Hadi Santoso
Hadi Santoso menulis dan mengakrabi sepak bola

Menulis untuk berbagi. Ayo ikut "Cerahkan Indonesia" dengan berbagi kabar baik. Karena ada banyak hal hebat di dekat kita. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com. Instagram @HadiSantoso08/Twitter @HadiSantoso08

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Artikel Utama

Panen Gelar Bulu Tangkis di 2017 dan Harapan Menuju 2018

30 Desember 2017   11:39 Diperbarui: 30 Desember 2017   13:40 2665 5 4
Panen Gelar Bulu Tangkis di 2017 dan Harapan Menuju 2018
Pasangan Kevin/Marcus yang mendulang banyak gelar di 2017. CNNIndonesia

Bila harus menyematkan satu kata: pahit, hambar atau manis, untuk menggambarkan prestasi bulu tangkis Indonesia di tahun 2017, kata mana yang akan Anda pilih? Saya tidak ragu memilih kata manis.

Ya, tahun 2017 ini menjadi periode yang cerah bagi bulu tangkis Indonesia. Cerah karena bulu tangkis kita mulai memperlihatkan prestasi yang bisa bikin bangga. 

Ada banyak pemain/pasangan bulu tangkis Indonesia yang berhasil meraih gelar. Dari mereka yang masih berstatus junior hingga yang sudah senior, semuanya bisa mempersembahkan gelar-gelar keren untuk bangsa ini. Bukankah itu termasuk periode manis dan cerah bagi bulu tangkis kita.

Indonesia Juara Umum WJC 2017

Di level junior, Indonesia tampil sebagai "juara umum" World Junior Championship (WJC) 2017 alias Kejuaraan Dunia Junior 2017 yang digelar di Yogyakarta pada Oktober lalu. 

Indonesia tidak menyia-nyiakan status sebagai tuan rumah. Dari lima nomor (tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri dan ganda campuran), Indonesia sukses meraih dua gelar juara. Yakni dari nomor ganda campuran lewat pasangan Rinov Rivaldy/Pitha Mentari yang memenangi All Indonesian Final melawan Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva. Serta, tunggal putri lewat Gregria Mariska Tunjung yang memutus dominasi pemain Tiongkok di nomor ini.

Gregoria Mariska Tunjung, juara tunggal putri WJC 2017/Wartakota
Gregoria Mariska Tunjung, juara tunggal putri WJC 2017/Wartakota

Total, pebulutangkis-pebulutangkis muda Indonesia berhasil meraih lima medali di WJC 2017. Selain dua emas, juga dua perak dari ganda campuran dan ganda putri dan satu perunggu dari ganda putra. 

Ini kali pertama sejak turnamen ini digelar pada 1992 silam, Indonesia bisa menjadi "juara umum". Sebelumnya, pasangan ganda campuran Rehan Naufal/Siti Fadia juga sukses menjadi juara Asia Junior Championship 2017. Keren kan!

Itu belum termasuk beberapa gelar yang diraih di turnamen level grand prix ataupun International Challenge. Di tunggal putra ada Ahmad Maulana dan Ikhsan Leonardo Rumbay, lalu Ruselli Hartawan di tunggal putri. Kemudian di ganda putri ada Jauza Fadhila Sugiarto/Ribka Sugiarto. Dan masih banyak sekali daftar pemain muda Indonesia yang berprestasi di tahun ini.  

Sebelumnya, di bulan Agustus, tim putra bulutangkis Indonesia juga meraih prestasi hebat dengan meraih medali emas SEA Games bulutangkis di nomor beregu putra. Di final, Indonesia mengalahkan tuan rumah Malaysia dengan skor mutlak, 3-0. Gelar Indonesia semakin lengkap dengan emas di nomor perorangan tunggal putra yang dipersembahkan Jonatan Christie.

Tim putra bulutangkis Indonesia meraih medali emas SEA Games 2017/Juara.net
Tim putra bulutangkis Indonesia meraih medali emas SEA Games 2017/Juara.net

Pemain Indonesia Raih 12 Gelar Super Series Plus Juara Dunia

Di level senior, pebulutangkis-pebulutangkis Indonesia juga berjaya di turnamen BWF Super Series. Sepanjang tahun 2017, total ada 12 gelar Super Series/Premier yang diraih pemain-pemain Indonesia. 

Jumlah 12 gelar tersebut bahkan merupakan rekor jumlah gelar terbanyak yang diraih pemain Indonesia di BWF Super Series dalam setahun sejak format ini dikenalkan sekira sedekade silam. Pencapaian terbanyak sebelumnya terjadi pada tahun 2013 silam ketika pebulutangkis Indonesia meraih 11 gelar.

Pasangan ganda putra rangking 1 dunia, Marcus Gideon Fernaldi/Kevin Sanjaya Sukamuljo menjadi pemain yang paling banyak mempersembahkan gelar BWF Super Series/Premier untuk Indonesia di tahun 2017 ini. Total, Marcus/Kevin memenangi tujuh gelar dalam setahun yang merupakan rekor baru bagi ganda putra.

Ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Apriani Rahayu saat juara French Open Super Series pada akhir Oktober 2017/Republika.co.id
Ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Apriani Rahayu saat juara French Open Super Series pada akhir Oktober 2017/Republika.co.id

Lalu ganda campuran senior, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir memenangi dua gelar Super Series plus Kejuaraan Dunia di Glasgow pada Agustus lalu. Lalu, ganda campuran Praveen Jordan/Debby Susanto, ganda putri Greysia Polii/Apriani Rahayu dan tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting masing-masing menyumbang satu gelar.

Wajib Konsisten di Tahun 2018 Sembari Menunggu Munculnya Bintang Baru

Ya, tidak sulit menyebut nama atlet bulu tangkis Indonesia yang berprestasi di tahun 2017 karena saking banyaknya. Namun, seperti kata orang bijak, mempertahankan itu lebih sulit daripada meraihnya. Berprestasi itu keren. Tetapi, bisa berprestasi secara konsisten, itu jauh lebih keren. Utamanya di nomor-nomor yang prestasinya memang masih naik turun di 2017 seperti tunggal putra dan tunggal putri. 

Nah, bisa berprestasi secara konsisten inilah yang patut dinanti dari pebulutangkis-pebulutangkis Indonesia di tahun 2018. Rasanya tidak sabar menanti kabar Marcus/Kevin, Tontowi/Liliyana, Greysia/Apriani, Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting hingga Gregoria Mariska atau Ruselli Hartawan dan pemain-pemain Indonesia lainnya bisa kembali rutin meraih gelar di 2018.  

Yang juga patut dinanti adalah kiprah beberapa pasangan baru di nomor ganda yang akan mulai dipasangkan di tahun 2018. PBSI memang melakukan bongkar pasang di sektor ganda merujuk hasil evaluasi di tahun 2017. 

Di nomor ganda campuran, Praveen Jordan mulai 2018 akan berpasangan dengan Melati Daeva Oktavianti. Sementara eks rekan Praveen, Debby Susanto akan berpasangan dengan mantan pemain ganda putra, Ricky Karanda Suwardi. Serta, Hendra Setiawan/Mohamad Ahsan yang berpisah sejak Desember 2016 silam, akan kembali bermain bareng mulai di India Open pada akhir Januari.

Kiprah pemain-pemain muda yang naik kelas di Pelatnas dari pratama menjadi utama, yang tentunya akan lebih sering main di turnamen internasional seperti Rehan Kusharjanto/Siti Fadia Silva di ganda campuran, Frengky Wijaya/Sabar Karyaman di ganda putra, juga patut ditunggu. 

Saya juga berharap Ihsan Maulana Mustofa akan bisa berbicara banyak di tahun depan. Akan menjadi kabar hebat bila mereka langsung bisa berprestasi di "kelas yang baru".

2018 Tahun Penting Bagi Bulu Tangkis Indonesia

Indonesia menunggu konsistensi penampilan pebulutangkis-pebulutangkisnya. Sebab, tahun 2018 merupakan tahun penting bagi bulutangkis Indonesia. Ada dua kejuaraan penting yang harus disambut dengan benar. Benar dalam artian pemain-pemain kita siap fisik, mental dan on fire untuk memberikan yang terbaik bagi negaranya.

Mei nanti, Thomas Cup dan Uber Cup edisi ke-30 akan digelar di Thailand. Indonesia yang berpredikat negara yang paling sering juara Thomas Cup, tak pernah lagi juara sejak kali terakhir memenanginya pada 2002 silam. Tahun 2016 lalu, Indonesia jadi runner-up setelah kalah 2-3 dari Denmark. Uber Cup? Kita malah tak pernah lagi bisa juara sejak tahun 1996 silam.

Kemudian di bulan Agustus-September, akan ada Asian Games dengan Indonesia menjadi tuan rumah. Di bulutangkis, selain nomor beregu, juga ada nomor individu. Tentunya ada harapan besar pebulutangkis kita bisa menyumbang banyak medali. 

Minimal bisa menyamai pencapaian di Asian Games 2014 silam ketika Indonesia meraih dua medali emas lewat Hendra Setiawan/Mohamad Ahsan di ganda putra dan Greysia Polii/Nitya Maheswari.  

Selain dua kejuaraan besar tersebut, juga masih ada turnamen-turnamen penting yang masuk kalender BWF. Salah satunya All England yang akan digelar bulan Maret, lalu Indonesia Open di bulan Juli. Bisa dibayangkan betapa sibuknya pebulutangkis Indonesia di tahun 2018. Semoga 2018 menjadi tahun yang manis bagi bulutangkis bagi Indonesia, bahkan lebih manis dibanding 2017. Salam.