Humaniora

Menghindarkan Islam dari Klaim Penafsiran Teror

7 Juli 2017   05:17 Diperbarui: 7 Juli 2017   05:18 95 0 0
Menghindarkan Islam dari Klaim Penafsiran Teror
Islam Rahmatan Lil Alamin - www.aswajaonline.com

Jika Anda sudah tidak percaya dengan kepala dan perasaan, maka Anda akan menjadi fatalistik. Dan fatalistik akan selalu menjadi sasaran emoh dalam perasaan umum masyarakat. Apatah lagi masyarakat di atas negara bernama Indonesia. Soal emoh ini, ternyata tak cukup dengan memalingkan muka. Karena yang fatal telah bergerak dengan cara yang "mencari perhatian." Kesadaran ini hanya mencari sesuatu untuk dijadikan martir.

Dalam hubungannya dengan klaim polisi yang menyebutkan oknum penikam dua anggota polisi Brimob di Mesjid Faletehan, tak jauh dari Markas Besar Polri di Jakarta, sempat mencicipi didikan ISIS di Filipina, maka fatalistiknya tidak harus dilihat dari sisi agama.

Dan Guru Besar Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Prof Bambang Pranowo, punya cara yang tepat untuk menggambarkan fatalistik semacam ini: "Orang yang melakukan teror itu tidak memahami secara benar ajaran agama. Kalau memahami ajaran Islam mereka pasti tidak akan melakukan itu karena dalam Islam membunuh orang hanya boleh karena ada peperangan. Kalau tidak dalam perang, membunuh satu orang itu dosanya sama dengan membunuh umat manusia."

Namun, kontra-argumen yang dilakukan sang profesor masih dalam upaya untuk membela Islam. Islam, dalam hal ini, harus ditamengi dari semacam penafsiran sebagaimana yang diklaim oleh para teroris. Perang narasi seperti ini hendak membawa kita dalam pertentangan dua bagian bak pertentangan hitam-putih. Islam, adalah narasi besar dalam polemik di mana umat Islam membantah penafsiran umat Islam lain yang mewujudkan keyakinan agamanya dengan melakukan teror. Mengapa kita tidak melihat bahwa oknum, atau teroris, hanya sebagai manusia biasa? Agama yang diklaim oleh sang teroris, dalam hal ini, adalah sebuah kepalsuan yang tidak sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh ajaran agama.

Sebagai warga negara Indonesia, menghadapi masalah ini seperti ini harus percaya pada sesuatu yang universal. Misalnya, pada sesuatu yang berlaku pada manusia manapun, tak peduli agama dan sukunya. Niscaya, fatalistik tidak akan membawa kita ke dalam sebuah irama klaim untuk mengelompokkan diri dalam agama dan suku tertentu. Manusia Indonesia, adalah manusia biasa, yang hidup dengan agama dan suku yang berbeda-beda.

Namun, Prof Bambang jelas ada benarnya. Dengan kapasitasnya sebagai intelektual di bidang Islam, sudah kewajibannya untuk melunakkan pedang dengan pemikiran. Maka, sosiolog Islam ini punya pendapat yang brilian untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang akademisi: "Konsep Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya dicetuskan oleh para pendiri bangsa ini, tetapi juga
 tercantum dalam Al Quran Surah Al Hujurat Ayat 13. Ayat itu berbunyi, 'Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.'

Nah, pemikiran jua yang bakal mengalahkan kebencian dan kekerasan. Dan perjuangan terbesar kita saat ini adalah menempatkan pemikiran itu di atas gelombang yang ingin memaksa kita menganggap Islam adalah prahara dalam teror. Di Indonesia, teror adalah teror. Dan Islam adalah Islam. Sealamiah perbedaan sebagai warisan potensial yang datang kepada sejak abad-abad lalu sebelum generasi ini lahir.