Harry Ramdhani
Harry Ramdhani immaterial worker

Sedang berusaha agar namanya ada di "Kata Pengantar" Skripsi orang lain. | Think Globally Act Comedy | @_HarRam

Selanjutnya

Tutup

Cermin Artikel Utama

Sekaleng Bir Kosong

17 Mei 2015   15:00 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:53 119 0 0
Sekaleng Bir Kosong
1431849554110951215


“Kenangan itu hanyalah cerita yang diceritakan ulang kepada oranglain yang tidak sempat merasakannya.” – NN



Sabtu malam, setelah hujan, di Kedai Alania, dengan satu kaleng bir yang terlebih dulu saya beli di luar, saya ingin sendirian membaca buku kumpulan cerita Chicken Soup for The Couple’s Soul dengan tenang. Baru pukul 10 memang, tapi Kedai Alania masih ramai. Saya tidak terlalu suka keramaian. Entah, di antara keramaian kepala saya terasa mudah pusing.


Kaleng bir saya letakkan di bawah supaya tidak kelihatan. Di meja saya hanya ada sebungkus rokok, asbak, buku, dan gorengan sebagai cemilan. Tepat di belakang meja saya, ada segerombolan orang yang sedang memprospek supaya bergaabung dengan usahanya. MLM. Di sini hal seperti itu sudah biasa, seperti melihat diskusi kelompok belajar. Tak lama ada sepasang Kakek-Nenek. Mungkin mencari meja kosong. Tapi tidak ada. Meja saya meja terakhir yang belum ditempati. Kakek-Nenek itu melewati saya, berjalan sampai belakang, dan kembali lagi. Nenek itu memandang wajah Kakek.


“Kek, kalau tidak keberatan, bergabunglah dengan saya. Kebetulan saya sendirian,” tukas saya.


“Sungguh,” kata Kakek, “mestinya saya yang mengucapkan itu.”


“Mengapa tidak…,”


Kakek-Nenek itu duduk dan melepaskan mantel (atau jaket, saya tidak tahu) dan dilipatnya. “Terimakasih, Nak,” kata Nenek.


Saya balas dengan senyum.


“Di sini juga jual bir?” tanya Kakek, yang rupanya melihat kaleng bir saya di bawah.


“Oh, tidak. Tadi, sebelum saya ke sini, saya beli dulu di luar.”


“Ini ulang tahun ke-40 pernikahan kami,” ujar Kakek, lalu tangannya digenggam Nenek di atas meja, “kita jadi ingat pertemuan dulu dengan satu kaleng bir itu,”


“Sungguh?”


“Ya,”


Lalu saya menutup buku Chicken Soup. Mendengarkan cerita mereka.


Sabtu malam, setelah hujan, di sebuh Pub, saya duduk sendirian. Itu malam paling menyebalkan, karena baru ditolak seorang perempuan yang benar-benar saya idamkan. Dulu kita satu sekolah, satu tempat kuliah. Kita teman baik. Sangat. Menjelang kelulusan, saya beranikan untuk menyatakan perasaan, tapi apa boleh buat, ia sudah terlebih dulu dijodohkan. Yang saya tahu, dulu, kata penyair, bir dan kesedihan, adalah pasangan yang benar. Sudah habis lima kaleng waktu itu. Kemudian Nenek, yang saat itu menjadi pelayan di Pub itu, kembali menghampiri.


“Birnya sudah habis,”


“Pub macam apa ini? Masa bisa kehabisan bir,”


“Sungguh,”


Ya, kata Nenek, memotong cerita Kakek. Waktu itu saya terpaksa berbohong, karena saya lihat ia sudah mabuk. Atau mungkin sedikit lagi lebih tepatnya. Dulu memang sudah ada peraturan kalau setiap Pub membatasi penjualan minuman kepada setiap pengunjung agar tidak terjadi keributan.


Saya kesal. Saya beli semua bir yang ada di sini, kata saya waktu itu.


“Kamu tidak tahu bagaimana rasanya ditolak orang yang kamu benar-benar cintai, kan? Saya mencintainya dan dia mencintai saya. Kami sudah merencanakan, kalau sudah menikah akan pergi ke suatu tempat yang tidak terlalu padat, menghabiskan hari-hari bersama, berdua. Setiap pagi saya merapihkan pekarangan rumah yang tumbuh rerumputan liar, dia menyiapkan sarapan dan mencuci semua pakaian. Menjelang siang saya istirahat dan membaca koran lokal yang setiap pagi diantarkan.


