Mohon tunggu...
Hendro Santoso
Hendro Santoso Mohon Tunggu... Purnakaryawan

Seorang Kakek, hobi menulis hanya sekedar mengisi hari-hari pensiun bersama cucu sambil melawan pikun.

Selanjutnya

Tutup

Novel Artikel Utama

Ombak Putih Selat Sunda

20 Mei 2016   16:42 Diperbarui: 19 Februari 2020   15:00 683 12 7 Mohon Tunggu...
Ombak Putih Selat Sunda
Pantai Selatan Foto Hensa

Senja hari di Ujung Kulon menyisakan warna merah Sang Mentari yang terbenam di ufuk Barat sana. Ombak berbuih putih pantai Selat Sunda  datang dan pergi silih berganti membasahi setiap butir pasir yang membentang luas dari Utara ke Selatan. 

Pohon Nyiur melambai lambai seolah mengucapkan salam pada Mentari yang sebentar lagi akan hilang ditelan malam. Di ufuk Barat sanapun asap hitam gunung Krakatau masih setia membumbung seolah ingin menggapai langit.  

Seorang lelaki muda masih menyelesaikan gerakan-gerakan bela diri silat. Sesekali ombak laut menerpa tubuhnya yang kekar itu. Sementara di atas batu karang duduk Sang Guru dengan penuh wibawa memandu pemuda tersebut. 

Entah sudah berapa ratus jurus yang dilahapnya. Sang Guru yang kelihatannya sudah sepuh dengan rambut putih dan jenggot putih pula hanya manggut-manggut kagum pada kemajuan muridnya.

Hari itu adalah hari terakhir pemuda itu berguru di Padepokan Bayusuci. Esok harinya pemuda itu harus kembali pulang ke desanya. Perpisahan dengan Sang Guru seyogyanya sangat mengharukan namun Sang Guru tidak mau muridnya hanyut dalam rasa haru yang berlebihan.

“Sudahlah Nak jangan menangis. Aki mendoakan agar kamu mampu mengembara dan membela kebenaran” kata Sang Guru menyebut dirinya Aki yang artinya kakek. 

Sebenarnya nama Sang Guru itu adalah Kyai Furqon, seorang pemuka agama di daerah Anyer Kidul. Beliau adalah mantan prajurit perang Dipenogoro dan murid Kiyai Mlangi salah seorang ulama yang mendukung perjuangan Diponegoro melawan Kolonial Belanda di Boyolali. 

Saat itu para demang, bekel, kiai terkenal seperti Kiai Mojo, Kai Mlangi, Kiai Kwaron,Kiai Taptoyani, serta para ulama sahabatnya dari berbagai daerah menyokong gerakan perang yang dilakukan Pangeran Diponegoro melawan kesewenangan Kolonial Belanda.

“Iya Ki!” suara pemuda itu parau tersendat di kerongkongan menahan kesedihan harus berpisah dengan Sang Guru setelah lima tahun terakhir ini bersamanya. Namun perpisahan ini tidak bisa dielakan dan pemuda itu harus melangkah meninggalkan Padepokan Bayusuci dengan berat hati.    

Nama lengkap pemuda itu adalah Bayu Gandana. Rambutnya yang panjang dengan ikat kepala berwarna hitam nampak lusuh. Demikian pula pakaian yang dikenakannya menunjukkan bahwa pemuda ini baru saja melakukan perjalanan jauh. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN