Hans Panjaitan
Hans Panjaitan karyawan swasta

kecebong

Selanjutnya

Tutup

Atletik

Mari Peduli ASIAN Games XVIII

17 Mei 2018   15:35 Diperbarui: 17 Mei 2018   16:22 915 0 1

Indonesia mestinya berbangga hati terpilih sebagai tuan rumah pesta olahraga bangsa-bangsa se-Asia (ASIAN Games). Ajang akbar ini akan dimulai pada 18 Agustus 2018 - 2 September 2018 di dua kota: Jakarta dan Palembang. Dan ini merupakan Asian Games yang ke-18. Di Asian Games Jakarta-Palembang ini sebanyak 45 negara di Asia akan ambil bagian. Artinya, akan ada ribuan atlet yang akan berlaga di ajang ini, di antaranya adalah kontingen dari Jepang, Korea Selatan, Republik Rakyat Tiongkok, yang prestasi atletnya sudah mendunia.

Menjadi tuan rumah sebuah even internasional, adalah suatu kebanggaan dan keuntungan bagi negara yang bersangkutan. Lihat saja Piala Dunia (World Cup), hampir semua negara berebut untuk dipilih menjadi tuan rumah. Bisa dimaklumi, dengan menjadi tuan rumah, akan banyak keuntungan finansial yang akan didapatkan. Bayangkan berapa ratus ribu supporter dari berbagai belahan dunia akan datang.   Dan ini semua artinya adalah fulus, mendatangkan devisa bagi negara penyelenggara.

Bahwa perhelatan Asian Games ini sesuatu yang sangat besar dan serius, tampak jelas dari persiapan-persiapan pemerintah dalam mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk membangun wisma-wisma atlet di kota-kota penyelenggara. Singkatnya, wisma-wisma berupa bangunan gedung bertingkat itu akan menjadi tempat penginapan ribuan atau bahkan puluhan ribu atlet dan oficial dari negara-negara peserta. Dan bukan hanya itu, gelanggang-gelanggang dan stadion yang akan digunakan untuk berlaga para atlet juga direnovasi. Bahkan untuk  mengantisipasi masalah transportasi selama penyelenggaraan, pemerintah kota sedang memikirkan apakah sekolah perlu diliburkan?

Menjadi negara penyelenggara Asian Games ini memang pekerjaan besar dan sarat gengsi. Dan itu semua memakan biaya yang tidak sedikit. Angkanya bukan lagi miliaran, tapi triliunan rupiah! Jumlah yang sangat besar, namun yang dipertaruhkan di sini adalah harga diri dan kehormatan bangsa: mampu enggak mengemban kepercayaan besar ini? Sebab apabila nanti penyelenggaraannya amburadul, maka bangsa ini akan menjadi bahan cemoohan masyarakat internasional. Sebaliknya, bila sukses dan memuaskan semua pihak, kita akan dipuji dan dihormati. Dan tidak mustahil negeri kita kemudian dipercaya menjadi penyelenggara olimpiade, pesta olahraga para atlet yang ada di Planet Bumi! Dan yang juga tidak bisa dikecilkan adalah peluang untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia apabila Indonesia dinilai sukses menangani Asian Games XVIII ini.

Keuntungan lainnya adalah kesempatan untuk belajar langsung, dengan melihat langsung penampilan atlet-atlet mancanegara yang prestasinya sudah mendunia itu. Pasti ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari mereka guna meningkatkan prestasi olahraga nasional kita. Jadi, perhelatan olahraga se-Asia ini pada dasarnya adalah pesta: pesta olahraga. Pesta adalah tempat di mana semua orang bersukacita, termasuk pesta olahraga yang melibatkan banyak atlet dan masyarakat penggemar olahraga. Maka dalam pesta olahraga masyarakat Asia ini, kita bangsa Indonesia harus bersukacita dan memperlihatkan antusiasme yang tinggi.

Namun hingga beberapa bulan menjelang hari H, efeknya kok belum terasa di masyarakat. Di Jakarta sendiri, sebagai salah satu kota tuan rumah, geliatnya hanya terasa di beberapa tempat yang terlihat spanduk dan umbul-umbul tentang ASIAN Games. Namun sejauh itu tetap saja "hambar". Tidak ada terasa masyarakat dilanda "demam" Asian Games. Presiden Jokowi yang agaknya juga merasakan ini baru-baru ini memerintahkan agar spanduk-spanduk Asian Games dipasang di kantor-kantor pemerintah. Bila di Jakarta sebagai tuan rumah saja tidak terlihat antusiame penduduk, bagaimana pula jadinya di kota-kota lain?

Kenapa rakyat kita seolah tidak peduli atau kurang bergairah menyambut pesta olahraga terbesar di Benua Asia ini? Apa karena bertepatan dengan tahun politik? Bisa jadi, sebab elite-elite politik yang lebih mementingkan peluangnya meraih kedudukan di pemilu dan pilpres, hanya sibuk mengonsolidasikan pengikutnya untuk melakukan apa saja demi memenangkan pertarungan politik di tahun 2019. Ada kesan oknum-oknum politikus lebih fokus mencari ide bagaimana menanamkan rasa benci dan antipati di sanubari para pengikutnya terhadap saingannya.

Maka alih-alih komentar-komentar soal Asian Games, yang bertebaran di media sosial justru fitnah dan hoax. Sangat disayangkan, sebab nuansa politik yang penuh rivalitas dan berpotensi memecah-belah itu yang terus-menerus dipupuk. Padahal, Asian Games Jakarta - Palembang ini adalah momen yang sangat tepat bagi segenap elemen bangsa untuk kembali merajut persatuan dan persaudaraan sebagai bangsa Indonesia. Andaikata tidak ada rivalitas dalam politik di tahun politik ini, mata dan pikiran semua orang pasti ke Asian Games. Semua orang akan memberikan komentar yang arahnya memberikan semangat kepada atlet negeri sendiri. Semua orang berharap dan berdoa demi suksesnya para atlet, dan juga panitia penyelenggara.

Asian Games Jakarta - Palembang di tahun politik, semoga semua perbedaan politik dienyahkan jauh-jauh. Mari bersatu mendukung dan mendoakan para atlet kita meraih prestasi terbaik. Penyelenggaraan yang sukses, akan menyebarkan wangi semerbak negeri kita Indonesia, ke segala penjuru dunia.