Mohon tunggu...
Hidayat Syahputra
Hidayat Syahputra Mohon Tunggu... Wiraswasta - Merajut

"Sekali Berati Sudah Itu Mati". "Tindakan Adalah Pelaksanaan Kata-kata". Kata-kata yang keluar dari rahim kandung dua tokoh besar bangsa Indonesia Yaitu Chairil Anwar dan Ws. Rendra ini sangat mengilhami diri saya, bahwa hidup yang hanya sekali ini harus memberi arti/bermanfaat, dan tindakan diri haruslah sesuai dengan kata-kata yang diucapkan dan atau kata-kata harus seusai dengan tindakan yang dilaksanakan.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Kita adalah Penerus Perjuangan Bangsa

9 November 2018   21:21 Diperbarui: 9 November 2018   21:52 264
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Mengapa setiap tanggal 10 November diperingati Hari Pahlawan Nasional ? Hal ini dilatar belakangi oleh peristiwa penting yang terjadi di Surabaya pada tanggal 10 November 1945, tentara Sekutu Inggris mulai menggempur Surabaya dengan seluruh armada darat, laut, dan udara. Pemboman secara brutal di hari pertama telah menimbulkan korban yang sangat besar. Di pasar Turi, ratusan orang tewas dan luka-luka.

Inggris juga berhasil menguasai garis pertama pertahanan rakyat Surabaya. Rakyat Surabaya tidak tinggal diam, mereka melakukan perlawanan atas serangan tersebut. Pertempuran yang tidak seimbang selama tiga minggu telah mengakibatkan sekitar 20.000 rakyat Surabaya menjadi korban, sebagian besar adalah warga sipil.

Selain itu, diperkirakan 150.000 orang terpaksa meninggalkan kota Surabaya, yang hampir hancur total terkena serangan Sekutu. Sementara di pihak Inggris tercatat 1.500 tentara Inggris tewas, hilang, dan luka-luka.

Pertempuran terakhir terjadi di Gunungsari, pada tanggal 28 November 1945, namun perlawanan secara sporadis masih dilakukan setelah itu. Pertempuran Surabaya berakhir dengan kekalahan pihak Indonesia.

Akan tetapi, perang tersebut membuktikan bahwa rakyat Indonesia rela berkorban demi mempertahankan kemerdekaan mereka, meskipun harus dibayar dengan nyawa. Sebagai penghormatan atas jasa para pahlawan yang dengan berperang dengan gigih melawan Sekutu di Surabaya, tanggal 10 November 1946 Soekarno menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Peristiwa tersebut menggambarkan betapa heroik dan kesatrianya bangsa Indonesia, hal ini tergambarkan dari semangat pantang menyerah untuk membebaskan bangsa Indonesia, dengan Semboyan "Hidup atau Mati". Dan kini kita mampu menikmati indahnya kemerdekaan yang dipersembahkan oleh para pejuang/syuhada yang gugur dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia -- Kemerdekaan Kita.

Lantas bagaimana dengan kita saat ini?

Sudah kita menjadi generasi yang memiliki sikap pantang menyerah, pantang berputus asa, memiliki tekad yang kuat dan rela berkorban seperti para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk kemerdekaan bangsa Indonesia-kemerdekaan kita.  Atau kita masih menajdi generasi milenial yang  skeptis, psimistis atau generasi yang individualistis.

Sebagaimana tema yang diusung pada peringatan Hari Pahlawan tahun 2018 ini yaitu "Sematkan Semangat Pahlwan Didadaku". Dengan itu mari kita tumbuhkan semangat para pahlawan kusuma bangsa di diri kita. Tentunya berbeda perjuangan kita dengan perjuangan mereka, jika meraka berjuangan melawan para penjajah dengan mengangkat senjata, hari ini kita berperang melawan mental kerdil kita yang mengangap kita adalah bangsa yang terbelakang.

Sehingga kita merasa rendah diri, tidak percaya diri dengan kemampuan diri dan yang dimiliki bangsa ini.  Paradigma yang terbangun ini, sering kali membuat kita berpikir bahwa apa-apa yang berasal dari luar negeri ini adalah baik, dan apa-apa yang berasal dari bangsa ini tidak baik atau kita kurang bangga apa yang kita miliki itu. Tentunya ini menjadi preseden buruk bagi bangsa Indonesia, menjadikan kita bangsa yang tidak memiliki karakter dan akan selalu menajdi bangsa pecundang dimata dunia internasional.

Sikap patang mundur, pantang menyerah dan percaya terhadap kemampuan diri adalah semangat yang dicontohkan para pahlawan, dan kita sebagai generasi bangsa harus senantiasa menamkan itu pada diri kita sebagai motor penggerak membangkitkan semangat kita untuk terus berbuat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun