Mohon tunggu...
Jendry Kremilo
Jendry Kremilo Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Jomblo Itu Menyakitkan?

24 April 2022   10:33 Diperbarui: 25 April 2022   19:06 359
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ya, dalam kehidupan tentu belajar menghadapi lapisan persoalan yang silih berganti dengan kurewatan masing-masing, tentu akan membuat kita letih, putus asa,kecewa, stress dan bahkan  konsekuensi yang paling buruk adalah dapat mengganggu dan merusak sistem imun tubuh. Tetapi saya selalu percaya bahwa belajar menghadapi lapisan demi lapisan persoalan akan membuat kita menjadi lebih tangguh.

 Ketika  mencintai seseorang, kita akan merelakan diri untuk berbagi waktu, perhatian, dan kesenangan bersama orang yang kita cintai. Bila kita belum merelakan diri untuk mencintai, itu karena kita masih ingin menghirup aroma kebebasan penuh. 

Saat menjalani hidup dengan orang yang kita cintai, mengandaikan kita siap untuk menyatukan keinginan dan kebutuhan diri ke dalam kebersamaan, sepakat atas nama cinta tentu akan menumbuhkan tanggung jawab besar pada diri masing-masing. 

Jadi untuk para jomblo, jangan pula tergesa-gesa untuk mencari pasangan, toh jika sendiri, masih merasa baik, untuk apa mengambil risiko jatuh kedunia percintaan yang berujung toxic.

Membangun Komitmen

Bagi saya Bahagia itu sederhana, duduk didepan teras rumah, menyaksikan sunset ditemani secangkir kopi hangat dengan sedikit tambahan aroma nikotin dari rokok sampoerna, sungguh kebahagiaan yang menurut saya sudah cukup sempurna bagi saya yang kurang sempurna dan jomblo ini, yah, tapi selalu berpikir apakah bahagia yang saya alami ini bermakna bagi diri saya  atau tidak.

Akhirnya, saya menyadari bahagia yang seseungguhnya adalah k etika kita bisa merasakan arti dari penderitaan, termasuk misalnya penderitaan menjadi seorang jomblo. Membangun  komitmen pada diri sendiri sebetulnya menjadi core poin dalam menghadapi persoalan yang, toh, kita sendiri yang menjalani, tak perlu terusik dengan persepsi orang-orang tentang hidup kita, cukup terus kukuh dan pantang menyerah, karena yang tau tentang diri kita adalah kita sendiri.

Esensi dari persoalan itu terletak pada bagaimana kita menyikapinya, karena memahami persoalan juga perlu cara yang unikl ,dengan memaknai masalah-masalah kecil secara mendalam. Sebuah konsep sederhana yang layak diikuti oleh siapa saja  yang menginginkan growth dan bukan sekadar result.

" Jos, es krimnya sudah mau habis itu, kenapa tidak di cicipi", ketus  Melania, sembari tersenyum kecil. seketika membuyarkan lamunanku selama perjalanan malam itu.

" Eh, maaf," timpal ku, mengernyitkan dahi.

Waduh kenapa jiwa jomblo ini masih mengontrol momen-momen seperti ini, padahal saya  sedang jalan berdua, tapi serasa sedang sendiri. Waduh sepertinya aku belum siap untuk berduaan hhhh...

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun