Mohon tunggu...
Harold Manihuruk
Harold Manihuruk Mohon Tunggu... 20 Tahun | Mahasiswa Bioteknologi

Mahasiswa Aktif Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Kasus HIV/AIDS dan Perilaku Masyarakat Berisiko di Sumatera Utara

16 Juli 2020   20:09 Diperbarui: 16 Juli 2020   20:08 17 1 0 Mohon Tunggu...

Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) menjadi salah satu masalah kesehatan yang masih menjadi perhatian secara global, terutama di Indonesia. Secara nasional hingga tahun 2017 terdapat 48300 kasus infeksi HIV yang dilaporkan dengan lima provinsi tertinggi yaitu Jawa Timur sebesar 8204 kasus, DKI Jakarta dengan 6626 kasus, Jawa Barat dengan 5819 kasus, Jawa Tengah dengan 5425 kasus, dan Papua dengan 4358 kasus sedangkan pada kasus AIDS terdapat lima provinsi tertinggi yaitu Jawa tengah dengan 1719 kasus, Jawa Barat dengan 1251 kasus, Papua dengan 804 kasus, Jawa Timur dengan 741 kasus, dan Bali dengan 736 kasus (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, 2018).

Ditilik lebih lanjut, khususnya Provinsi Sumatera Utara, tercatat adanya peningkatan jumlah kasus HIV positif dan AIDS yang signifikan pada tahun 2015--2018. Pada tahun 2015 tercatat sebanyak 344 kasus AIDS dengan 838 kasus HIV positif, kasus ini meningkat pada tahun 2016 dengan kasus AIDS sebanyak 392 kasus dan HIV positif sebanyak 1352 kasus. Pada tahun 2017 terjadi penurunan kasus tercatat untuk HIV yaitu sebanyak 127 kasus namun dengan kenaikan kasus HIV positif sebanyak 2205 kasus. Namun pada tahun 2018 terjadi penurunan kasus tercatat untuk HIV positif sebanyak 1498 kasus dengan kenaikan kasus AIDS sebesar 881 kasus. Dilihat lebih lanjut, menurut jenis kelamin, proporsi kasus HIV dan AIDS pada tahun 2018 lebih banyak diderita oleh laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Adapun kasus HIV yang tercatat sebesar 26.80% pada perempuan dan 73.20% pada laki-laki sedangkan kasus AIDS yang tercatat sebesar 24.40% pada perempuan dan 79.80% pada laki-laki (Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, 2019).

AIDS merupakan gejala akibat adanya kerusakan pada sistem kekebalan tubuh manusia dikarenakan terdapat infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) (Prayuda, 2015). HIV umumnya dapat ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, melalui hubungan intim (secara vaginal, anal, maupun oral), cairan preseminal, dan air susu ibu yang sudah terinfeksi oleh HIV, transfusi darah dan pemakaian jarum suntik yang terkontaminasi atau tidak steril (Zeth dkk., 2010). 

Sebelum memasuki fase AIDS, penderita terlebih dahulu dinyatakan sebagai HIV positif. Pada masa awal infeksi virus, HIV akan menginfeksi sel namun tidak sampai menyebabkan kematian pada sel. Hal ini dilakukan agar virus dapat bereplikasi (menggandakan diri) terlebih dahulu di dalam sel sehingga dapat berkembang dalam tubuh penderita. Secara perlahan, infeksi ini akan merusak sel limfosit T hingga terus berkurang dalam tubuh penderita. Masa antara jarak infeksi HIV dengan timbulnya gejala adalah 6 bulan sampai lebih dari 10 tahun, rata-rata 21 bulan pada anak-anak dan 60 bulan pada orang dewasa (Prayuda, 2015).

Jalur penyebaran AIDS diketahui berhubungan dekat dengan nilai, perilaku, dan pola pikir dalam suatu masyarakat. Terdapat beberapa perilaku dalam masyarakat yang diketahui dapat meningkatkan risiko terinfeksi HIV/AIDS yaitu: seks bebas, meminum minuman keras, penggunaan narkoba, dan adanya kemerosotan nilai agama dalam masyarakat. Perilaku seks bebas pada masyarakat dapat meningkatkan kemungkinan risiko terinfeksi hingga 11 kali, sedangkan untuk masyarakat yang memiliki perilaku meminum minuman keras memiliki kemungkinan risiko terinfeksi hingga 4 kali, dan adanya kemerosotan nilai agama dalam masyarakat diketahui meningkatkan risiko terinfeksi HIV/AIDS juga hingga 4 kali (Zeth dkk., 2010). 

