Mohon tunggu...
Gurgur Manurung
Gurgur Manurung Mohon Tunggu... Konsultan - Lahir di Desa Nalela, sekolah di Toba, kuliah di Bumi Lancang Kuning, Bogor dan Jakarta

Petualangan hidup yang penuh kehangatan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Bang Sagala Teladan Rohani Kami Telah Beristirahat

7 Agustus 2022   16:48 Diperbarui: 7 Agustus 2022   16:51 267 12 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Bang Sagala, Adikmu Tio  Sedih

Kemarin sore saya  kaget ketika Ita Siregar mengatakan bahwa  bang Mangapul Sagala meninggal dunia.  Tolong kirim  berita itu samaku.   Berita itu langsung  dikirimnya dan saya kirim ke istri saya yang lagi di Bandung.  Istriku sangat sedih.  Sedih karena kakak kelasnya di teknik UI sekaligus Pembina rohaninya di kampus hingga kami berumah tangga.   Bang Sagala hampir tidak pernah lupa  mengirim hadiah ulang tahun anak kami Daniel dan Dora.  Mengapa  bang Sagala begitu perhatian kepada kami?. Maklum,  kami termasuk yang dijodohkan bang Sagala.  

Aku mau menikah denganmu karena bang Sagala yang meyakinkanku ketika kami naik kereta dari Bandung  ke Jakarta, kata  istriku.   Mana mau aku samamu kalau melihat penampilanmu yang lusuh?.  Modalmu hanya   baik hati  saja.  Hal yang meyakinkanku,  menikah denganmu karena bang Sagala mengatakan  bahwa abang orang baik. Kata bang Sagala abang baik sekali orangnya.  Karena bang Sagala bilang baik, maka aku membuka hatiku, kata istriku.

Tahun 1995  abang diperkenalkan bang   Indra Sinulingga,  alumni ITB  yang bekerja di  Perusahaan swasta di Pekanbaru.  Bang  Indra dan bang Wimphi Hallatu  meminta saya agar mengundang narasumber dari   Persekutuan Kristen  Antar Universitas  (Perkantas) Jakarta  untuk membina iman mahasiswa di Universitas Riau (UNRI).   Saya membuat surat untuk mengundang  untuk  datang  membina mahasiswa Kristen di Pekanbaru  untuk menjadi mahasiswa yang memiliki nilai-nilia Kristen secara total.  Bagaimana  menjadi mahasiswa Kristen harus taat kepada Firman Tuhan?.  Abang  berbicara  mengagumkan kepada mahasiswa hingga  memutuskan memilih  hidup  baru.

Sebelum abang kotbah di Pekanbaru, kami juga sudah mengundang   narasumber Perkantas dari Medan yaitu bang Tiopan Manihuruk.   Mendengar khotbah bang Tiop ditambah  lagi khotban abang membuat saya bergumul tentang makna kehidupan ini.  Sejak itulah saya serius melayani di kampus.  Ternyata hidup yang baru bagi Tuhan harus total kepada Tuhan.   Sejak kegiatan pembinaan tahun 1995 yang menghadirkan bang Sagala, bang Tiop, kak Ria Pasaribu dan bergantian dari Medan untuk membina mahasiswa Kristen di UNRI agar hidup sesuai  dengan Firman Tuhan. 

Seluruh mahasiswa Kristen  di UNRI yang pernah mendengar khotbahmu menginginkan abang hadir lagi khotbah dan pembinaan di Pekanbaru secara kontinu.  Bang Sagala  menjadi  narasumber yang ditunggu mahasiswa.  Selain khotbahnya yang dalam dan tajam, kemampuannya menulis lagu, menulis buku  dan juga mengajar menyanyi membuat kita terkagum-kagum. Abang adalah tokoh Kristen yang kami  teladani.  Betapa bahagianya hati jika abang akan datang ke Pekanbaru atau  hati akan berbunga jika akan  pergi ke kegiatan rohani yang pengkotbah adalah  bang Sagala.

Tahun 2000 an aku melanjut ke pascasarjana  IPB Bogor.  Dimana abang khotbah, aku berusaha hadir.   Rindu sekali mendengar khotbah bang Sagala. Saya dilibatkan mailinglist untuk berdiskusi tentang iman dan bagaimana kontribusi  bagi bangsa dan negara  yang kita cintai ini. Apa sih kontribusi kita untuk membangun Indonesia?   Diskusi-diskusi itu sering kita bahas dalam mailinglist.  Ketika aku di Bogor abang kuliah doktor  teologia di Singapura. Kita terus berdiskusi dan saya selalu pengikutmu dalam diskusi teologia di mailinglist  secara terbuka.  Saya tidak mau ada yang  melawan pemahaman teologiamu. Bagi saya Insinyur Metalurgi  dari UI kemudian belajar teologia secara formal hingga tingkat doktor  sangat menarik bagi saya.  Keilmuwan yang sempurna.

Pemahaman teologiamu  benar  dan  hidupmu benar.  Tidak ada cacat sedikitpun  perilakumu dimataku. Hidup kekristenanmu sempurna bagiku. Saya sadar, banyak hal kita berbeda pandangan. Hal itu tidak begitu penting bagiku.   Jika aku melihat ada yang berbeda denganmu, aku senyum dan berkata dalam hati, "kelihatan sekali siapa yang belajar teologia secara serius dan menjaga kekudusan hidup". Hidupmu total  menyerahkan diri  kepada  Kristus Yesus Tuhan kita.  Bang, betapa  bangganya aku  dan adikmu istriku kepadamu. 

Adikmu Tio, adik kelasmu di teknik UI itu sering bertanya, mengapa bang Sagala itu baik sekali kepada kita?  Karena  abang itu  adalah  orang yang memberi rekomendasi agar kamu  mau menikah denganku.  Kemudian Daniel dan Dora anak kita sangat bangga dengan Ompung Sagala.  Bang Sagala adalah orang yang membelikan jasku ketika menikah.  Bang Sagala tidak pernah lupa kasih  hadiah setiap ulang tahun Daniel dan Dora.  Entahlah bang,  betapa baiknya abang kita yang satu itu.  Dia adalah abang kita yang terbaik, kata istriku.

Bang Sagala adalah teladan bagi kami.  Walaupun  demikian, beberapa kali berbeda pendapat dalam  kehidupan sehari-hari.  Misalnya,  bang Sagala ini memang sangat hebat pemahaman teologianya. Tetapi ada kalanya  salah dalam komunikasi dengan beberapa pendeta yang sangat dekat dengan saya.  Beberapa  pendeta  menelpon saya agar menyampaikan pesan, "bilang abangmu itu agar  bagus berkomunikasi,".  Secara jujur,  hidup bang Sagala total kepada Tuhan tetapi dalam berdebat  sering salah komunikasi.  Secara substansi debat saya berpihak ke bang Sagala,  tetapi bang Sagala  kelemahannya adalah komunikasi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan