Mohon tunggu...
Leonardi Gunawan
Leonardi Gunawan Mohon Tunggu... Freelancer - Karyawan

Warga Negara Biasa Yang Ingin Indonesia Ke Piala Dunia

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

De Javu Prabowo Setelah Anies Bersedia Maju Pilpres

4 Oktober 2022   21:12 Diperbarui: 4 Oktober 2022   21:17 352 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Anies Baswedan telah setuju  menerima mandat dari Partai Nasdem untuk dijadikan calon presiden (capres) pada pilres 2024. Anies yang sekarang masih menjabat Gubernur DKI Jakarta adalah Gubernur non partai pada pilkada 2017 lalu. Sampai saat ini Anies tidak masuk dan tidak menjadi kader partai manapun. Dalam pencalonannya waktu itu ,  Anies bersama Sandiaga Uno diusung oleh Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera ( PKS).

Jelas dalam koalisi tersebut Gerindralah yang memegang kendalinya dengan Prabowo sebagai Komandannya. Prabowo saat itu sangat berkepentingan untuk mengamankan suara di DKI Jakarta, dengan naiknya Anies dan Sandi yang merupakan kader Gerindra sedikit banyak suara di DKI Jakarta bisa dikuasai dalam Pilpres 2019 lalu. Tetapi apa hendak dikata Anies memang berhasil naik jadi Gubernur, tetapi Prabowo sekali lagi kalah dari Jokowi dalam pilres 2019.

Menjelang pilpres 2024, Prabowo masih berhasrat untuk maju kembali, setidaknya begitulah yang diingkan oleh Partainya. Partai Gerindra secara bulat mengusulkan Prabowo Subianto sebagai capres dari Gerindra, walaupun untuk itu Gerindra harus berkoalisi dengan partai lain, Karena perolehan suara Gerindra di angka 12.57 %. Gerinda minimal berkoalisi dengan 1 partai menengah guna mengamankan tiket pilpres 2024 sebesar 20 %.

Dengan kesediaan Anies maju dan berpotensi menjadi lawan Prabowo hal ini seperti mengulang kejadian pada Pipres 2014. Prabowo sepert "DeJavu" disituasi seperti ini.  Pada Pilkada DKI Jakarta 2012 ketika itu sang petahana Fauzi Bowo sedang diatas angina. Fauzi Bowo dan pasangannya diusung oleh Partai Demokrat. Saat itu PDI -- P dengan Megawatinya sebenarnya condong ke Fauzi Bowo., cari aman.

Tetapi kemudian Prabawo dengan berani membawa dan mengusulkan duet Jokowi -- Ahok. Prabowo menyakinkan Megawati bahwa kedua orang ini layak untuk di dukung. Prabowo membawa Jokowi yang waktu itu masih menjabat wali kota Solo untuk bertarung di Jakarta. Dan ternyata instuisi Prabowo memang benar, Jokowi -- Ahok berhasil menang setelah dua putaran, menyingkirkan nama -- nama beken dari kader partai lainnya.

Tibalah pilpres 2014,  mungkin kalkulasi ini yang tidak Prabowo hitung, Ternyata nama Jokowi sebegitu terkenalnya sehingga, Prabowo yang saat itu begitu yakin bahwa tidak ada lawan karena  SBY sudah dua periode dan tidak bisa mencalonkan lagi., akhirnya harus berhadapan dengan Jokowi yang notabene beliau yang bawa ke pentas nasional.

Kejadian ini seperti terulang kembali sekarang. Naiknya Anies ke panggung politik boleh dikata karena Prabowo, Anies yang waktu itu sudah terpuruk karena "dipecat" Jokowi seakan memperoleh energi kembali setelah di promosikan oleh Prabowo.  Bahkan Anies waktu itu sempat berujar dan berjanji bahwa tidak akan mau di capreskan  kalau Prabowo ikut nyapres. Entah konsteksnya Anies bicara itu hanya untuk pilpres 2019 atau juga 2024 ? kita tidak tau cukup mereka yang menafsirkannya.

Dua kejadian yang hampir mirip ceritanya ini seakan menandai "ketidakberuntungan" bagi Pabowo. Disaat dia berfikir tidak ada saingan lagi, malah yang menjadi saingan adalah orang -- orang yang telah dia angkat.

Ceruk suara yang bakal Anies rebut adalah ceruk suara Prabowo. Pemilih yang tidak puas karena Prabowo bergabung dengan Jokowi sekarang punya pilihan di dalam diri Anies. Tidak perduli Anies dicalonkan partai apa yang penting dalam pilpres nanti tetap pilih Anies.

Mungkin sudah saatnya Prabowo untuk berfikir dan merenung, bahwa menjadi King Maker adalah kondrat yang beliau sandang. Tidak perlu lagi terjun langsung ke gelanggang politik, cukup dibelakang layar saja. Kalau Prabawo pada akhirnya tidak jadi maju dan menjatuhkan pilihannya kepada salah satu calon, penulis mempunyai keyakinan bahwa calon yang didukung Prabowo tersebut punya peluang yang sangat besar untuk memenangkan pilpres 2024.

Berat memang untuk sampai pada pilihan tersebut, dikarenakan masih ada Partai yang keutuhan dan kesolidannya yang harus tetap di jaga. Para kader yang telah berjuang mati -- matian di bawah tentu tidak rela kalau Prabowo tidak mencalonkan lagi menjadi Presiden. Bisa jadi mereka kecewa dan suara Gerindra bakalan anjlok.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan