Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Penulis - Penulis. Jurnalis.

Pernah sewindu bekerja di 'pabrik koran'. The Headliners Kompasiana 2019, 2020, dan 2021. Nominee 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

"Coco", tentang Cinta pada Keluarga dan Mengingat yang Telah Tiada

22 Februari 2019   06:54 Diperbarui: 22 Februari 2019   07:30 157
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Coco, tentang cinta pada keluarga dan yang telah tiada/dinocro.info


Kematian orang yang kita cintai bisa meninggalkan rasa kehilangan yang sulit disembuhkan. Namun, rasa sayang pada mereka yang telah pergi untuk selamanya, menyisakan kenangan yang tidak akan hilang. Karenanya, orang-orang terkasih yang telah meninggal, sejatinya tidak pernah meninggal sepenuhnya. Kita hanya tidak melihatnya lagi. Namun, kenangan akan mereka tetap hidup di alam pikir kita.

Kekuatan cinta pada orang-orang tersayang yang bahkan tidak bisa hilang karena dipisahkan kematian itulah yang agaknya menjadi ide dasar dari Coco, film animasi fantasi rekaan studio animasi Pixar dan diproduksi Walt Disney pada 2017 lalu.

Melalui Coco, Pixar menurut saya lagi-lagi berhasil mengemas sebuah film animasi keluarga dengan cerita yang menyentuh sisi kemanusiaan kita tetapi tanpa melupakan sisi keceriaan seorang bocah. Seperti halnya dulu Pixar punya Finding Nemo ataupun Up. Pantas saja film ini panen pujian dan penghargaan. 

Pertama kali menonton Coco bersama istri dan anak-anak, saya tidak ragu memasukkannya dalam daftar film Pixar terkeren selain Toy Story 3 (2010) dan Ratatouille (2007). Sejak itu, entah berapa kali kami menonton ulang film ini. Dan, setiap kali selesai menonton Coco, semuanya berakhir sama: keharuan dan berpelukan di akhir film.

"Ayah, kita sudah lama ya ndak nonton Coco, ayo nonton lagi," begitu kata anak sulung saya ketika merengek ingin menonton Coco.

Nah, Februari tahun ini, kami tergoda untuk kembali menonton film yang telah memenangi Academy Winner 2018 untuk kategori Best Animated Feature dan Best Original Song ini. 

Bagi saya, menonton Coco kali ini berbeda dari sebelum-sebelumnya. Lebih emosional. Saya, istri dan anak-anak bak seperti mendapat wejangan untuk terus mengingat orang yang kami cintai yang telah berpamitan selamanya.

Coco mendapat apresiasi positif dari insan film/theyoungfolks.com
Coco mendapat apresiasi positif dari insan film/theyoungfolks.com
Penyebabnya, sekira sepekan jelang 14 Februari yang diperingati sebagai Hari Kasih Sayang, kami kehilangan salah satu orang yang kami cintai. Kakak perempuan dari ibu saya meninggal. Kabar itu datang pagi-pagi sekali. Juga mendadak sekali.

Ingatan tentang semua kebaikannya lantas bermunculan bak lagu lama yang kembali diputar. Meski tidak berkecukupan secara ekonomi, beliau ringan tangan membantu saudara-saudaranya yang perlu dibantu. Anak-anak saya juga selalu senang ketika berkunjung ke rumahnya dan juga warung mungilnya. Mereka selalu girang diberi 'oleh-oleh' mainan maupun makanan ringan yang mereka sukai. "Sudah bawa saja, mereka kan nggak setiap hari ke sini," ujar Mimi, begitu saya menyapanya. 

Kebaikan-kebaikannya itulah yang akan abadi. Kami akan selalu mengenangnya. Seperti lirik lagu "Remember Me" di film Coco yang mmengajak kita untuk mencintai dan mengingat orang yang kita cintai meski terpisah jauh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun