Hakiem Syukrie
Hakiem Syukrie

periset pada Bayt Al-Qur'an & Museum Istiqlal.

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Kabar Al Quran Kuno Banyuwangi yang Dijual

7 Desember 2017   10:39 Diperbarui: 7 Desember 2017   20:05 856 0 0
Kabar Al Quran Kuno Banyuwangi yang Dijual
Hiasan pada mushaf kuno banyuwanyi Koleksi

Kisah Quran-ku di negeri orang
Saat berkesempatan melakukan riset ke sebuah perpustakaan di Kuala Lumpur, saya melihat sebuah poster mushaf kuno. Terpajang di sebuah ruangan di lantai 11 perspustakaan tersebut. rasanya tidak asing. Saya dekati dan saya baca keterangannya, "...Quran kuno dari Banyuwanyi, Jawa..." Ternyata benar firasat saya. Rasanya tidak asing.

Saya coba mengingat kapan dan di mana gambar poster itu pernah saya lihat. Saya baru ingat kejadiannya sekitar 3 tahun lalu. saat itu dalam sebuah forum kecil, seorang filolog pernah bercerita, "Ada seorang mengiriminya foto mushaf kuno. Ia diminta perkenannya memberikan komentar atas foto tersebut."

Kepada Si Penanya Ia menerangkan bahwa mushaf kuno tersebut berasal dari Blambangan Banyuwangi. Sebaiknya disimpan dan tidak dijual. Lebih baik lagi kalau mushaf ini menjadi maskot Kota Banyuwangi. Dan, Si Penanya pun meng-iya-kan untuk tidak menjualnya. O iya, keterangan tambahan, Si Penanya ternyata seorang penjual naskah. 

Selang tiga tahun, mushaf itu kini telah dijual dan terjual.

Quran Kuno Banyuwangi (1806 M)
Ini Quran Banyuwangi asli. Asli ditulis oleh orang Banyuwangi. Asli ditulis di Banyuwangi. Asli punya orang Banyuwangi. Itu dulu, karena tapi "asli" terakhir sudah berubah. Sekarang Quran ini sudah ada di luar negeri. Begini detil singkat mushaf kuno Banyuwangi:

Mushaf ini ditulis pada kertas Eropa dengan cap kertas Coat Af Arms. Ukurannya cukup kecil jika dibandingkan dengan kebanyakan mushaf kuno, 17 x 21.9 cm. meski kecil, tapi tiap halaman terdiri dari 15 baris. Berarti tulisannya juga kecil, rapih. Kondisi masih baik bahkan istimewa, menurut saya. Sampul masih ada, jumlah halaman lengkap, teks terbaca dengan baik, hiasan pada bagian awal, tengah dan akhir. Terdapat kolofon penulisan mushaf. Pokoknya istimewa dah.

Tinta berwarna hitam, rubrikasi terdapat pada nama-nama surah dan juz. Terdapat tanda bacaan di akhir setiap ayat yang bersalut warna keemasan pada sebagian halaman. Tulisan emas, indah dan konsisten karena ditulis dalam kolom bergaris 3. Kata alihan terdapat pada halaman verso bagian bawah. Terdapat ragam hias pada awal dan akhir naskah dengan sentuhan gaya Jawa.

Kolofon mushaf ini berbunyi,

"...Mushaf ini selesai disalin pada hari Kamis, 6 Jumadil thani (jumadil akhir) 1221 H (21 Agustus 1806 M). Mushaf ini milik Abdul Samad ibnu Habib al-Marhum daripada negeri Blambabangan (Banyuwangi). Penulis mushaf ini Mas Khalifah ibnu al-Habib al-Masfuh dari negeri Banyuwangi."

keterangan tentang penulis mushaf
keterangan tentang penulis mushaf

Sebenarnya kolofonnya lebih Panjang dari yang tertulis di atas dan berbahasa Arab. Untuk memudahkan, sajikan ringkasannya saja. Singkatnya Quran tersebut ditulis di Blambangan awal abad ke-19 M oleh Mas Khalifah bin Habib Masfuh. Pemiliknya bernama Abdul Samad.

Keterangan tentang pemilik naskah
Keterangan tentang pemilik naskah

Berapa harganya?
Untuk bahasan yang ini, saya tidak mau banyak nulis. Khawatir banyak salah dan disalahkan. Cukup dengan gambar saja.

screenshot-2017-11-29-23-45-16-418-com-android-chrome-5a28b60059b1305a9c3880c2.png
screenshot-2017-11-29-23-45-16-418-com-android-chrome-5a28b60059b1305a9c3880c2.png
Apa hikmahnya?
Perlu mendudukkan ini dari perbagai sudut kepentingan: penjual, pembeli, masyarakat, peneliti, Bangsa Indonesia, umat Islam, dll. Bagi penjual, mungkin, mereka senang barang dagangannya laku. Mendapatkan untung besar jika dibandingkan harus dijual/beli kepada pihak dalam negeri. Bisa jadi, bukannya bati, malah dapat caci-maki. Dia mengesampingkan bahwa yang ia jual adalah warisan nenek moyangnya. Dia tidak sadar sudah menebas akar pohon sejarah-kebudayaan yang di bawahnya Ia bernaung dan hidup. Yang lainnya silakan diisi sendiri.

Bagi peneliti, ia harus berangkat ke luar negeri untuk mendapatkan data mushaf ini. Menyenagkan juga sih ke luar negeri, tapi itu tidak mudah. Tidak semuanya bisa. Kalaupun bisa tidak setiap saat. Intinya, lebih bangga mencari data di negeri sendiri bagaimana pun sulitnya, daripada di negeri orang. Apalagi data tentang negeri sendiri dan punya negeri sendiri.

Saya jadi ingat, kolega peneliti yang diharuskan membayar 0.5 ringgit untuk bisa memfoto mushaf Indonesia yang ada di sebuah lembaga di Brunei Darussalam. Kalau jumlahnya 600 halaman, maka dia harus membayar 300 ringgit. Setara tiga juta untuk satu mushaf. Berapa kalau sepuluh mushaf? Weleh weleh weleh.

Apa untung ruginya buat pembeli, buat umat Islam setempat? Buat siapa lagi ya?

Btw, waktu saya cerita ke kawan saya, dia nyletuk, "Kan enakan ke Malaysia Mas! Penerbangan lebih murah daripada ke Banyuwangi. Bisa traveling juga. Apalagi Quran-nya punya Habib, apa bisa sampean 'nembusi' habib?"

"Iya juga ya!" batinku.