Mohon tunggu...
Hanvitra
Hanvitra Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Lepas

Alumnus Departemen Ilmu Politik FISIP-UI (2003). Suka menulis, berdiskusi, dan berpikir.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Kekuasaan itu Amanat, Bukan Anugerah

23 Agustus 2015   23:57 Diperbarui: 23 Agustus 2015   23:57 533
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Di masa lalu, ada ulama yang berpura-pura gila ketika diangkat untuk jabatan tertentu oleh khalifah agar ia dibebaskan dari jabatan itu. Ada pula ulama yang menolak diberi jabatan menteri karena harus memindahkan buku-bukunya yang berjumlah ribuan ke rumah dinas menteri yang baru. Mereka adalah orang-orang yang memahami betul agama.

Dalam sejarah Islam, para sahabat sangat enggan menerima amanat karena takut tidak sanggup memikulnya. Akhirnya proses pemilihan pemimpin dalam Islam dilakukan dengan musyawarah untuk mufakat bukan dengan voting atau pemungutan suara. Nabi Muhammad SAW sendiri mewanti-wanti untuk tidak memberikan amanat kepada orang yang memintanya karena dikhawatirkan orang itu tak mampu menjalankannya atau karena orang itu memiliki kepentingan tersembunyi.

Pada pemilihan khalifah pertama Islam Abu Bakar As-Shidiq RA dilakukan dengan proses penunjukan setelah musyawarah untuk mufakat. Hampir saja terjadi perkelahian antara kaum muhajirin dan Anshar di Tsaqifah Bani Sa’adah untuk menentukan siapa yang akan menggantikan Nabi sebagai pemimpin umat. Penunjukan ini dilakukan mengingat Abu Bakar adalah salah-satu orang yang pertama kali masuk Islam, sangat dekat dengan Nabi, dan pernah ditunjuk sebagai imam shalat menggantikan Nabi yang sedang sakit.

Dalam pidato pelantikannya, Abu Bakar mengatakan bahwa ia bukan yang terbaik di kalangan umat Islam. Ia menerima jabatan ini sebagai amanat, bukan anugerah. Terbukti ia tidak melakukan sujud syukur seperti yang dilakukan para pejabat Indonesia. Abu Bakar dikenal sebagai orang yang zuhud dan wara’, ia tidak menggunakan kekuasaan untuk diri dan keluarganya sendiri. Dalam masa kepemimpinannnya, ia dikenal tidak pernah mengumpulkan kekayaan untuk dirinya.

Sedangkan pemilihan khalifah kedua, yakni Umar bin Khattab RA dilakukan dengan pembentuka sebuah komite ad hoc yang terdiri dari beberapa sahabat senior. Para sahabat inilah yang kemudian memilih Umar untuk menjadi khalifah. Umar tidak dapat menolak dan ia menerimanya demi kepentingan umat Islam.

\Ketika Umar bin Khattab RA berkuasa pernah ada seseorang mengusulkan orang lain untuk menempati jabatan tertentu. Umar pun bertanya, “Apakah kamu pernah mengadakan perjalanan dengan orang itu?”

"Tidak,” jawab orang itu. Umar pun lanjut bertanya,” Apakah kamu pernah berurusan dengan orang itu dalam masalah uang?” Orang itu pun menjawab tidak. “Lalu dimana kamu mengenal orang itu?” tanya Umar. “Di masjid,” jawab orang itu lagi. “Berarti kamu tidak tahu apa-apa tentang orang itu,” kata Umar tegas.

Kisah Khalifah Umar ini memberikan pelajaran kepada kita seyogyanya kita tidak menilai seseorang hanya dari ibadah ritualnya atau kesalehan pribadinya saja. Kita harus melihat apakah orang ini jujur dan amanah dalam menjalankan fungsi sosialnya di tengah-tengah masyarakat. Agama bukan hanya ritual, tetapi akhlak terhadap sesama manusia.

Oleh karena itu, seorang muslim yang mendapat jabatan seyogyanya tidak mengadakan sujud syukur apalagi pesta perayaan. Seharusnya ia lebih mawas diri dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan rakyatnya. Ia dianjurkan lebih banyak berpuasa dan shalat malam agar dibimbing oleh Allah SWT. Salah-satu orang yang mendapat naungan Allah SWT pada hari Kiamat nanti adalah pemimpin yang adil. Tentu untuk menjadi adil bukanlah sesuatu yang mudah.

Di dalam Al-Qur’an ada doa untuk meraih jabatan tertentu dalam kehidupan publik. Namun doa itu menegaskan yang berhak memberikan kekuasaan hanya Allah. Dialah yang lebih mengetahui apa yang ada dalam hati seseorang. Dialah yang lebih tahu apakah orang tersebut berniat busuk atau sebaliknya.

Penutup

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun