Mohon tunggu...
Hendroo Lapantuju
Hendroo Lapantuju Mohon Tunggu... Guru - Berbagi inspirasi

Belajar bersyukur dan menikmati hidup

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Aksi Nyata 1.4 Budaya Positif

30 Juli 2021   08:10 Diperbarui: 30 Juli 2021   08:44 724
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Budaya Sopan Santun di Sekolah

Indonesia dikenal sebagai negara yang ramah dan masyarakatnya dikenal sopan sejak dahulu. Setiap orang saling menyapa, saling menghargai dan saling menghormati. Namun saat ini, budaya tersebut nampaknya mulai pudar bahkan mulai jarang terlihat. Banyak orang yang mulai acuh dengan orang-orang disekitarnya, tidak memiliki rasa hormat dengan yang lebih tua. Sebagian anak mulai  berani menentang  bahkan membentak orangtuanya dan juga gurunya. Bila dinasehati malah berani membantah bahkan mengeluarkan kata-kata kasar pada yang menasehatinya. Perilaku seperti ini cukup sering ditemui pada anak remaja. Hal tersebut menunjukkan bahwa sekolah sekarang ini lebih fokus untuk menciptakan generasi yang berintelektual namun lupa untuk membekali mereka dengan nilai-nilai akhlak yang mulia.

Ketika masih pembelajaran tatap muka sering ditemui pelajar yang kurang memiliki rasa hormat dengan gurunya seperti tidak menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar bahkan malah menggunakan Bahasa jawa ngoko. Ketika pembelajaran jarak jauh lunturnya sopan santun terlihat dari percakapan ketika pembelajaran, sebagian siswa sering lupa tiga kata sakti sopan santun yaitu maaf, tolong dan terimakasih. Bahkan salam dan sapa pun kadang tidak ada ketika percakapan maupun pengumpulan tugas.

Salah satu faktor penyebabnya adalah mereka tidak dibiasakan di rumah. Orang tua terkadang tidak bisa menjadi teladan bagi anaknya dalam berperilaku sopan dan santun terhadap orang yang lebih tua dan menghargai yang lebih muda. Sebagian dari  mereka tidak mengajari mereka unggah ungguh Bahasa (basa), bahkan ada orangtua siswa yang orang jawa tapi tidak bisa bahasa krama. Saya pernah berbicara dengan orangtua siswa ketika menjadi wali kelas menggunakan Bahasa krama tapi mereka berkata tidak bisa Bahasa krama. Bagi saya agak canggung juga, karena saya dibiasakan untuk menggunakan Bahasa krama dengan orang yang lebih tua. Tapi itulah kenyataan yang ada, Pendidikan tata krama dan kesopanan banyak yang tidak diberikan orangtua di rumah. Hal yang mungkin sederhana dan kecil namun karena tidak dibiasakan maka akan terbawa pada perilaku anak dimanapun.

Tujuan Pendidikan nasional berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkahlak mulya, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi seta bertanggungjawab”. Dari tujuan tersebut jelas bahwa Pendidikan karakter merupakan bagian dari Pendidikan di Indonesia. Tapi pada penerapannya di lapangan Pendidikan karakter tidak terintegrasi dengan baik dalam Pendidikan di sekolah.

Idealnya proses Pendidikan di sekolah mampu menghasilkan anak didik yang tak hanya mempunyai kompetensi bidang kognitif saja  namun seharusnya juga memiliki akhlak yang mulya. Berbekal akhlak mulia, anak akan berkembang menjadi anak yang baik dan memiliki karakter kuat untuk membangun nusa dan bangsa.

Pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama antara orangtua dan juga sekolah. Orangtua tidak bisa sepenuhnya membebankan Pendidikan anaknya hanya pada sekolah. Seperti apapun Pendidikan tata krama dan kesopanan yang diberikan di sekolah tanpa adanya dukungan dan pembiasaan dirumah akan terasa sia-sia saja. Oleh sebab itu, sekolah, orangtua dan masyarakat harus saling bekerjasama dalam mendidik anak supaya berkembang dapat membentuk karakter siswa yang kuat.

