Mohon tunggu...
Gregorius Nafanu
Gregorius Nafanu Mohon Tunggu... Petani - Pegiat ComDev, Petani, Peternak Level Kampung

Dari petani, kembali menjadi petani. Hampir separuh hidupnya, dihabiskan dalam kegiatan Community Development: bertani dan beternak, plus kegiatan peningkatan kapasitas hidup komunitas lainnya. Hidup bersama komunitas akar rumput itu sangat menyenangkan bagiku.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Kerbau dan Kuda Masih Diandalkan Mengangkut Beban di Wetar

20 Juli 2022   06:02 Diperbarui: 23 Juli 2022   15:02 1252
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kerbau beban di Lurang, Wetar,  bertugas untuk menarik balok kayu dari gunung. Foto pribadi

Suatu siang, beberapa tahun yang lalu. Seekor kerbau berjalan ngos-ngosan diikuti seorang pemuda bernama Sidik. Pemuda berkulit gelap ini memegang tali kendali kerbau dengan  tangan kiri. Sementara tangan kanannya memegang sebatang cambuk dari batang asam.

Kerbau itu kelihatan sangat lelah. Muncul busa dari mulut dan hidungnya Barangkali terlalu lelah untuk menarik dua batang balok kayu bayam di siang bolong itu.

Sementara, badannya basah  karena keringat bercampur air sungai yang diseberanginya. Langkahnya gontai, enggan untuk melangkah maju.

Namun apalah daya, ia harus tetap berjalan sebab jika berhenti, maka pemuda tadi akan menarik tali kekang. Akibatnya hidung kerbau yang dicucuk dan dimasukkan tali nilon, akan sakit.

Di Wetar, kerbau-kerbau pengangkut beban ini dicucuk hidungnya. Mereka menggunakan sepotong kayu yang diruncing salah satu ujungnya. Biasanya pencucukan hidung kerbau ini dilakukan setelah disapih atau menjelang dewasa. 

Setelah sembuh, maka si kerbau akan mulai dilatih untuk mengangkut beban. Dari gunung turun ke desa yang berada di pantai.

Kerbau pengangkut ini juga disewakan bersama dengan pengendali kerbaunya. Harga, tergantung pada kesepakatan. Dengan mempertimbangkan jumlah kayu dan sulitnya medan.

Kerbau Moa yang endemik, gemar berkubang di rawa-rawa. Foto pribadi
Kerbau Moa yang endemik, gemar berkubang di rawa-rawa. Foto pribadi

Di Maluku Barat Daya sendiri, sebenarnya ada kerbau endemik yang populasinya cukup banyak. Sebarannya paling banyak di Gunung Moa. Kerbau ini dinamakan Kerbau Moa. 

Konon, menurut cerita orang-orang tua, kerbaunya muncul begitu saja dari sekitar gunung. Kerbau Moa suka berkubang di setiap rawa-rawa yang ada. Juga sering melintasi jalan raya, menyeberang jalan. Hampir sama seperti kondisi yang ada di Pulau Sumba, NTT. 

Dalam kesempatan lain, saya sering berjumpa dengan dua orang penduduk setempat, Bapak Yopy dan Bapak Maksi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun