Harry Ramdhani
Harry Ramdhani immaterial worker

Sedang berusaha agar namanya ada di "Kata Pengantar" Skripsi orang lain. | Think Globally Act Comedy | @_HarRam

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Reinkarnasi dan 7 Kurcaci

14 Maret 2018   14:24 Diperbarui: 14 Maret 2018   17:13 593 7 2
Cerpen | Reinkarnasi dan 7 Kurcaci
Ilustrasi (pixabay)

Saya kembali mendengar dialog yang menganehkan di rumah sakit; setelah dulu saya dengar di kamar mayat. Dan dialog itu, saya dengar di ruang inap bayi.

Ini bulan ke sembilan. Selimut langit sedang enggan berganti hujan. Kemarau panjang dan malam seperti dirundung dingin yang kelewatan. Waktu itu saya sedang mengantar Arra berobat. Badannya panas namun ia terus menggigil di balik selimut, seperti terserang demam tinggi. 

Sambil menunggu Arra masuk ruang dokter periksa, saya tinggal sebentar buat beli minum di kantin. Untuk sampai ke sana, saya mesti melewati ruang UGD dan Kemoterapi, juga ruang inap bayi. Tepat di depan ruang inap itu saya mendengar ada yang bercakap dari dalam. Saya berhenti. Saya mengalihkan kepala, mencari sumber suara, mengintip ada apa apa sebenarnya di sana.

"Kita hanya mengenal dua kematian: tragis dan puitis."

Sepenggal kalimat itu yang saya dengar dari dalam. Namun sial, sepertinya tidak ada siapa-siapa, selain puluhan bayi yang tertidur pulas.

"Lalu kamu ingin mati yang seperti apa?" suara yang berbeda dari yang semula terdengar. Suara perempuan.

Setibanya di rumah, ketika Arra baru menyelesaikan makanannya, bubur polos yang kita beli saat perjalanan pulang dari rumah sakit ke apartemen, saya ceritakan semua yang tadi saya temui di ruang inap bayi.

Sambil mengambil air putih dari dispenser dan duduk kembali ke ruang makan, ia menyimak satu persatu yang saya ceritakan. Obat yang sudah diresepkan dokter tadi juga sudah Arra minum. Ia kembali ke tempat tidur. Menyelimutkan tubuhnya-yang-aduh, membelakangi saya dan mengatakan, "reinkarnasi."

"Lamik dan Dhawi?"

Arra tidak menjawab. Ia tertidur. Lelap. Walau penasaran saya belum terjawab.

Malam datang. Tepat dari apartemen, suasana di luar sana, kota seperti terbelah oleh masing-masing lampu dari satu gedung ke gedung lain; dari satu jalan ke jalan lain; dari satu tikungan ke tikungan lain. Bintang dan bulan, tak lagi seperti dongeng yang kerap saya dengar sebelum tidur: melapisi malam, menemani sunyi yang kelam.

Saya duduk di beranda sambil membawa laptop, dua kaleng bir dan menuliskan kisah Lamik dan Dhawi kembali. Kisah mereka yang hidup lagi.

***

Hari itu Lamik berulang tahun yang ke... lupa, entah berapa, tapi pada hari itu Dhawi ingin mengajak Lamik untuk jalan-jalan ke sebuah bukit dengan lembah yang lembab dan hanya ada jalan setapak. Dhawi selalu punya puluhan tempat yang menyebalkan, bahkan ratusan, bahkan tak terhitung, yang bisa membuat Lamik termenung seharian. Dhawi suka ketika Lamik seperti itu.

Ada yang ingin Dhawi lihatkan pada Lamik di bukit itu: sebuah bangunan tua yang ditinggali kurcaci.

Ya, kurcaci, tapi yang tak lagi menemani Putri Salju sepanjang musim kemarau atau musim semi.

Bangunan tua itu tak terawat. Karena suhu di bukit itu relatif tak menentu, dinding bangunan itu ditumbuhi lumut. Beberapa pajangan di meja atau dalam lemari kaca pun berdebu. Setidaknya itu yang Dhawi ingat saat pertama kali ke situ.

Dhawi ingin mengenalkan ketujuh kurcaci yang menurutnya lucu-lucu pada Lamik. Dhawi tahu kalau Lamik sama sekali tak percaya pada apapun yang fiktif, yang sering ia dengar atau baca dalam dongeng-dongeng. Laki-laki selalu berpikir logis, ucap Lamik satu waktu, segala khayalan adalah bualan.

Sebelum berangkat, Dhawi meminta Lamik berjanji untuk tidak rewel sepanjang jalan ataupun sesampainya di tujuan. Lamik tidak menjawab. Hening beberapa saat. Dhawi mencium Lamik. "Selamat ulang tahun, Sayang." Lamik masih tidak berkata apa-apa, tapi dari senyumnya Dhawi tahu: Lamik setuju.

***

"Masih berapa lama lagi kita sampai?" tanya Lamik dengan wajah kecut.

"Sebentar lagi,"

"Sebentar lagi?"

"Sabaaaar...,"

"Besok sudah kiamat, aku belum sempat melamarmu,"

"Besok aku terima lamaranmu," ujar Dhawi seraya membalikkan badannnya ke arah Lamik. "Walau setelah itu kiamat dan kita tak sempat menikah."

***

Dari atas bukit, hanya sehamparan warna hijau yang membentang sampai jauh. Pohon-pohon di sana sepertinya sama sekali belum dijamah manusia. Berdiri tegak dan akan terus tumbuh. Dari atas bukit pula, sedikit gerak awan sangat jelas terlihat, lamat-lamat menjauh. Terobati sudah lelah selama perjalanan menuju puncak bukit. Namun, Lamik masih bingung: di mana bangunan tua dan kurcaci yang pernah Dhawi ceritakan?

"Kita tinggal menuruni bukit ini sekitar lima menit ke arah sana," sambil tangan Dhawi menunjukkan jalan setapak di seberang. "Kamu masih kuat, kan?"

"Ya!"

"Aku dengar hari ini para kurcaci akan mengadakan pesta, tenang, kamu pasti suka."

"Ya. Ya. Ya...,"

"Kita datang di waktu yang tepat."

"Kita pergi di tempat yang tidak tepat."

Lamik ingin hari itu cepat berakhir. Bertemu kurcaci. Ikut merayakan pesta bersama mereka. Selesai. Pulang.

Anehnya tidak ada sesiapa di sana. Hanya berdiri bangunan tua dengan kaca jendela yang pecah di mana-mana. Dhawi sedikit bingung, ke mana para kurcaci itu dan dulu bangunan tua itu tak sehancur itu

Lamik dan Dhawi perlahan memasuki bangunan itu. Sepi. Mereka susuri setiap ruangan, tapi tetap tidak ada kehidupan. Bagaimana mungkin kurcaci itu pergi? Ini tempat tinggal mereka. Kurcaci tidak akan pergi selain bersama Putri Salju. Mereka, para kurcaci itu, tidak berani meninggalkan tempat ini. Terlalu beresiko dan berbahaya, kata Dhawi dalam hati.

"Aku sudah cukup senang diajak ke sini. Lebih baik kita pulang saja," kata Lamik yang sambil menenangkan hati Dhawi. Biar bagaimana pun juga, Dhawi membawanya ke sini untuk merayakan ulang tahunnya.

***

Terdengar suara gaduh dari luar bangunan tua itu. Dhawi buru-buru menarik tangan Lamik keluar. "Itu..., itu dia mereka. Sudah datang!" Dhawi sumringah.