“malamnya kita duduk berdua di depan perapian, bertukar cerita sampai kita berdua tertidudur di sofa. Ia membangun saya menjelang tengah malam untuk pindah ke kamar. kita pun ingin tidur sambil berpelukan. Itu semua sudah kami rencanakan.”


“Jika memang kamu butuh satu kaleng bir lagi dan tidak keberatan, di rumah kontrakan saya masih ada. Itupun kalau kamu mau.”


“Sungguh?”


“Ya, mengapa tidak,”


Saya bakar kembali rokok ketiga selama mendengarkan Kakek-Nenek itu bercerita. Tapi saat saya mengambil bir di bawah meja, saya lihat kedua tangan Kakek-Nenek saling bergandengan. Erat. Seperti sedang berpelukan.


Kini Nenek yang melanjutkan cerita.


Setibanya di rumah kontrakkan, Kakek langsung merebahkan badan di ranjang. Mungkin kepalanya sudah terlalu berat dan pusing. “Benar masih mau bir?”


“Ya,” jawabnya, dengan mata terpejam.


“Saya pun pernah ditinggalkan kekasih saya, saya ditolak keluarganya karena tahu saya bekerja di Pub. Padahal, jika tidak, selang beberapa bulan lagi kita akan melangsungkan lamaran.”


“Kenapa kamu tidak berhenti saja dari Pub itu?”


“Saya suka melihat orang-orang sepertimu, yang datang sendirian karena kesepian. Memesan bir dan meratapi kesediahan. Berlebihan memang, tapi melayani orang yang bersedih bukankah itu pekerjaan yang mulia? Setidaknya itu yang saya yakini dari kepercayaan yang saya pelajari.”


“Dan saya orang keberapa yang kamu ajak ke kontarakan ini?”


“Pertama,”


Saya tidak percaya, kata Kakek, tapi setelah Nenek membukakan kaleng bir itu dan menyerahkannya pada saya, dari matanya saya tidak melihat kebohongan. Kau tahu, Nak, kebohongan dapat terlihat dari mata yang buta sekalipun. Lalu Nenek bersandar di bahu Kakek. Dikevupnya kening Nenek.


“Mungkin itu kehendak Tuhan,”


“Maksudnya?”


“Tidak merestui hubungan saya dan pasangan saya. Sudahlah…,”


“Kamu mencintainya?”


“Dulu, ya, sekarang tidak,”


“Bukankah cinta itu abadi?”


“Yang abadi itu ketidakabadian itu sendiri,”


Semenjak saat itu, kata Kakek, saya mulai bersamanya. Mengantar-jemputnya setiap hari ke Pub. Dan setahun kemudian memutuskan menikah dan pindah ke tempat yang dulu saya rencanakan dengan pasangan saya yang dulu. Kita beranak pinak seperti marmot, membesarkan anak-anak kami sampai akhirnya mereka menikah dan memberi kami dua orang cucu.


Nak, kata Nenek, kita dipertemukan oleh kesepian masing-masing dan satu kaleng bir yang merawat kesedihan di dalamnya. Kedua berciuman di hadapan saya.


Sudah pukul satu.


“Sepertinya ini sudah terlalu larut dan saya ingin pulang. Terimakasih atas ceritanya. Saya ingin pulang.”


“Biarlah kami yang bayar semua yang kamu pesan, Nak. Itupun kalau tidak keberatan.”


“Ah, tidak usah,”


“Kami mohon. Terimakasih atas tempat yang telah kamu sediakan untuk kami dan satu kaleng bir itu yang membuat ulangtahun pernikahan kami ke-40 makin berkesan. Karena sebaik-baiknya merawat cinta, adalah mengenangnya.”


Saya masih berdiri di depan Kakek-Nenek itu. Dari dalam tas, saya keluarkan spidol hitam dan menandatangani kaleng bir saya itu.


“Kalau tidak kebereratan, saya ingin menghadiahi ulangtahun pernikahan kalian dengan kaleng bir yang kosong ini, semoga kita bisa bertemu kembali.”


Sebelum pergi, Kakek-Nenek itu memeluk saya.



Perpustakaan Teras Baca, 17 Mei 2015 | ilustrasi