Hariadhi
Hariadhi Desainer, Penulis

Ya har har

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Di Takengon, Setelah Menemukan Kopi Gayo, Aku Bertemu dengan-Mu Tuhan

15 Agustus 2018   07:20 Diperbarui: 15 Agustus 2018   14:35 1047 3 2
Di Takengon, Setelah Menemukan Kopi Gayo, Aku Bertemu dengan-Mu Tuhan
dokpri

Mungkin ini adalah bagian paling religius dan sekaligus penuh perenungan dari seluruh tulisan saya mengenai #1000kmJKW. Sebuah perjalanan yang begitu panjang, melelahkan, namun sekaligus paling bermakna dari semua fragmen. 

Ya, saya bisa mengerti mengapa Pak Jokowi begitu mencintai Tanah Aceh Gayo. Karena Aceh adalah negeri Serambi Mekah, Aceh adalah negeri ke mana Tuhan menghadap. Dan di sanalah saya menemukan Dia.

Meulaboh menuju Takengon
Meulaboh menuju Takengon
Tak ada penyerahan diri tanpa rasa pasrah. Pasrah dalam kondisi titik nadir, seperti juga kita membaca dari sejarah dan berbagai kitab, bahwa banyak sekali tokoh agama, nabi, bahkan seorang Buddha sekalipun menjatuhkan titik kehidupan di titik terdalam sebelum mencapai pencerahan. Karena pencerahan adalah sebuah ujung dari penyerahan total kepada kondisi apapun, tanpa syarat.

dokpri
dokpri
Kopi, di satu sisi, adalah minuman paling religius. Sejarahnya ia bukanlah minuman para hipster. Kopi sudah lama dimanfaatkan oleh para sufi untuk mempertahankan kesadaran dari rasa kantuk. Wine, sebaliknya dari pengaruh kehidupan Bangsa Eropa dan Mesir, adalah minuman beralkohol yang berujung kepada rasa mengantuk dan ketidak sadaran. 

Kopi dan wine, walau bertolak-belakang, sama-sama mengarah kepada trance, sama-sama sebenarnya soal pencarian akan Tuhan dan sama-sama dimanfaatkan oleh orang yang tenggelam dalam Agama.

dokpri
dokpri
"Coba lewat ke Takengon untuk mencari kopi, di situ sumber terbaik Kopi Aceh Gayo," kata seorang penjaga warung kopi saat saya tanya di mana sumber kopi Aceh. 

"Takengon itu sumbernya nenek moyang orang Gayo, di sanalah peradaban Aceh Tengah berasal." Dan benar saja, saat akhirnya saya sampai ke Danau Lot Tawar di Takengon, saya menemukan jalan masuk menuju kumpulan artifak di Aceh, gua berisi tulang belulang dan rumah primitif nenek moyang mereka. Sayang saya tidak punya banyak waktu untuk menjelajahinya.

dokpri
dokpri
Danau Lot Tawar sendiri subur luar biasa. Banyak daerah bisa mengklaim penghasil kopi Aceh Gayo, namun tak ada yang bisa menyaingi rasa kopi dari Takengon. Daerahnya tidak terlalu tinggi, sehingga tidak menghasilkan kadar asam terlalu tinggi di kopinya. Namun juga masih cukup subur dan tinggi sehingga rasanya masih kaya. 

Jalan Menuju Takengon, dokpri
Jalan Menuju Takengon, dokpri
Walau demikian, di sekitaran perbukitan Takengon, masih ada penjemur dan pedagang biji kopi yang masih nakal mencampurkan beberapa varietas dan kualitas biji kopi yang kurang baik, sehingga konsistensinya belum terbentuk. 

Seorang petani yang saya temu setelah melewati Hutan Lindung, menuju Tekengon, menawarkan biji kopi yang cukup murah, hanya Rp 40 ribu per kilogramnya. 

Namun setelah saya bawa ke penggilingan kopi di Coffee Boutiqe di Jalan Antasari, terbukti kualitasnya pun mencerminkan harganya, asal-asalan, dari berbagai varietas yang tidak konsisten, dan bercampur banyak kerikil. Hasilnya kopi yang juga kurang keruan rasanya.

dokpri
dokpri
Barulah di Takengon saya bisa menemukan sebuah kafe yang memberikan kualitas biji kopi ekspor. Tentu dengan harga yang juga tidak main-main, Rp 100 ribu per kilogram. Kopinya sudah disortir, semuanya arabica, dan sudah sangat kering, jadi susutnya hanya sedikit. 

Seperti inilah Kopi Gayo yang mendunia, yang tahun ini mencapai harga tertinggi sepanjang masa, berkat pembinaan dan kedisiplinan petani kopi dan para pedagang pengumpulnya.

Nah Kopi Aceh Gayo ini yang sering dipromosikan oleh Pakde Jokowi ke mana-mana. Bahkan kopi kini menjadi semacam alat diplomasi "resmi" yang dipertukarkan dengan bangsa lain saat ada kunjungan luar negeri.

Lalu di mana pengalaman religiusnya? Jadi begini, menjelang Aceh pun mobil saya yang Toyota Calya Matic mulai menunjukkan gejala aneh, lampu dashboard mulai redup saat setir ditarik ke kanan kiri atau rem diinjak. 

Mobil ini mengandalkan electric power braking dan electric power steering, sehingga rakus dengan daya baterai. Maka saat akinya mulai soak, maka daya pun tersedot ke dua fasilitas tersebut, sehingga lampu pun meredup saat keduanya aktif. 

Pertanda lain adalah air aki terlihat seperti mendidih, bila dibuka uapnya akan keluar dan aki berkali-kali kering. Gejala ini mirip dengan Agya Matic yang dulu juga pernah saya miliki.

Dasar bandel, saya bukannya segera mengganti baterai, namun malah terus memicu laju mobil melewati Betung Ateuh, yang ternyata benar-benar dilarang dari pendirian rumah, dan anehnya Warga Aceh begitu patuh. 

Dari sejak pintu masuk Betung Ateuh hingga 10 kilometer menjelang Takengon, memang tidak ada sama sekali rumah tinggal. Sekedar WC umum pun tak adaRencana saya sih tidak akan mematikan mobil hingga sampai di Medan, karena asumsi saya membeli di Takengon akan mahal sekali karena daerah pedalaman. Cukup dengan tidak pernah menstarter ulang, harusnya aman. Harusnya..

Tapi semua rencana kan dibuat saat masih waras dan dalam lingkup pikiran sadar. Saat kebelet kencing sudah ditahan selama 3 jam, barulah pikiran bawah sadar bekerja. Tak juga menemukan toilet, maka mau tak mau pipislah di jalanan, ketemu sudut yang agak tertutup di puncak Singgah Mata, sekitaran Nagan Raya. Syuuur...

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4