Mohon tunggu...
Fuad Abi Haleel
Fuad Abi Haleel Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Kubingkaikan Doa dan Cinta di Pelataran Hatiku

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Manusia itu Bernama Ustadz

13 Maret 2013   13:53 Diperbarui: 24 Juni 2015   16:51 440
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Hidup adalah pilihan. Apapun itu. Sesuatu hal yang sifatnya positif atau negatif, tetap itu adalah pilihan. Ada banyak motivasi kita dalam mengambil pilihan-pilihan itu, baik karena tuntutan hidup, karena sesorang, hanya keisengan belaka, atau niat yang tulus demi sesuatu yang hendak dicapai. Hanya dirinya yang bersangkutan dan Tuhannyalah yang mengetahui apa motivasi di balik itu semua. Dan pilihan-pilihan itu mempunyai sebuah konsekuensi yang harus dipegang, konsekuensi yang harus dijaga dan konsekuensi yang harus dipertanggung jawabkan...

Termasuk menjadi sosok seorang Ustadz. Predikat Ustadz bukanlah sebuah gelar yang hendak dicapai oleh seseorang. "Saya ingin dipanggil Ustadz" atau "Saya ingin menjadi seorang Ustadz". Karena sosok Ustadz, Kiai, Pendeta, Pastur, Guru dan apapun itu namanya, sejatinya adalah gelar yang diberikan oleh khalayak ramai, oleh masyarakat, oleh ummat kepada yang bersangkutan sebagai wujud apresiasi terhadap sikap dan perilaku atau bentuk penghargaan terhadap kiprahnya.

Menjadi seorang Ustadz bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalani. Tidak cukup dengan bermodalkan sehelai lembaran al-Quran, atau cukup dengan hafal bacaan al-Fatihah dengan penampilan berpeci, berbaju koko dengan membawa tasbih kemana pun dia pergi. Tetapi lebih dari itu, sosok dan perilaku yang harus dipegang yang mencerminkan sosok Ustadz. Bagaimana sih sikap yang ideal yang harus ditunjukkan oleh seorang Ustadz? Mungkin ini yang harus dipegang dan difikir ulang sebagai sebuah konsekuensinya.

Tentu saja, sebelum kita menerjuni sebuah "profesi" (memakai tanda petik karena menurut saya, menjadi Ustadz bukanlah sebuah profesi), kita harus mempunyai motivasi dari awal. Untuk apa, mau apa dan harus bagaimana. Ini sangat penting sekali, mengingat - sekali lagi - konsekuensi berupa tanggung jawab yang harus dipikul bukanlah perkara yang ringan. Sangat menodai Predikat Ustadz jika sosok Ustadz itu sendiri berperilaku sebagaimana yang lainnya. Lalu, apa bedanya?

Lalu, apakah seorang Ustadz harus menjadi sosok yang suci yang bebas dari dosa? Saya katakan "Ya". Ketika kita mempunyai niat memasuki dunia "suci" seperti Ustadz, Guru, Pendeta, Biarawati, dan sebagainya, maka totalitas adalah harga mati. Oleh karena itu motivasi awal harus benar-benar melewati uji kelayakan. Terlepas dari Ustadz adalah manusia, Ada hal yang harus kita pegang, terlanjur basah, mandi sekalian. Itu mungkin peribahasa yang cocok yang menggambarkan seseorang yang terjun di dunia dakwah yang siap dengan resikonya.

Lantas apa yang membedakan Ustadz dengan manusia yang lainnya. Intinya Sama. Mereka sama-sama manusia. Tetapi ada yang membedakan ; perilaku. Bukan hendak mengklaim menjadi manusia yang sok suci, tetapi berusaha untuk menjadi lebih baik. Itu kata yang tepat !... ...

Apakah Ustadz tidak boleh kaya? Karena akan menimbulkan fitnah dan prasangka buruk? Atau Ustadz tidak boleh matre, tidak boleh punya rumah mewah, tanah dimana-mana, jadi pengusaha, karena Ustadz identik dengan kesederhanaan? Seorang Ustadz harus memakai baju sederhana kalau perlu yang murahan, kemana-mana jalan kaki maksimal pake sepeda motor tahun 70-an, rumah sepetak di rumah kontrakan, kerja sebagai guru ngaji yang dibayar alakadarnya.....

Atau Seorang Ustadz tidak boleh ngumpul-ngumpul kongkow-kongkow, jalan kesana kemari refreshing, nongkrong di keramaian? Karena seorang Ustadz seharusnya duduk terpaku di Masjid sambil menghitung tasbih di tangan, jalan paling banter ke pengajian, ngejar ta'lim dimana-mana, ngaji, ngaji dan ngaji, ceramah, ceramah dan ceramah ...

Atau Usatdz tidak boleh berinteraksi dengan lawan jenis, karena berinteraksi dengan selain muhrim adalah terlarang, berduaan dengan lawan jenis adalah pantangan, mendekati hal yang akan menyebabkan terjerumus ke dalam perbuatan zina adalah tidak boleh, karena seorang Ustadz haruslah berinteraksi dengan sangat sangat terjaga kalau perlu mengisolasikan diri dari pergaulan agar tetap terjaga harkat dan martabatnya... ...??

Atau seorang Usatdz tidak boleh menjadi seorang yang terkenal, karena kalau terkenal tidak ada bedanya dengan artis yang diekspos sisi-sisi privasinya, karena kalau terkenal seorang Ustadz akan menjadi komersial dengan mematok harga ceramah... ... "Wani Piro?"

Atau Seorang Ustadz tidak boleh berpolitik karena dengan berpolitik sama saja dengan melakukan perbuatan kotor. Secara politik adalah kotor. Dengan berpolitik banyak Ustadz yang terjebak ke dalam hedonisme dan terhanyut dalam arus kekuasaan, terpesona dengan gelimangan harta dan silau sehingga korupsi ... ... Seorang Ustadz akan mati kutu jika berhadapan dengan Harta, Tahta dan Wanita...

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun