Mohon tunggu...
Kompasianer METTASIK
Kompasianer METTASIK Mohon Tunggu... Lainnya - Menulis itu Asyik, Berbagi Kebahagiaan dengan Cara Unik

Metta, Karuna, Mudita, Upekkha

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengenal Tari Sufi dari Turki, Penyatuan Ilahi Tanpa Sekat

10 April 2022   10:27 Diperbarui: 11 April 2022   05:35 874
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Mengenal Tari Sufi dari Turki, Penyatuan Ilahi Tanpa Sekat (dokpri, foto: Serdal Oncu)

Pernah melihat tari sufi? Tari ini sangat khas dan gerakannya tampak sederhana, hanya berputar-putar seirama. Penarinya mengenakan jubah putih dengan bawahan seperti rok payung yang melebar ketika berputar dan topi tinggi yang berwarna senada. Walau tampaknya ini adalah tarian sederhana, tetapi sangat terkenal di seluruh dunia. Bahkan musisi Ahmad Dhani pernah menggunakan tari sufi untuk lagu-lagunya.

Sebetulnya, tari sufi merupakan bagian dari ritual religi untuk menyatu dengan Tuhan. Tari sufi dilakukan sambil berzikir, mengagungkan nama-namanya. Begitulah maksud dari tari yang diciptakan sufi termashur dari Persia Jalaluddin Rumi. Sang Sufi dimakamkan di Konya, wilayah religius dari Turki.

Warna putih tidak hanya melambangkan kesucian, tetapi juga kain kafan yang membungkus seseorang ketika akan dimakamkan. Maksudnya, topi dan jubah putih menggambarkan kematian dari ego manusia. Semua pakaian dunia ditanggalkan, bersiap menghadap Allah SWT. Namun sesungguhnya, secara spiritual, kita lahir kembali.

Pada awal ritual dilakukan, penari yang disebut Darwis menyilangkan lengan sebagai perlambang penyatuan dengan Tuhan. Saat mulai berputar-putar, lengan  kanan terbuka menghadap ke atas langit, mewakili kesiapannya untuk menerima nikmat dari Allah. Sedangkan lengan kiri menghadap ke bawah mewakili kesiapan menyampaikan karunia rohani dari Tuhan kepada mereka yang menyaksikan.

Gerakan berputar dari kanan ke kiri dimaksudkan adalah mengelilingi hati sendiri sambil memeluk seluruh kemanusiaan dengan cinta. Dalam sufisme, diyakini bahwa manusia diciptakan dengan cinta untuk mencintai.

Rumi berkata," Semua cinta adalah jembatan menuju cinta Ilahi. Namun mereka yang belum mencicipinya tidak tahu".

Nah, kalau penasaran ingin melihat tari sufi di tempat asalnya, silakan datang pada festival Mevlana (Festival Jalaluddin Rumi) yang diadakan setiap tahun pada bulan Desember di Anatolia, Konya.

Di kota ini ada makam, perpustakaan dan museum sang sufi, kita bisa belajar secara langsung.  Museum Rumi merupakan pusat budaya Mevlana. Konya adalah tujuan ziarah satu juta muslim dari seluruh dunia. Mereka yang berkunjung bukan hanya beragama Islam, tetapi juga non-muslim.

**

Depok, 10 April 2022
Penulis: Muthiah Alhasany untuk Grup Penulis Mettasik

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun