Mohon tunggu...
Harkit Sihombing
Harkit Sihombing Mohon Tunggu... HMPS

Setiap tangan menciptakan kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kasih Tak Sampai (Tarhirim)

16 Juni 2019   22:21 Diperbarui: 16 Juni 2019   23:55 0 3 1 Mohon Tunggu...

Kayak pendekar, sendirian.

Sungguh terlalu memang komentar Saulina di postingan facebook Anggun Sukmawati. Anggun berpose manis dengan senyum ramah. Tangan kanan dengan tas tangan import, di kiri menenteng plastik (buah tangan) di bandara Silangit. Hendak balik setelah liburan dari danau Toba. Dia abadikan foto itu dan di post di timeline pribadinya kelak dikenang.

Tak terasa sudah 7 tahun bekerja, begitu lulus sarjana dari Universitas Kristen Indonesia Cawang, langsung diterima kerja. Anggun dapat cumlaude. Sempurna. Paras rupawan dan cerdas menonjolkan inner beauty.

Bukan hanya sebaya, sekantor, semitra kerja bahkan yang menjadi orangtua Anggun mendesak untuk mengakhiri masa lajang. Saulina rekan kerjanya lebih aktif lagi mendorong Anggun, "jangan sampai layu."

"Begini Uli..." Memulai menceritakan tentang Hasiholan yang lama dipendam dalam hati.

Ibunya Anggun adalah seorang gadis Batak. Ibunya tampak ke-jawaan setelah nikah, faktor lingkungannya menonjol. Tapi, itu cerita yang dituturkan kakek-nenek dari ayahnya. Ibu dan ayahnya meninggal kecelakaan laka lintas. Ibu Anggun dalam benaknya tetap Batak tulen, tak lupa mengenalkan budaya Batak seperti bahasa, tutur kerabat, dan nama-nama daerah tempat ibunya lahir sampai gadis. Terkadang Anggun berafiliasi menyebutkan bahwa dia 'boru' Batak dengan menyebutkan marga pariban dari ibunya. Pesan ibu Anggun, jika bertemu dengan Batak menanyakan 'boru' apa Anggun.

Pemuda dari Humbang (dataran tinggi danau Toba) memikat perhatian Anggun. Hasiholan itu cowok cool dan smart. Kenalan pertama saat pentas seni di kampus. Anggun menghadiri dan melihat peniup seruling itu mendayu-sedan dengan nada khas Toba. Andung-andung (ratapan). Seusai manggung, kenalan singkat dan saling tukar nomor. Terjalin komunikasi dan mulai akrab hingga jadian.

Saat wisuda, Hasiholan memperkenalkan Anggun pada ibunya. Tampak raut ibunya Hasiholan tak bersahaja, lebih memilih jodoh Hasiholan dengan paribannya orang Medan. Paribannya tidak menyukai Hasiholan, alasannya kuno dan kolot. Kayak tak ada saja pria lain, jaman internet masa sama paribannya! Apa kata dunia?

Tapi paribannya tak kuasa menolak kharisma dan wibawa Hasiholan saat mereka dipertemukan oleh kedua orangtuanya. Perjodohan.
"Sama seperti pertama aku melihatnya bermain seruling. Begitu salaman, hatiku tumpah ruah." Kuat bak magnet tatapan Hasiholan kala itu. Setelah itu, waktu demi waktu komunikasi kami berkurang. Perlahan tapi pasti perhatiannya beralih sama paribannya. Hasiholan menang PNS dan ditempatkan di kampungnya Toba membuat jarak memisahkan secara pasti. Akhirnya kandas. Hasiholan pun menikah dengan paribannya, tapi hanya bertahan empat tahun karena tak memberi keturunan.

Dua tahun Hasiholan meminta Anggun untuk rujuk, Hasiholan mau minta maaf. Anggun santai, cuek saja. Entah mengapa, datang dalam mimpi Anggun, ibunya berpesan harus menemui Hasiholan ke Toba. "Anggun, Hasiholan ini Ibotomu (saudara tak bisa dinikahi)." Kata ibu Hasiholan. Sejak semula kata hati nurani ibu Hasiholan tak salah mengatakan Anggun itu wajahnya persis dengan adik bapak Hasiholan. Bagai kembaran iboto bapak Hasiholan (adik perempuannya) saat gadis. Telusur dan telusur benar, ibu Anggun itu iboto bapak Hasiholan.

"Anggun..." Peluk Saulina begitu erat dan meledakkan isak tangis, "akulah paribannya itu."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2