Selain itu, faktor pengetahuan terutama mengenai HIV/AIDS di tengah masyarakat juga menjadi salah satu hal yang dapat membantu pencegahan jalur penyebaran HIV/AIDS. Hal ini ditunjukkan pada penelitian Octavianty dkk. (2015) bahwa pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam menekan angka penyebaran HIV/AIDS. Salah satu pengetahuan tentang HIV/AIDS yang paling mendasar yang cukup perlu diketahui oleh masyarakat adalah menggunakan alat kontrasepsi seperti kondom saat melakukan hubungan seksual. 

Meskipun begitu, perilaku seseorang dalam melakukan hubungan seks yang aman diketahui tidak hanya dikarenakan oleh pengetahuan mendasar mengenai HIV/AIDS. Terdapat sebagian kecil responden yang diketahui melakukan upaya pencegahan dengan baik tanpa memiliki pengetahuan yang kurang cukup. Ada tiga faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang dalam bertindak, yakni: faktor pemudah yang meliputi pengetahuan dan sikap seseorang; faktor pemungkin seperti fasilitas yang dimiliki, mendukung perubahan perilaku yang positif, dan faktor penguat yang merupakan komponen yang dapat mengubah perilaku seseorang seperti keluarga, teman sebaya, tokoh masyarakat, peraturan, dan undang-undang, serta surat keputusan (Octavianty dkk., 2015).

Dilihat lebih jauh, terdapat beberapa faktor keadaan pada masing-masing individu yang juga dapat meningkatkan risiko terinfeksi HIV/AIDS yang signifikan yaitu ekonomi dan keadaan keluarga yang tidak begitu harmonis (broken home) maupun keadaan hati seseorang (broken heart). Faktor ekonomi seseorang diketahui dapat meningkatkan risiko terinfeksi HIV/AIDS hingga 8.75 kali pada masyarakat yang memiliki masalah ekonomi. Pada faktor keadaan keluarga dan suasana hati (broken home / heart) diketahui mampu meningkatkan risiko terinfeksi HIV/AIDS hingga 8.75 kali bila dibandingkan dengan individu yang memiliki keluarga harmonis dan suasana hati yang baik (Zeth dkk., 2010). 

Ditinjau dari stigma yang masyarakat miliki terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) dilihat bahwa adanya hubungan antara pengetahuan dan kewaspadaan terhadap HIV/AIDS dengan stigma yang terbentuk. Dalam penelitian yang dilakukan Situmeang dkk. (2017) mengenai hubungan pengetahuan HIV/AIDS dengan stigma ODHA di kalangan remaja usia 15--19 tahun di Indonesia menunjukkan sebesar 71.63% memiliki stigma yang buruk terhadap ODHA. Hal ini dikarenakan adanya pengetahuan yang kurang mengenai HIV/AIDS seperti cara pemeriksaan, adanya tes HIV dan lainnya. Selain itu pemahaman yang keliru seperti adanya penularan virus HIV melalui gigitan nyamuk dan melalui makan sepiring dengan ODHA. Hal ini dapat meningkatkan risiko memiliki stigma terhadap ODHA. Secara garis besar hasil penelitian ini menunjukkan lebih setengah responden dengan pengetahuan yang cukup menunjukkan stigma terhadap ODHA. 

Pada umumnya, semakin tinggi/cukup pengetahuan seseorang maka perilaku/sikapnya akan lebih baik, namun dalam penelitian ini hal tersebut tidak berlaku. Hal ini mungkin disebabkan semakin seseorang mengetahui tentang HIV/AIDS, maka mereka akan lebih waspada terhadap HIV/AIDS. Jika seseorang tidak mengetahui tentang HIV, mereka akan menganggap penyakit ini sama dengan penyakit lain pada umumnya. Meskipun begitu, stigma tersebut juga dapat menjadi serangan balik bagi masyarakat untuk semakin takut mencari tahu status HIV yang dia miliki meski melakukan tindakan berisiko seperti seks bebas dan penggunaan jarum suntik tidak steril. Hal ini justru dapat menyebabkan penyebaran HIV/AIDS dapat meningkat.

Setelah mengetahui jalur penyebaran, tindakan berisiko, serta stigma dan pola masyarakat dalam menghadapi HIV/AIDS perlu adanya tindakan langsung dari setiap elemen masyarakat dan pemerintah dalam memerangi penyebaran HIV/AIDS. Salah satu cara yang dapat dimulai adalah dengan memberikan pendidikan seks pada remaja sehingga tidak terdapat pengetahuan dan pemahaman yang salah mengenai HIV/AIDS. Selanjutnya, hal yang dapat dilakukan adalah dengan menggalakkan program untuk peduli menjaga dan memeriksakan diri untuk tes HIV/AIDS di fasilitas kesehatan yang tersedia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x