Harfei Rachman
Harfei Rachman Freelancer

An Un-educated Person // Tukang ajak-gelut para Sarjana yang cuma pamer wisuda-an tanpa punya kualitas dan moralitas. // IG: @psychoinrain

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

First Man, Perjalanan Melankolia Seorang Neill Armstrong

10 Oktober 2018   19:50 Diperbarui: 10 Oktober 2018   20:41 470 0 0
First Man, Perjalanan Melankolia Seorang Neill Armstrong
Ryan Gosling as Neill Armstrong (omelete.com)

Setelah sekian lama saya tak mengunjungi Bioskop, hari ini saya memutuskan untuk melepas kepenatan dengan menonton film yang digadang-gadang akan masuk nominasi Oscar 2019, yaitu First Man karya Damian Chazelle. Ada dua alasan kenapa saya memutuskan untuk menonton film ini.

Yang pertama, saya adalah fans berat dari genre Sci-fi dalam beberapa tahun terakhir. Ketika semua orang lebih memilih untuk menonton superhero ala Marvel/DC, saya lebih memilih menonton film-film yang berhubungan dengan luar angkasa.

Sebut saja Gravity (2013) karya Alfonso Cuaron, lalu Interstellar (2014) karya Christopher Nolan, The Martian (2015) karya Ridley Scott, hingga Arrival (2016) karya Denis Villeneuve. Sayangnya tahun lalu, tak ada film sci-fi berlatar-belakang luar angkasa selain franchise Star Wars: The Last Jedi (2017)

Yang kedua, saya terkesima oleh karya sang sutradara, Damien Chazelle yaitu La La Land (2016). Film yang rilis bertepatan dengan ulang tahun saya dua tahun silam benar-benar menjadikan salah satu pengalaman terbaik saya menikmati dunia sinematik di Bioskop.

Bagaimana mungkin saya bisa jatuh hati dengan film musikal, sedangkan sebelumnya saya tidak terlalu menyukai film-film genre tersebut. Dan entah kenapa ketika saya menonton La La Land, rasa itu menjadi sedikit berbeda.

Baiklah, setelah menonton film tersebut hari ini, saya mengakui Damien Chazelle layak untuk kembali masuk ke nominasi sutradara terbaik kembali, dan mungkin saja bisa memenangkannya seperti dua tahun silam.

Dengan bantuan Josh Singer (Spotlight, The Post) selaku penulis naskah yang mampu membuat cerita tetap hidup dan tidak membosankan. Tidak hanya itu, Justin Hurwitz yang biasanya mendampingi Chazelle dalam proyek-proyek film musikal juga menunjukkan kelasnya sebagai salah satu komposer terbaik saat ini.

Ditambah lagi dukungan dari Steven Spielberg (Dreamworks) selaku eksekutif produser, Chazelle sukses keluar dari zona nyamannya dengan membuat film biopik. Sutradara berusia 33 tahun ini memang sangat jenius, memadukan drama dan rasa yang tersaji dalam film ini.

Mungkin lebih tepatnya, film ini mengingatkan saya dengan Gravity yang lebih mengutamakan pengalaman sinematik ketimbang dialog atau hal-hal yang tidak penting lainnya.

Tak hanya Chazelle, Pemeran Neill Armstrong, Ryan Gosling juga patut diacungi jempol. Suami dari aktris cantik, Eva Mendes membuktikan kematangannya sebagai seorang aktor. Selama beberapa tahun terakhir, Gosling memang selalu memilih film-film yang sering masuk nominasi Oscar. Jika tahun lalu, dia sukses memanusiakan replikan dalam film Blade Runner 2049 (2017) Kini dia sukses memanusiakan siapa itu Neill Armstrong.

Ada benang merah yang saya tak bisa jelaskan karena mengandung spoiler, namun anda mungkin bisa tangkap bila menonton sejak awal hingga akhir film mengapa saya bisa berkata seperti itu.

Tak hanya itu penampilan Claire Foy sebagai istri seorang Neill Armstrong juga meyakinkan dan panen pujian dari kritikus ketika tampil di Festival Film Venesia dan Festival film Telluride.

Pertanyaanya, mampukah First Man meraih banyak nominasi di Oscar mendatang? Kita tunggu saja.