Mohon tunggu...
Hamdan Inami
Hamdan Inami Mohon Tunggu... Lainnya - Media ide dan gagasan

IWRM adalah jawabannya. (IWRM = Integrated Water Resources Management)

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Air Irigasi dan Produksi Padi di NTT, antara Harapan dan Kenyataan

23 Maret 2018   09:25 Diperbarui: 23 Maret 2018   09:26 1812
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
(sumber gambar: kupang.tribunnews.com)

Ketersediaan air adalah prasyarat utama kehidupan. Begitu pentingnya ketersediaan air sehingga sejak tahun 1992 diperingati seluruh dunia. Pemasalahan air di NTT juga tidak pernah sepi sehingga alangkah baiknya apabila momen ini untuk mengkaji ulang sejauh mana pengelolaan air di NTT di berbagai sektor.

Di sektor pertanian, sub sektor tanaman pangan khususnya padi sawah sangat bergantung pada  kinerja pengelolaan irigasi. Sarana produksi padi sebaik apapun tidak akan berarti apa-apa ketika pengelolaan irigasi buruk. Tanaman padi sawah membutuhkan air pada saat tertentu, dalam jumlah yang tepat, dan kualitas air yg memenuhi syarat. Kekurangan air, kelebihan air, air berlumpur, adalah hanya beberapa contoh kondisi irigasi yang bisa menghancurkan tanaman padi. Itu lah sebabnya pengelolaan irigasi memang bukan perkara mudah. Disamping itu, pengelolaan pola tanam merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pengelolaan irigasi.

Sesuai Permen PUPR Nomor 14/ 2015 tentang Status Kewenangan Daerah Irigasi, Provinsi NTT memiliki total daerah irigasi seluas 280.858 Ha. Luasan potensi irigasi ini terdiri dari irigasi permukaan dan Daerah Irigasi  Air Tanah (DIAT). Daerah irigasi permukaan terbagi 3 kewenangan, yaitu 181.540 Ha kewenangan kabupaten, 60.328 Ha kewenangan provinsi,  dan 31.577 Ha kewenangan pusat. Adapun DIAT seluas 7.413 Ha.

Harapan

Beras masih menjadi pangan pokok utama masyarakat NTT. Sawah beririgasi  teknis tentunya menjadi tumpuan dan harapan untuk dapat memproduksi padi sehingga mencukupi kebutuhan beras. Jika bersumsi bahwa 50% saja dari potensi irigasi, maka luas lahan sawah NTT adalah 140.429 Ha. Dengan memasang target produktivitas padi secara moderat pada angka 4,5 Ton/ Ha, maka produksi padi NTT adalah 631.931 Ton. Jika pada lahan sawah tadah hujan bisa punya indeks pertanaman (IP) 150, atau 1,5 kali tanam dalam setahun, maka pada sawah irigasi setidaknya IP 200, hasilnya produksi padi bisa 1.263.861 Ton.

BPS merilis angka konversi dari padi ke beras sebesar 62,74%. Artinya, apabila 100 Kg padi (GKG) diselep akan menghasilkan 62,74 Kg beras. Dengan demikian, NTT memiliki beras sebanyak 792.946 Ton, dari lahan sawah irigasi saja. Jumlah ini belum dari sawah tadah hujan.

Konsumsi beras rata-rata nasional ditetapkan 114 kg/kapita/tahun. Dengan jumlah penduduk NTT sebesar 5.203.514 jiwa, maka NTT membutuhkan beras sebesar 593.201 Ton/tahun. Dari angka produksi dikurangi konsumsi terdapat surplus beras sebesar 199.746 Ton/tahun.

Berdasarkan Data

Menurut angka BPS 2017, lahan sawah di NTT seluas 214.790 Ha dimana 15,74% atau 33.817 Ha lahan sawah yang sementara tidak diusahakan. Sisanya sebesar 180.973 Ha lahan padi sawah dimana hanya terdapat 18,69% atau 67,707 Ha yang bisa 2 kali panen. Sisanya 1 kali panen.  Produksi padi di NTT adalah sebesar 924.403 Ton. Jika dikonversi ke beras menjadi 579.970 Ton. Angka ini jika disandingkan dengan kebutuhan beras di Provinsi NTT maka terjadi defisit beras sebesar 13.230 Ton.

Kenyataan di Lapangan

Secara perhitungan, angka defisit beras di NTT memang tidak telalu besar. Tapi perlu diingat bahwa perhitungan tersebut hanya salah satu metode pendekatan. Fakta di lapangan tentu membutuhkan data riil berapa ton beras dari luar masuk ke NTT dalam setahun. Informasi bahwa Bulog NTT masuk kategori defisit sehingga harus beberapa kali dikirim ribuan ton beras dari Bulog NTB. Program impor beras 500 ribu ton dari vietnam belum lama ini juga sudah memberikan jatah untuk NTT sebesar 10 ribu ton. Bahkan BI merilis data pada April 2017 bahwa NTT defisit beras sebesar 150 ribu ton per tahun. Angka yang cukup tinggi tapi bisa dipahami mengingat tugas BI sebagai pengendali inflasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun