Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Penulis - Penulis. Jurnalis.

Pernah sewindu bekerja di 'pabrik koran'. The Headliners Kompasiana 2019, 2020, dan 2021. Nominee 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Pelajaran dari Roberto Firmino, "Setiap Orang Ada Masanya"

23 Desember 2019   06:33 Diperbarui: 23 Desember 2019   10:52 4100
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Firmino dan Alisson, jadi juara dunia usai mengalahkan klub asal negaranya| Foto: Premierleague.coml

Terakhir, pada 2005 silam, lagi-lagi Liverpool merana di turnamen ini. Di final yang digelar di Yokohama, The Reds takluk 0-1 dari klub Brasil, Sao Paulo. Padahal, Liverpool sempat tampil garang di semifinal menang 3-0 atas klub Kosta Rika, Deportivo Saprissa.

Liverpool akhirnya meraih gelar juara dunia setelah beberapa kali gagal| Foto: theguardian.com
Liverpool akhirnya meraih gelar juara dunia setelah beberapa kali gagal| Foto: theguardian.com
Toh, dari semua kekalahan di final itu, bisa disimpulkan bahwa itu memang bukan masanya Liverpool. Bahwa setiap klub ada masanya. Dan, ternyata tahun inilah masanya Liverpool. Mereka akhirnya jadi juara dunia.

Bisa dibayangkan bagaimana bahagianya 'keluarga besar' Liverpool yang ada di mana saja. Termasuk di Indonesia. Mengutip ucapan kapten tim Liverpool, Jordan Henderson, "world champions sound's nice".

Akhirnya bisa mengalahkan klub Brasil karena orang Brasil
Menariknya, keberhasilan Liverpool mengalahkan klub Amerika Latin di FIFA Club World Cup tahun ini, tidak lepas dari keberadaan pemain asal Amerika Latin. Utamanya Brasil.

Ya, pemain-pemain asal Brasil inilah yang ternyata membuat Liverpool bisa jadi juara dunia. Sebelumnya, ketika Liverpool tiga kali gagal, mereka memang tak punya pemain asal Amerika Latin. Kali ini, Liverpool punya tiga pemain Brasil.

Selain Firmino, ada kiper Alisson Becker. Juga gelandang pekerja, Fabinho. Tapi, hanya Firmino dan Alisson yang tampil melawan Flamengo dini hari tadi. Sementara Fabinho masih menjalani pemulihan cedera.

Firmino dan Alisson, jadi juara dunia usai mengalahkan klub asal negaranya| Foto: Premierleague.coml
Firmino dan Alisson, jadi juara dunia usai mengalahkan klub asal negaranya| Foto: Premierleague.coml
Dan, bila menengok kembali apa yang terjadi di pertandingan final dini hari tadi, slogan setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya itu seolah menemukan pembenaran. bahwa final tadi malam memang masanya Firmino dan Alisson.

Selain Firmino, Alisson juga tampil brilian. Seperti di menit ke-52, Alisson memperlihatkan kemampuan reflek cepatnya. Dia memblok sepakan keras penyerang Flamengo, Gabriel Barbosa. Dia juga dengan dingin mengantisipasi sepakan salto Gabriel di menit ke-68.

Dan memang, Alisson seperti ditakdirkan tampil oke di pertandingan besar. Ketika Liverpool menghadapi Tottenham di final Liga Champions 2019, Alisson juga tampil keren. Dia beberapa kali mementahkan peluang pemain-pemain Tottenham.

"Menjadi juara dunia tentu sangat luar biasa. Ini perasaan yang tidak setiap waktu bisa dirasakan," ujar Firmino kepada FIFA.com.

Dari keberhasilan Firmino dan Liverpool di Kejuaraan Dunia Klub 2019, kita bisa berkaca bahwa sukses itu tidak selalu datang pada kesempatan pertama. Boleh jadi ia baru datang setelah berulang kali gagal.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun