Mohon tunggu...
A.S. Adam
A.S. Adam Mohon Tunggu... Aktif di salah satu media online

1+1=11

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Penulis Jangan Mau Dihargai Murah

15 April 2017   12:47 Diperbarui: 16 April 2017   11:43 0 13 4 Mohon Tunggu...
Penulis Jangan Mau Dihargai Murah
Johnny Depp berperan sebagai penulis dalam film Secret Window (Sumber gambar filmsandcoke.com)

JANGAN mau dibayar murah untuk tulisan mahal Anda. Banyak orang menganggap remeh terhadap tulisan. Misalnya saja di sejumlah website yang menyediakan tempat transaksi bagi pemberi kerja, pengguna jasa dan pekerja lepas yang saling menawarkan dan mencari pekerjaan secara online.

Namun sangat disayangkan, untuk satu tulisan hanya dihargai sangat murah. Perjudul tulisan sebanyak 1500-3500 kata dihargai tak kurang dari 20 ribu. Tentu saja ini merendahkan penulis. Setahu saya, perjudul tulisan sebanyak 350 kata diberikan upah antara 150-250 ribu rupiah. Ini kerap saya alami di sejumlah media massa. Mungkin bagi yang tulisannya sering dimuat oleh media massa secara halus akan menolak tawaran menulis sebanyak 1.500 kata perjudul dengan upah 20 ribu rupiah. Apalagi jika ini ditawarkan bagi yang kerap menulis buku.

Perlu diketahui, tulisan yang dimuat di surat kabar atau majalah upahnya bisa lebih dari 20 ribu rupiah. Untuk satu artikel atau satu judul mendapat harga upah mulai 150 ribu – 1.5 juta rupiah. Tentu tidak semua tulisan dimuat karena pihak redaksi akan memilih yang sesuai.

Saya pernah ngobrol ngalor-ngidul dengan teman-teman mantan editor surat kabar dan majalah, mereka juga merasa prihatin terhadap sejumlah agensi tulisan yang terlalu murah memberi upah. Tentu saja saya berharap banyak penulis yang lebih dihargai—diuwongke (dimanusiakan)—karena butuh proses panjang untuk menyelesaikan tulisan. Menulis juga butuh riset (meski pun hanya riset kecil) agar tulisannya bisa dipertanggungjawabkan. Belum lagi si penulis mengeluarkan biaya akomodasi dan transportasi untuk mencari nara sumber sebagai bahan tulisan. Namun ini menjadi berbeda bagi mereka yang secara ekonomi sudah mapan dan senang menulis, tentu saja (barangkali) tidak mengharapkan upah dari hasil tulisannya.

Saya jadi teringat kalimat pemilik apotek waralaba sukses yang kini memiliki lebih dari ratusan outlet apotek di Indonesia: “Saya heran, orang punya keahlian hebat kok menghargai dirinya murah?”

Ini hanya pandangan saya terhadap tulisan yang dihargai murah. Terlepas dari butuh uang atau tidak memang tergantung dari si penulis sendiri. Keputusannya ada pada si penulis. Pertanyaan saya: cukup puaskah anda menulis dengan uang yang anda terima?

Ingat! Banyak orang punya keahlian hebat tapi ia menghargai dirinya sendiri dengan harga murah. Padahal sebenarnya ia mampu menghargai dirinya mahal. Selamat menghargai diri anda sendiri.