Mohon tunggu...
Hermudananto
Hermudananto Mohon Tunggu... Traveller and Nature Lover

Being an academician is his main role at the university, however teaching and learning about nature is the most important value for him. Spreading happiness and inspiration to people are one of his pleasures. Detail Bio: https://acadstaff.ugm.ac.id/Hermu

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Kenapa sih, Studi kok Sampai ke Amerika Serikat?

13 Agustus 2020   23:16 Diperbarui: 13 Agustus 2020   23:26 107 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kenapa sih, Studi kok Sampai ke Amerika Serikat?
Sumber gambar: Berkuliah.com

Jika di lihat dari globe (bola yang menggambarkan peta Bumi), posisi Amerika Serikat persis di belakang Indonesia, sehingga keduanya memiliki perbedaan waktu sekitar 12 jam. Di sana siang, di sini malam, begitu juga sebaliknya...

Begitulah tantangan komunikasi jarak jauh dengan perbedaan waktu tersebut pernah saya alami selama dua tahun lamanya ketika studi S2 di University of Florida tahun 2015-2017, di saat yang bersamaan istri saya juga sedang menempuh pendidikan di jenjang yang sama di Institut Pertanian Bogor, karena beasiswa saya saat itu belum mencakup tunjangan untuk keluarga, but life must go on...

Setidaknya ada 5 (lima) alasan saya saat itu memutuskan untuk memberanikan diri berangkat studi sendirian ke Negeri Paman Sam:

(i) Pengetahuan dan teknologi yang mutakhir.

Dipikiran saya saat itu simpel, yaitu perusahaan-perusahaan raksasa kelas dunia seperti Microsoft, Apple, Intel, Amazon serta sosial media yang saya mainkan sehari-hari untuk berjejaring atau silaturahmi hampir semua rasanya kok dikuasai oleh Mas Mark Zuckerberg (misalnya, Facebook, Messenger, Instagram, WhatsApp) yang bermarkas di Amerika Serikat.

(ii) Kualitas pendidikan yang tidak diragukan.

Sederhananya, melihat daftar Times Higher Education--QS World University Rankings, salah satu pemeringkat kampus-kampus dunia berdasarkan kriteria tertentu, menempatkan setengahnya dari 10 kampus terbaik dunia ada di Amerika Serikat (periode 2021), seperti Massachusetts Institute of Technology (MIT), Stanford University, Harvard University, California Institute of Technology (Caltech), University of Chicago. Belum lagi kampus yang dinobatkan sebagai Ivy League. 

Untuk saya, tidak perlu muluk-muluk, yang penting bisa studi di sana dengan pembimbing akademik yang sesuai dengan bidang saya tentunya di Kehutanan. 

Alhamdulillah dapat seorang distinguished professor (h-indeks 81) yang sangat pas dengan bidang saya saat ini di pengelolaan hutan lestari, khususnya reduced-impact logging.

(iii) Kesempatan yang sangat luas untuk penelitian, pengajaran dan karir.

Kuncinya adalah niat, semua peluang terbuka sangat lebar, tidak terkecuali seorang minoritas seperti saya saat di sana (Muslim Asia). 

Saya beruntung dapat kesempatan magang di Dinas Kehutanan Florida (Florida Forest Service) ketika menjadi mahasiswa S2 di sana, serta mendapatkan beberapa grant untuk konferensi secara gratis (misalnya, Society of American Foresters, Sustainable Forest Initiative, Tropical Coservation and Development). 

Bahkan dana penelitian yang sangat besar di Amerika Serikat yaitu National Science Foundation (NSF) bisa kita akses. But, time constraint somehow always a reason...

(iv) Jaringan kolega multikultural.

Bayangkan teman kuliah dari berbagai negara dapat kita jumpai di kampus, setidaknya itu yang saya alami di kota Gainesville, Florida, yang mayoritas mahasiswa internasionalnya berasal dari Amerika Latin, namun juga tidak sedikit yang berasal dari Eropa, Afrika, dan Asia (dominasinya teman-teman dari Cina dan India). 

Tentu saja, selain bertukar pikiran secara akademis, kita juga bisa belajar kebudayaan mereka (biasanya melalui makanan). Teman satu lab saya berasal dari Brazil, Argentina, Guyana.

(v) Last but not least, Travelling, yeay!

Dari televisi yang saya tahu ketika masih kecil, banyak sekali tempat-tempat terkenal di Amerika Serikat, dan itu merupakan motivasi terkuat saya untuk studi di sana. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x