kerajaan -- kerajaan independen yang saling beperang satu sama lain. Dalam serial Game of Thrones, kasus serupa terjadi ketika kematian Raja Robert Baratheon yang memicu Perang Lima Raja (War of The Five Kings) dan sebelum kedatangan Bangsa Valyria di benua Westeros. Dalam kondisi tersebut, pemilik tanah tidak terinsentif untuk membuka lahan guna memproduksi hasil pertanian dikarenakan probabilitas dirampas oleh berbagai komunitas ksatria atau pihak berwenang yang tinggi sehingga akumulasi kapital dan modal tidak dimungkinkan. Absennya akumulasi modal menyebabkan kegiatan investasi pada inovasi teknologi menjadi sukar, yang pada akhirnya menghambat perkembangan teknologi dan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, pemerintah yang sedang berada dalam kondisi perang berkelanjutan akan mengalokasikan seluruh sumber daya untuk menunjang kemenangan, termasuk dengan menarik pajak yang tinggi dari penduduk di wilayah kekuasaannya. Pemerintah dalam kondisi tersebut tidak terinsentif untuk mengalokasikan dana untuk penyediaan fasilitas yang menunjang produktivitas ekonomi penduduknya. Smith menyebut kondisi itu dengan violence trap

Secara historis, eropa barat dapat keluar dari violence trap dengan koalisi antara raja dan kota-kota kecil (town) di sekitar wilayah kerajaan yang intensif. Raja mengadakan kontrak politik dengan pedagang-pedagang di kota-kota kecil setempat dengan memberikan otonomi (self-governance), perdagangan bebas, dan perlindungan dari perompak dan invasi kerajaan lain (Weingast, 2016). Sebagai gantinya, raja menarik pajak atas hasil ekonomi di kota tersebut pada tarif yang telah dinegosiasikan. Dengan diberikannya perlindungan dan otonomi, penduduk di kota kecil mendapatkan jaminan atas keamanan aset mereka sehingga terinsentif untuk berkegiatan ekonomi yang produktif. Kemudian, masing-masing dari kota kecil tersebut mempunyai perwakilan di istana kerajaan untuk sebagai saluran aspirasi politik mereka dalam pembentukan hukum yang adil terhadap semua wilayah serta membatasi kekuasaan absolut raja. Seperti yang terjadi di Inggris pada masa Glorious revolution tahun 1688, yang mengukuhkan status parlemen sebagai lembaga eksekutif serta menandai awal dari sistem pemerintahan monarki konstitusional Inggris. Selanjutnya, iklim politik yang inklusif dan konstitusional tersebut mengantarkan pada lahirnya gelombang revolusi industri pertama di tanah Inggris pada beberapa dekade setelahnya (tahun 1760).

Kesimpulan

Alur cerita pada serial televisi Game of Thrones merupakan salah satu narasi fiksi yang menggambarkan kehidupan masyarakaat eropa abad pertengahan dengan kadar realisme yang tinggi dengan sedemikian rupa sehingga cukup banyak terdapat unsur-unsur kehidupan yang paralel dengan kehidupan di dunia nyata, tidak terkecuali unsur ekonomi. Kondisi zero-sum game menyebabkan sulitnya aliansi antarkerajaan untuk berkoordinasi membentuk iklim sosial dan ekonomi yang stabil sehingga barangkali hal tersebutlah yang menginspirasi perkataan Cersei Lannister di kutipan bagian awal tulisan, "either win or die, there is no something in between."

Episode sejarah eropa dipenuhi oleh konflik yang berkepanjangan antarpihak satu dengan pihak lainnya. Konflik politik berkepanjangan dan berbagai momentum sejarah telah berkontribusi dalam pembentukan sistem pemerintahan yang inklusif dan berkelanjutan di eropa, terutama di negara-negara eropa barat. Dengan kondisi sosial dan ekonomi serupa, akankah perang akhir di season delapan serial Game of Thrones akan berakhir ke pembentukan pemerintahan yang demokratis dan dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi Westeros? atau pemerintahan absolut yang hanya berganti rezim?

Kritik dan Saran: Himiespa.dp@gmail.com

Referensi

Gregory Clark and Patricia Levin (2001) -- "How Different Was the Industrial Revolution? The Revolution in Printing, 1350--1869." Working Paper, University of California, Davis.

Martin, George R. R. (2011, c1996) A game of thrones : book one of A song of ice and fire New York : Bantam Books,

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2