Mohon tunggu...
Herman Efriyanto Tanouf
Herman Efriyanto Tanouf Mohon Tunggu... Menulis puisi, esai, artikel lepas

Bergiat di Komunitas LEKO Kupang

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Suara dan Celah Perjuangan Menuju Feminisme

2 Agustus 2019   20:29 Diperbarui: 3 Agustus 2019   10:51 0 9 1 Mohon Tunggu...
Suara dan Celah Perjuangan Menuju Feminisme
Ketika perempuan diberi keluasaan dalam bersuara. (Ilustrasi: Ingunn Dybendal)

Refleksi atas Puisi "Orang Tiada" karya Dhenok Kristianti

Membaca puisi Orang Tiada karya Dhenok Kristianti (Penyair kelahiran Yogyakarta, 25 Januari 1961), saya seolah 'diminta' untuk memposisikan diri sebagai perempuan, terlepas dari penyairnya yang adalah seorang perempuan. 

Dalam posisi ini, saya menggunakan istilah reading as a women  (membaca sebagai perempuan) yang dicetuskan oleh Culler. Dalam artian, membaca dengan kesadaran membongkar praduga dan ideologi kekuasaan laki-laki yang patriarkat (Sugishastuti dan Suharto, 2005: 19).

Konsep lainnya, reading as a women menghendaki pembaca (peneliti) dalam memahami karya sastra harus menggunakan kesadaran khusus, yaitu kesadaran bahwa jenis kelamin banyak berhubungan dengan masalah keyakinan, ideologi, dan wawasan hidup (Suwardi Endaswara, 2008: 147). 

Asumsi ini berkaitan erat dengan kritik sastra feminisme. Sebelum menelaah lebih jauh tentang Orang Tiada, saya memaparkan beberapa konsep kritik sastra feminisme yang mendasari ulasan ini.

Sholwalter (dalam Sugihastuti dan Suharto, 2005: 18) menandaskan bahwa dalam ilmu sastra dan feminisme ini berkaitan dengan konsep kritik sastra feminis, yaitu studi sastra yang mengarahkan fokus analisanya pada perempuan. Jika selama ini kebanyakan orang beranggapan bahwa yang memiliki pembaca dan pencipta dalam Sastra Barat ialah laki-laki.

Di sini, kritik sastra feminis menunjukkan bahwa perempuan membawa persepsi dan harapan ke dalam pengalaman sastranya. Konsep ini didasarkan pada Sastra Barat dikarenakan kritik feminisme berawal dan berkembang di sana. 

Naomi Wolf, seorang feminis dari Amerika, sebagai era baru bagi perempuan, atau ia menyebutnya era geger gender, era kebangkitaan perempuan.

Gema kebangkitan itu memang terus berkembang hingga saat ini. Di berbagai belahan dunia, perempuan mulai bangkit, mempertanyakan dan menggugat dominasi dan ketidakadilan yang terjadi dalam sistem patriarkhi. 

Perempuan selama ini memang telah mengalami subordinasi, represi, dan marjinalisasi di dalam sistem tersebut di berbagai bidang termasuk bidang sastra.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
KONTEN MENARIK LAINNYA
x