Mohon tunggu...
Herlin Variani
Herlin Variani Mohon Tunggu... Guru - Penulis Parents Smart untuk Ananda Hebat, Motivator generasi milenial, Guru

Penulis Parents Smart untuk Ananda Hebat, Motivator generasi milenial, Guru

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Si "Nakal" Menawan Hati Bu Guru

11 Agustus 2021   17:55 Diperbarui: 12 Agustus 2021   14:09 141 7 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Si "Nakal" Menawan Hati Bu Guru
Dokpri. Penulis Parents Smart untuk Ananda Hebat

"Kau sungguh nakal. Mau jadi apa di masa depan kelak?" 

Kalimat berkonotasi negatif seperti ini kadang dengan sadar terlontar dari lisan orang dewasa untuk anak-anak yang kerap berprilaku tak sesuai harapan. Benarkah anak-anak yang terkadang bersikap kurang sedap dipandang mata ini pasti memiliki kepribadian buruk? Apakah mereka memang pantas dicap negatif berkepanjangan. Belum tentu demikian duhai sahabat pembaca.

Sudah lebih sepuluh tahu saya berprofesi sebagai seorang guru. Melihat begitu bervariasinya corak perilaku siswa. Sebagai manusia biasa tentu kita akan selalu nyaman dengan prilaku siswa yang santun, penurut, cerdas dan cepat tanggap dengan segala intruksi kebaikan dan bernilai edukasi yang kita berikan.

Begitu pun dengan saya kala itu. Begitu cepat akrab dengan siswa yang selalu patuh dan setia memperlihatkan senyum manisnya di kelas. Tak pelak lagi, otomatis mereka menjadi skala prioritas dalam segala aspek. Apalagi jika mereka dengan entengnya memahami segala materi pelajaran yang kita paparkan. Duh, ini membuat mereka semakin memiliki tempat istimewa di hati guru-guru mereka. Begitu pun halnya dengan saya.

Saat itu dengan sangat sadar saya mulai bersikap keliru kepada bocil-bocil imut ini. Anak-anak yang terlihat nakal apalagi  gelar badung telah melekat pada diri mereka dari masa ke masa mulai terpinggirkan secara perhatian. 

Mereka ternomor duakan. Dengan sadar sebagai seorang guru saya mulai kurang objektif. Mengukur siswa dengan standar rasa kenyamanan dan akademik semata. Seolah lupa bahwa generasi dan peradaban gemilang tak dibangun dengan pondasi perasaan dan nilai akademik semata.

Tak berselang lama, Allah memberikan teguran cintanya kepada saya. Hati begitu terluka melihat cueknya sikap beberapa orang alumni siswa sekolah tempat saya mengajar ketika berpapasan di jalan. Mengapa demikian? Sebab sikap cuek ini datang dari siswa yang dulunya begitu penurut dan prestasi akademiknya membuat majelis guru di sekolah menuai kebahagiaan dan kebanggaan. Komunikasi kami sangat intens dan akrab di masa silam.

Namun setelah mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya mereka seolah lupa bahwa kami pernah mengukir sejarah dalam bingkai pendidikan formal. Proses kebersamaan yang terjalin dalam menyemai benih-benih ilmu pengetahuan ini tak sekejap mata. Melainkan enam tahun dan itu nyaris tanpa jeda. Tentu saja sikap cuek mereka cukup mengejutkan hati.

Tak demikian halnya dengan siswa yang sering mendapat sebutan nakal di sekolah. Walau di masa sekolah mereka kerap mendapat teguran dan hukuman dari guru atas kesalahannya, malahan mereka tetap bersikap santun pada kami. Menyapa kami para gurunya dengan penuh kehangatan kala berpapasan di jalan walau tak lagi menggunakan seragam merah putih. Bahkan dengan lancar mereka bertanya kabar sang guru dan berbagi cerita tentang aktifitasnya saat ini.

Tanpa disadari, dengan senang hati mereka masih membukakan peluang pada guru di masa lalunya ini untuk tetap dapat berbagi nasehat dan menyemai benih-benih kebaikan pada mereka. Hal ini melahirkan rasa haru tiada tara hingga tanpa sadar bulir-bulir bening pun berselancar di pipi yang sudah mulai terukir garis-garis penuaan ini.

Terlihat dengan jelas bahwa tiada sedikit pun dendam yang terpancar dari netra mereka untuk guru yang kerap menegur mereka di masa silam. Dikejar rasa penasaran terkait fenomena ini, akhirnya terciptalah diskusi dengan para senior di sekolah dengan topik sikap siswa selepas mereka menyelesaikan pendidikan di sekolah tempat kita bertugas. Ternyata sebagian besar mengalami hal yang sama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan