Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Penulis - Penulis. Jurnalis.

Pernah sewindu bekerja di 'pabrik koran'. The Headliners Kompasiana 2019, 2020, dan 2021. Nominee 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Siswanto dan Ikhtiarnya Mewujudkan "Janji" Man Jadda Wa Jadda

3 Juli 2019   07:59 Diperbarui: 3 Juli 2019   08:22 158
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Siswanto bersama putrinya saat masih tinggal di kontrakan mungilnya/Foto pribadi

"Alhamdulillah sudah jadi Mas, tinggal dipasang genteng dan pintu depan".

Begitu luapan syukur Siswanto (36 tahun) ketika malam-malam mengajak saya melihat bangunan rumahnya yang siap ditempati. Wajahnya gembira. Tentu saja. Kepala keluarga mana yang tidak gembira bila akhirnya bisa memiliki rumah sendiri.

Dua tahun lalu, rumah itu mulai dibangunnya di sepetak tanah warisan orangtua. Rumah itu dibangun "dicicil". Dibangun bagian demi bagian. Setiap punya uang, ia rupakan semen, batu bata, pasir dan material lainnya. Setelah pondasi terbangun, pembangunan sempat terhenti. Menunggu duit terkumpul lagi.

Alon-alon sing penting klakon. Pelan-pelan yang penting jadi. Setelah hampir dua tahun dibangun, rumah sederhana berukuran 5x12 meter itu pun jadi. Siap dihuni.

Padahal, bila menengok ke belakang, bisa memiliki rumah mungkin hanyalah mimpi indah bagi Siswanto dan keluarganya. Pertengahan tahun 2015 silam, dia mengalami momen paling pahit dalam hidupnya.

Beralasan efisiensi karyawan, perusahaan tempat dirinya menggantungkan harapan, melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Apesnya, Siswanto yang telah 10 tahun bekerja, ikut jadi korban PHK. Ia pun mendadak jadi pengangguran.

"Waktu itu, langit serasa runtuh menimpa saya. Saya kaget dan sedih memikirkan nasib anak istri. Tapi saya tidak mau menyerah. Saya percaya, selalu ada rezeki bila kita mau berusaha," kenangnya.

Siswanto sempat kelimpungan dibayangi kekhawatiran tidak lagi mendapat gaji bulanan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Terlebih, anaknya baru saja masuk Sekolah Dasar. Dia juga masih harus membayar sewa bulanan kamar kontrakan mungil seluas 4x3 meter yang ia tempati bertiga.

Bekerja Serabutan dengan Upah Seadanya

Namun, ia tak mau menyerah. Baginya, menangisi keadaan bukanlah pilihan tepat. Dia lantas bekerja serabutan. Apapun dia jalani. Yang penting mendapat pemasukan dari jerih payahnya. "Modal saya cuma satu mas, yang penting mau kerja," ujarnya.

Siswanto memang ringan tangan. Sejak kecil membantu orangtuanya bekerja di sawah, membuatnya doyan gawean. Karenanya, banyak orang senang mengajaknya bekerja dengan sistem sekali upah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun