Hadi Santoso
Hadi Santoso menulis dan mengakrabi sepak bola

Menulis untuk berbagi kabar baik. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Artikel Utama

Menyambut Serial Lanjutan Rivalitas Ginting-Momota di Denmark Open 2018

10 Oktober 2018   22:46 Diperbarui: 11 Oktober 2018   06:31 3259 7 8
Menyambut Serial Lanjutan Rivalitas Ginting-Momota di Denmark Open 2018
Tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting (kiri) akan kembali bertemu juara dunia 2018 asal Jepang, Kento Momota di Denmark Open 2018/Foto: Tribunnews

Setiap cabang olahraga selalu memiliki lakon utama. Lakon yang selalu menjadi darling alias kesayangan publik karena prestasi, kharisma bahkan mungkin tingkah laku kontroversial yang kerap jadi pemberitaan media.

Bahkan, seperti halnya film Superhero, di mana ada pahlawan super sekaligus penjahat super alias Villain, di dunia olahraga pun begitu. Ada banyak rivalitas antara dua orang yang sama-sama hebat.

Bedanya, di panggung olahraga, penyebutan "Superhero" dan "Villain" itu tergantung dari siapa mendukung siapa. Tergantung sudut pandang haters-nya yang menentukan siapa "pahlawan" dan siapa "musuh".

Bicara rivalitas panjang di dunia olahraga, di masa lalu kita mengenal ada Alain Prost dan Ayrton Senna di GP Formula 1. Lalu di tenis ada Roger Federer dan Rafael Nadal. Di Moto GP ada era Mick Doohsn vs Alex Criville, lalu Valentino Rossi vs Max Biaggi yang lantas berlanjut pada episode Rossi vs Jorge Lorenzo. Dan di sepak bola, tentu saja ada Lionel Messi vs Cristiano Ronaldo.

Pun, di bulutangkis, ada sejarah panjang rivalitas. Salah satu yang melegenda adalah rivalitas Susy Susanti dan Ye Zhaoying ataupun Bang So-hyun. Lalu Taufik Hidayat dan Peter gade Christensen. Serta, Lin Dan vs Lee Chong Wei yang kini masih bermain dan keduanya konon ingin pensiun berbarengan.

Sulit menemukan kembali rivalitas panjang seperti mereka. Di era sekarang, masih belum ada rivalitas yang benar-benar awet di bulutangkis. Awet dalam artian bertahan lama, tidak hanya setahun dua tahun.

Di tahun 2016-2017 lalu, Sempat muncul rivalitas panas antara ganda putra Indonesia, Marcus Gideon/Kevin Sanjaya dengan ganda Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen yang kala itu menjadi peringkat 1-2 dunia. Namun, tahun ini, seiring menurunnya performa Boe/Mogensen, rivalitas keduanya pun tak lagi seru.

Pun, di tunggal putra yang dulunya sangat sengit, kini persaingannya begitu cair. Tahun lalu, tunggal putra Denmark, Viktor Axelsen diyakini akan mendominasi setelah menjadi juara dunia 2017. Itu setelah pemain 24 tahun ini bisa mengungguli Lin Dan maupun Lee Chong Wei.

Tanpa Diduga, Ginting Muncul Jadi "Batu Kryopton" Bagi Momota

Namun, di tahun 2018 ini, penampilan Axelsen ternyata menurun. Dia beberapa kali tak berkutik ketika menghadapi pemain Jepang, Kento Momota yang langsung on fire setelah akhir tahun lalu terbebas dari skorsing akibat judi ilegal. Singkat cerita, Momota di tahun 2018 ini seolah tak punya lawan sepadan.

Pemain 24 tahun ini meraih gelar juara Asia dan juara dunia 2018 dan beberapa gelar bergengsi seperti Indonesia Open dan Japan Open. Pemain kelahiran 1 September 1994 ini pun kini menempati rangking 1 dunia.

Nah, yang kemudian tak disangka-sangka adalah kemunculan tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting sebagai lawan terberat Momota. Ketika semua pemain top dunia bisa dikalahkan Momota, Ginting yang sebenarnya "tak dianggap", justru bak menjadi "batu krypton" bila mengandaikan Momota seperti Superman.

Cerita rivalitas Ginting-Momota di tahun 2018 ini diawali dengan kisah dominasi pemain Jepang itu. Bermula di Indonesia Open 2018 yang digelar di Jakarta pada awal Juli lalu, Ginting takluk dua game langsung dari Momota di putaran kedua.

Lantas, di perempat final beregu putra Asian Games 2018 pada 21 Agustus 2018 lalu, Ginting yang menjadi tunggal pertama Indonesia, kalah rubber game dari Momota meski Indonesia akhirnya menang 3-1. Skor head to head pun menjadi 2-0 untuk Momota.

Karenanya, ketika jadwal kembali mempertemukan Ginting-Momota di putaran kedua bulutangkis nomor perorangan Asian Games 2018 pada 24 Agustus lalu, Momota lebih diunggulkan. Yang terjadi, Ginting tampil hebat dan mengalahkan Momota dua game langsung, 21-18, 21-18. Pertandingan yang menurut saya terbaik di bulutangkis Asian Games 2018 di nomor perorangan.

Dari sinilah, cerita rivalitas Ginting-Momota mulai disorot dunia. Apalagi, tiga pekan setelah Asian Games 2018, jadwal rupanya kembali mempertemukan mereka. Ginting bertemu Momota di final China Open 2018. Untuk Momota, final itu sudah sesuai prediksi. Tetapi untuk Ginting, itu bagai mimpi.

Ginting yang di China Open berada di "jalur neraka", ternyata bisa mengalahkan pemain-pemain top--dari mulai Lin Dan, Axelsen, Chen Long dan Chou Tien-chen. Dan di pertemuan ini, lagi-lagi Momota diunggulkan karena di pekan sebelumnya baru saja menjuarai Japan Open 2018 (sementara Ginting out di putaran kedua). Namun, Ginting rupanya ingin menuntaskan kejutan yang dibuatnya. Gintingoun berhasil mengalahkan Momota dua game langsung dengan skor ketat, 23-21, 21-19.

Sejak kemenangan Ginting di China Open 2018 itu, media-media luar negeri menganggap duel Ginting-Momota menjadi cerita baru yang layak diagungkan dalam rivalitas di bulutangkis tunggal putra era kekinian.

Menariknya, pada akhir September lalu, Momota berbicara kepada media tentang rivalitasnya dengan Ginting. Momota menyampaikan pengakuan bahwa Ginting menjadi salah satu musuh tersulitnya sekarang ini. Momota bahkan memuji Ginting unggul dari dirinya dalam beberapa aspek. Diantaranya dalam bermain net maupun soal kecepatan.

"Kalau mau main cepat, dia (Ginting) lebih cepat dari saya. Permainan dia di depan net pun juga lebih baik," ujar Momota seperti dinukil dari badspi.jp.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2