Mohon tunggu...
Hendriko Handana
Hendriko Handana Mohon Tunggu... Orang biasa, menulis suka-suka

Pria berdarah Minang. Seorang family man humble. Hobi membaca, menulis, dan berolahraga lari. "Tajamkan mata batin dengan mengasah goresan pena"

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

Muda, Berprestasi, dan Bermahakarya

12 September 2019   01:00 Diperbarui: 12 September 2019   14:16 0 2 1 Mohon Tunggu...
Muda, Berprestasi, dan Bermahakarya
Buku bertajuk "Masih Belajar", ditulis oleh Iman Usman

"Masih Belajar"

Dua minggu lalu, saya sama sekali tak kenal perihal anak muda ini. Padahal karyanya luar biasa. Ada dua kemungkinan. Pertama, dia nggak terkenal. Atau kedua, justru "wawasan terbarukan" saya jatuh pada kondisi mengkuatirkan. 

Saya nggak cukup update informasi. Kemungkinan terakhir itu lebih kuat. Beberapa tahun belakangan, benak saya memang lebih cenderung dicekoki kabar-kabar viral di sosial media dan berita perpolitikan yang ujungnya tak jauh dari sajian sindir dan bully. 

Ketimbang hal-hal tersebut, saya putuskan menggeser fokus pada cerita-cerita bermutu dan penuh makna.

Sampai akhirnya, dua minggu lalu, saat menjelajah salah satu pojok buku best seller pada sebuah cabang Gramedia, saya bertemu dengan buku bertajuk "Masih Belajar" bersampul eye catching berwarna sedikit norak, merah jambu. Namun bukan warna ini yang menarik perhatian saya. Melainkan sejumput ulasan dan biografi singkat penulis di sampul bagian belakangnya.

Penulisnya seorang anak muda kelahiran tahun 1991, beberapa tahun di bawah saya. Ah... masih muda. Justru itu poin khususnya.

Ulasan tersebut menggambarkan bahwa anak muda ini telah meraih berbagai penghargaan internasional dan telah menginisiasi beragam organisasi tingkat daerah dan nasional. 

Ia bahkan pernah didaulat sebagai pembacara di depan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat berusia belum genap 20 tahun. "Kurang ajar" nggak tuh anak!?

Saat ini, ia bersama sahabatnya, memimpin ribuan karyawan Ruangguru, sebuah bimbingan belajar online nomor satu di Indonesia, yang mereka gagas dan besut bersama.

Namanya, IMAN USMAN. Melihat rekam jejaknya, patut saya duga bahwa dia tumbuh dan berkembang di luar negeri, bukan asli produk didikan Indonesia. 

Saya prediksi juga bahwa berasal dari keluarga terpandang dan berada, yang apa-apa kebutuhan pengembangan dirinya bisa dipenuhi kedua orang tua. Seketika, saya baca beberapa lembar bagian awal buku itu. Lantas saya stalking halaman facebook-nya. Maaf, bukan stalking urusan asmara. Amit-amit.

Ternyata... saya salah, salah besar. Dia lahir dan mengenyam pendidikan dasar sampai SMA di Kota Padang. Cukup dekat dari tempat saya dibesarkan. Hanya jarak beberapa milimeter saja kalau diukur pada peta Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3