Mohon tunggu...
hendra setiawan
hendra setiawan Mohon Tunggu... Freelancer - Pembelajar Kehidupan. Penyuka Keindahan (Alam dan Ciptaan).

Merekam keindahan untuk kenangan. Menuliskan harapan buat warisan. Membingkai peristiwa untuk menemukan makna. VERBA VOLANT, SCRIPTA MANENT.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Maulid, Maulud, Muludan, dan Sidang Ahok

13 Desember 2016   23:45 Diperbarui: 14 Desember 2016   01:06 98
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Mainan masa kecil. Mengenang masa kanak-kanak yang gembira (Dokumentasi Pribadi)

Kami pun juga tak pernah berujar, "Kamu kan Cina?", saat kami bersama bermain. Kami tetap bergembira bermain bulutangkis, misalnya, yang kala itu para pemain Indonesia berlangganan menjadi raja lapangan. "Ayo, Lem (maksudnya Liem) Swie King melawan Lem Kastol (nama merk lem "C"). 

Termasuk ketika ada tradisi perayaan keagamaan. Kami tetap bisa bersama, tanpa perlu pertimbangan bahwa kami pada dasarnya memang dilahirkan dalam keluarga yang berbeda secara keyakinan dan suku bangsa. Kami tak pernah sekalipun mempersoalkan hal itu.

Topeng muludan (biasa, lidah Jawa...) adalah salah kegembiraan bersama kami. Bersama-sama bermain, sambil sekali-kali menggoda, menakut-nakuti teman-teman lain yang merasa seram melihat topeng berbahan kertas warna coklat itu. Tertawa dan gembira adalah kebersamaan kami. 

Entahlah dengan generasi sekarang. Begitu banyak "racun" yang tertanam pada otak anak-anak yang masih polos dan jujur. "Agama kita lebih baik dari mereka. Jangan melakukan ini atau itu, haram! Lebih baik bermain bersama dengan yang seiman saja."

Buah Pembelajaran Masa Lalu

Saya benar-benar heran dan tak habis pikir. Indonesia ini semakin maju dari waktu ke waktu. Dalam hal apapun; bidang pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Termasuk di dalamnya adalah pengetahuan soal keagamaan. Tetapi yang terjadi pascar reformasi adalah tumbuhnya kelompok sektarian. Mereka yang menganggap dan menginginkan agar ideologi agama tertentu bisa menjadi pengganti dasar bagi NKRI yang berbasis Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Maka, bom demi bom menjadi berita yang selalu baru. Jika dulu bom itu untuk melawan penjajah, bangsa asing. Maka sekarang bom-nya ditujukan kepada sesama anak bangsa. Miris, apalagi yang terbaru, seorang wanita. Trend pelakunya semakin mengarah pada lintas genre (dari orang dewasa, anak muda; laki-laki, perempuan)/

Jadi teringat dengan sebuah puisi karya Dorothy Lawa Nolte, Ph.D, seorang penulis dan konselor keluarga. Karyanya yang fenomenal dan kerap menjadi rujukan itu berjudul "Children Learn What They Live",  Begini kalimat dan salah satu terjemahannya.

Children Learn What They Live
If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.
If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with honesty, they learn truthfulness.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with kindness and consideration, they learn respect.
If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.
If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.

Terjemahan:
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar membenci.
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah.
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan rasa iri, ia belajar kedengkian.
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai.
Jika anak dibesarkan dengan keadilan, ia belajar rasa aman.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri.
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan.
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran.
Jika anak dibesarkan dengan keramahan, ia meyakini sungguh indah dunia ini.

Dalam konteks waktu kekinian, barangkali itu mungkin bisa ditambahnan kalimat seperti ini. "Jika anak dibesarkan dengan fanatisme sempit keagamaan, ia belajar menjadi teroris bagi sesamanya". Ya, karena 'teroris' model baru tidak hanya menyerang kelompok keyakinan yang lain, tapi juga dalam satu kepercayaan namun berbeda aliran atau cara pandang keagamaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun