Mohon tunggu...
Hendroo Lapantuju
Hendroo Lapantuju Mohon Tunggu... Guru - Berbagi inspirasi

Belajar bersyukur dan menikmati hidup

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Aksi Nyata 1.4 Budaya Positif

30 Juli 2021   08:10 Diperbarui: 30 Juli 2021   08:44 724
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Diawali dengan sebuah percakapan sapaan, “anak-anak, bagaiman kabar kalian…?“sudah nyamankah dengan lingkungan belajarmu? “kira-kira kalian mau ga punya kelas yang nyaman ? “seperti apa sih kelas impian kalian?, Terus kira-kira apa yang harus dilakukan biar keinginan kalian tadi bisa terwujud?”. “Nah, sekarang coba masing-masing buat harapan untuk kelas kita, dalam bentuk kalimat positif, Misal : saya mau kelasku santun”. “oke, draft kesepakatan sudah selesai, mari kita sepakati Bersama”,

Respon murid sangat antusias untuk melakukan perubahan di dalam kelas. Dari respon tersebut dapat disimplkan bahwa mereka menginginkan suasana kelas yang nyaman untuk belajar, mereka ingin kelas saling menghargai, menghormatii dan kompak.  Seluruh siswa sepakat menyatukan ide dan gagasan mereka untuk membuat kesepakatan bersama. Mereka juga bersemangat dan berkomitmen untuk melaksanakan kesepakatan yang telah dibuat.

Sekolah berperan dalam membiasakan sikap sopan santun dengan memberikan contoh sikap sopan dan santun yang ditunjukkan oleh guru. Siswa sebagai pembelajar dapat menggunakan guru sebagai model. Dengan contoh atau model dari guru ini siswa dengan mudah dapat meniru sehingga guru dapat dengan mudah menananmkan sikap sopan santun.

Hasil kesepakatan kelas

Dok. pribadi
Dok. pribadi

Guru menjadi orang pertama yang harus komitmen dan memberi teladan dalam penerapan budaya tatakrama dan  sopan santun. Tidak hanya meminta untuk dihargai dan dihormati oleh siswanya, namun guru harus  bisa menghargai dan menghormati setiap ide, gagasan serta selalu memberi apresiasi terhadap hasil karya siswanya. Hal tersebut akan menumbuhkan percaya diri pada murid karena merasa dihargai, dihormati dan didengarkan.

Dalam penerapan budaya positif seharusnya tidak lagi adanya iming-iming hadiah ataupun  ancaman hukuman. Adanya hadiah hanya akan membuat siswa termotivasi melakukan hanya kalau ada imbalan, sedangkan hukuman hanya akan membuat siswa melakukan kesepakatan karena takut dihukum. Hadiah dan hukuman hanya akan memunculkan efek jangka pendek, padahal tujuan yang ingin dicapai adalah budaya positif tersebut memberi efek jangka panjang

Untuk menumbuhkan budaya positif, tidak bisa hanya dengan perintah-perintah dan larangan semata namun komitmen, konsistensi dan keteladan dari guru, kepala sekolah dan staf sangatlah penting. Dengan begitu anak akan semakin yakin dalam memaknai nilai-nilai dalam budaya positif, bahwa nilai-nilai tersebut sanagt bermanfaat baik untuk dirinya sendiri, orang lain dan juga lingkungan sekitar. Sehingga akan memunculkan motivasi intrinsik dari siswa untuk menerapkan budaya tersebut dalam kesehariannya. Selain menjadi teladan, peran guru adalah untuk menuntun dan memberi arahan kepada siswa untuk senantiasa menerapkan nilai-nilai budaya positif. Nilai-nilai tersebut hendaknya dijadikan pedoman berperilaku dalam keseharian, dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan konsisten, sehingga visi sekolah untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila akan terwujud

Tantangan dalam menerapkan budaya positif, adalah menghadapi murid yang notabene diusia peralihan menuju remaja yaitu jenjang SMP. Pada usia ini anak sedang mencari jatidirnya, emosi yang masih labil serta selalu ingin diperhatikan. Untuk itu kontrol guru perlu diperbaiki lagi untuk mengelola kelas agar kondusif dan fokus. Guru harus lebih bijak menanggapidan merespon  ide-ide dari siswa, sehingga siswa tetap merasa didengarkan dan dihargai.

Guru perlu lebih bisa mengendalikan emosi dan bijak manakala masih menemui siswa yang belum menerapkan kesepakatan dengan menegur tanpa menyinggung dan juga mengarahkan agar selalu menaati kesepakatan yang telah dibuat. Menjaga komunikasi dan kolaborasi aktif dengan rekan-rekan guru agar ikur berperan dan membantu menerapkan budaya tata krama dan sopan santun.

Budaya tata krama dan sopan santun ini tidak sekedar hanya dipelajari, namun sekolah juga perlu merancang mekanisme penerapan dan pembiasaan t budayaata krama dan sopan santun dalam kehidupan di sekolah. Disamping itu sekolah perlu berkerjasama dengan orangtua/ wali untuk berperan membiasakan sikap sopan santun bagi anak mereka ketika di rumah dan di lingkungan masyarakat. Peran orang tua untuk menjadi teladan dan membiasakan budaya sopan santun sangat penting karena waktu anak di rumah lebih banyak. Di sekolah mungkin lebih pada penguatan mengenai pentingnya dan makna dari berperilaku sopan santun. Dengan demikian kerja sama yang baik antara sekolah dan orang tua anak dalam mendidik anak tidak lagi hanya sebatas pada pembagian tugas atau orang tua menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah namun perlu ada kerja sama dalam pelaksanaan proses pendidikan itu sendiri. Sehingga harapan untuk mewujudkan siswa yang berkarakter dan menjunjung tinggi nilai sopan santun akan terwujud.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun