Hamdali Anton
Hamdali Anton English Teacher

Saya adalah seorang guru bahasa Inggris biasa di kota Samarinda, Kalimantan Timur. | Website : http://pintar-bahasa-inggris.com || http://fingerstyleguitar1.blogspot.com/?m=1

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Senyum Mereka Membuat Hariku Kembali Ceria

16 Maret 2019   15:54 Diperbarui: 16 Maret 2019   16:03 45 6 1
Senyum Mereka Membuat Hariku Kembali Ceria
dokpri

Kadang-kadang saya berpikir, "Kok bisa ya, aku ngajar di esde."

Memang saya tak pernah membayangkan dan bermimpi sedikit pun sewaktu usia belia, kalau saya akan mengajar di esde. Jangankan mengajar di esde. Bermimpi menjadi guru saja tak pernah terlintas di benak sewaktu masih sekolah dulu.

Namun inilah dia. Sekarang saya menjadi guru.

Meskipun saya tidak mengajar di esde lagi, namun bukan berarti saya menganggap pengalaman itu membuat saya menyesal pernah menjalaninya.

Tidak ada yang terjadi secara kebetulan.

Tuhan sudah menentukan kehidupan saya, merencanakan sebelum saya ada. 

Lagipula, alih-alih benci, sebenarnya saya sangat suka mengajar anak-anak kecil atau anak usia dini.

Selalu saya mengambil analogi "Mendidik anak usia dini itu seperti memahat di atas batu; dan mendidik remaja dan orang dewasa seperti memahat di atas air."

Mungkin bagi pengajar atau pendidik, analogi itu tak asing lagi. Bagi masyarakat awam, mungkin tidak tahu artinya. Makna analogi di atas adalah "mendidik anak usia dini itu menyakitkan. Baik bagi anak itu sendiri, mau pun bagi kita sebagai pendidik. Upaya keras untuk memahat, membentuk, menjadikan hasil yang baik. Setelah upaya keras tak kenal menyerah, hasil didikan itu akan terlihat nyata. Akan terbentuk "patung yang indah"; anak-anak yang hebat, rajin, taat pada orangtua, berkarakter baik; jikalau "proses memahat" itu,  didikan kita benar, terarah, dan terus menerus."

"Namun berbeda dengan remaja dan orang dewasa. Mendidik mereka ibarat memahat di atas air. Tidak butuh tenaga yang kuat. Ringan dalam memahat, namun waktu mengangkat pahat, air menutup kembali. Tidak ada bekas pahatan sama sekali. Seakan apa yang dilakukan tidak ada faedahnya. Karena mereka sudah terbentuk dari keluarga, lingkungan yang sudah memberikan "bentuk" bagi mereka. Sehingga tentu saja, kita tak bisa membentuknya kembali, karena mereka sudah mempunyai bentuk akhir. Kecuali kalau mereka mau berubah, dan itu harus dari kemauan mereka sendiri."

Bercermin pada analogi ini, maka saya lebih suka mengajar anak-anak usia dini, meskipun harus "berdarah-darah" terlebih dahulu.

Saya pernah punya pengalaman mengajar murid (di ruang kelas sekolah, bukan les privat ^_^) SMP, SMA, dan pernah mendapat "durian runtuh", yaitu menjadi asdos alias asisten dosen selama dua semester di universitas tempat saya menimba ilmu. 

Dari tiga tempat ini, saya mengambil kesimpulan bahwa semakin tinggi usia, semakin sulit "memahatnya" seperti analogi di atas. Saya pun tidak bisa tahu yang mana siswa atau mahasiswa yang benar-benar suka belajar atau cuma pura-pura suka belajar.

Anak usia dini? Tidak ada kepura-puraan dalam diri mereka.

Itulah yang saya suka dari mereka. Meskipun harus "bersakit-sakit dahulu" ^_^.

Melihat senyum mereka membuat sakit pun lenyap seketika

dokpri
dokpri
Di semester satu di tahun 2018 lalu, waktu saya masih mengajar di salah satu esde negeri di Samarinda, untuk pertama kalinya, dalam satu sekolah, saya mengajar dari kelas satu sampai enam. Total 19 kelas. 

Di waktu-waktu sebelumnya, saya cuma mengajar dari kelas empat sampai enam, yang totalnya cuma sembilan kelas. Untuk menambah penghasilan, saya mengajar les privat di luar sekolah.

Namun dengan adanya pelipatan dari 9 jadi 19 kelas yang menjadi tanggung jawab saya, itu merupakan tantangan tersendiri buat saya. Kenapa? Karena saya belum pernah mendapat kelas sebanyak itu dari satu sekolah. 

"Ya, karena Pak Hadi (bukan nama sebenarnya) tidak mengajar di sekolah kita lagi, jadi saya meminta bapak untuk menangani semua kelas. Dari kelas satu sampai enam. Saya yakin, Bapak sanggup. Kemampuan bapak sudah tak diragukan lagi. Tentu saja, bapak akan mendapat honor dua kali lipat. Bapak bersedia?" kata Ibu kepala sekolah, sebut saja Bu Andrea.

Sempat ragu, namun saya lalu berkata, "Bersedia, Bu." Bagi saya, ini adalah tantangan. Beberapa teman saya yang guru honorer bisa menjalani, meskipun mengeluh luar biasa. Saya ingin tahu seberapa capeknya menghadapi tantangan mendidik anak usia dini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3