Untuk menumbuhkan Kembali budaya sopan santun di sekolah tidak dapat dilakukan oleh guru seorang diri. Diperlukan kolaborasi dan sinergi yang baik antar semua warga sekolah dalam pembiasaan budaya positif yang akan diterapkan. Semua harus komitmen dan disiplin dalam menerapkannya, karena semua komitmen yang diterapkan bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran individu. Dimulai dari diri untuk menumbuhkan disiplin diri dan menumbuhkan motivasi instrinsik untuk mewujudkan nilai tata krama dan kesopanan. Sehingga masing-masing akan sadar akan pentingnya budaya tersebut dan dengan rela hati menjalankan kebiasaan tersebut bukan karena ada konsekuensi ataupun hadiah dibalik semua itu.

 Pendidikan tata krama dan kesopanan dapat dimulai dari dalam kelas.  Yaitu melalui kegiatan belajar mengajar di kelas dan juga interaksi guru dengan murid. Interaksi guru dengan murid sebaiknya dilakukan dengan komunikasi dua arah. Apalagi  dalam PJJ, guru tidak bisa hanya menyampaikan informasi / materi terus sementara murid hanya mendengarkan dan mengerjakan tugas. Komunikasi yang baik perlu dilakukan guru dengan menyapa, menanyakan kabar, merespon dan memberikan apresiasi karya siswa. Komunikasi yang baik juga dilakukan dengan memberikan kesempatan untuk bertanya, merespon bahkan menyampaikan ide dan gagasannya. Hal tersebut akan menumbuhkan percaya diri pada murid karena merasa dihargai, dihormati dan didengarkan. Ketika murid mulai berani untuk bertanya maka akan menumbuhkan karakter bernalar kritis. Dari situ akan membangkitkan daya kreatifitas dan inovasi-inovasi dari murid. Sehingga karakter dan budaya santun, saling menghargai akan tumbuh dengan sendirinya yang berawal dari pembiasaan di kelas.

Upaya penguatan budaya sopan santun dan saling menghargai dapat dilakukan dengan strategi memanfaatkan dan menguatkan apa yang sudah membudaya di sekolah. Budaya positif yang sudah ada di sekolah kami adalah budaya saling menyapa dan salaman ketika bertemu dengan sesama rekan guru dan karyawan. Kami tidak pernah membeda-bedakan kasta dan pekerjaan. Penjaga, tukang kebun, TU, dan guru sama saja, kami saling menghormati dan menghargai.  Kami bersama rekan guru yang lain berusaha menularkan kebiasaan tersebut kepada murid melalui pembelajaran di kelas masing-masing.

Langkah awal dalam strategi untuk menguatkan budaya sopan santun di kelas adalah diperlukan kesepakatan bersama dalam kelas. Kesepakatan yang akan menyatukan ide, gagasan, harapan dan cita-cita murid dan guru agar pembelajaran di kelas lebih nyaman. Untuk Menyusun kesepakatan kelas diawali dengan memberikan pertanyaan-pertanyan penggugah, yang diharapkan akan memunculkan harapan-harapan yang diimpikan  siswa dalam proses pembelajaran nantinya. Karena pembelajaran tatap muka sepertinya belum dapat dilaksanakan maka pertanyaan diberikan melalui wa grup PJOK.  Anak diminta untuk memberikan respon terhadap pertanyaan yang diberikan. Hasil respon siswa dikelompokkan berdasarkan jenis jawaban dan hasilnya dikembalikan ke siswa untuk diulas bersama. Guru sebagai fasilitator mengarahkan bagaimana agar harapan-harapan murid dapat terwujud. Tentu dengan saling bekerja sama dan saling menghargai ide dan gagasan akan mempermudah untuk merumuskan dan pelaksanaan  kesepakatan kelas tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun