Mohon tunggu...
Grace Bintang Sihotang
Grace Bintang Sihotang Mohon Tunggu... Sihotang

Menulis untuk Keadilan, Bersuara untuk Menentang Ketidakadilan

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Pilihan

Surat Untuk Generasi Milineal : Jangan Samakan Jokowi dan Soeharto!!

23 Mei 2019   09:59 Diperbarui: 23 Mei 2019   19:20 0 10 7 Mohon Tunggu...

Saya sedikit prihatin lihat komen anak anak Milenial yang rata rata sok tau di Medsos. Mereka ada yang bilang, "Wah Rezim Sekarang Lebih Parah dari Soeharto". Hahhh???

Memperbandingkan dua hal itu dilakukan jika kita sudah dua dua mengalaminya. Mengalami kedua jaman itu  Tidak bisa anak yang baru hidup di jaman Jokowi membandingkannya dengan jaman Soeharto yang sama sekali belum pernah mereka alami.

Umur saya hampir 47 tahun. Walau wajah saya kelihatan seperti 20 tahunan tapi di KTP saya kelahiran tahun 1973 dan mengalami sendiri jaman Soeharto.

Ini perbedaannya :

1. Soeharto itu memerintah 32 tahun, bayangkan? sedang Jokowi satu periode saja belum, ini berarti apa? Soeharto dengan segala cara melanggengkan kekuasaannya. Hebat kan? Bisa bertahan 32 tahun tanpa ada yang berani protes? Itu tandanya apa? Dia walau selalu tersenyum namun otoriter. 

2. Soeharto sangat anti Islam. Saya ingat betul di penataran waktu SD hingga kuliah, selalu diindoktrinasi. Ekstrim kiri itu PKI sedang Ekstrim Kanan adalah Islam. Orang spt Habib Riziq tidak bisa hidup kalau Soeharto masih ada sekarang. Siapa yang protes, besoknya sudah hilang. Dulu banyak sekali orang yang hilang secara tiba tiba. Ingat peristiwa Tanjung Priok? Ustadz Abu Bakar Baasyir adalah musuh jaman Soeharto. Jadi jangan harap ormas Islam Radikal bisa hidup jaman  Soeharto ya, boro boro muncul, kedengeran sedikit langsung dilibas. Soeharto itu ibarat tokoh Thanos di film jaman Now, AVENGERS. Jokowi ? Saya bilang mah dia terlalu demokratis terlalu baik, makanya semua orang ngomong sembarangan dan bikin ricuh terus.

3. Jaman Soeharto Pemilu tidak pernah sedemokratis sekarang. Kalau sekarang kita pasti menunggu kan siapa yang menang. Kalau dulu kita sudah tau pasti, pemenang PEMILU pasti Golkar. Presiden juga dipilih MPR, bukan rakyat langsung yang memilih. Dulu semua orang diarahkan pilih Golkar bahkan dipaksa. Ayah saya pns, pernah sekali tidak memilih golkar langsung ketahuan dan dipanggil bos nya. Hampir dipecat. Itu berarti surat suaranya dibuka satu persatu. Malah di beberapa daerah pernah Golkar menang 100 persen. Sekarang? Wah sudah ratusan kali lebih demokratis dari dulu.

4. Jaman Soeharto semua media diawasi. Wah kalau Soeharto jaman sekarang masih hidup, itu yang berkoar koar dan ribut terus, udah ditangkap kali. Milenials tahu tidak, dulu Amin Rais itu hampir ditembak sama Kivlan Zen atas instruksi Prabowo, karena dulu vokal dan memproklamasikan diri ingin jadi Presiden. Sekarang? Mereka sekutu...

5. Jaman Soeharto ada yang namanya DOM, Daerah Operasi Militer contoh Aceh, Irian Jaya dan Timor Timur. Di daerah tersebut ditempatkan pasukan dan semua tindak tanduk masyarakat diawasi se represif mungkin. Di daerah DOM kalau ada yang mengacau dan ingin memisahkan diri langsung ditangkap. Xanana Gusmao ingat kan? Tokoh Pembebasan Timor Leste, ditangkap. Sri Bintang Pamungkas ditangkap, bahkan teman seangkatan saya sendiri di FHUI, Dita Indah Sari, hilang tiba tiba karena vokal memprotes Soeharto. Itu ibunya sampai nangis nangis telfon semua temannya. Sekarang ...mau pancung Jokowi aja berani...Kebablasan ini mah....

Banyak isu kekerasan dan perkosaan di tiga daerah DOM itu yg belum terungkap hingga sekarang, termasuk tragedi trisakti, tragedi perkosaan Mei dll. Jaman dulu tidak ada Mahkamah Konstitusi. Boro boro Mahkamah Konstituti, anggota DPR/ MPR saja yang milih pemerintah, ga ada gunanya pemilu...

Mau Protes hasil pemilu? Ga mungkin...hahaha. Orang ngomong vokal dikit langsung masuk penjara atau kalau tidak tiba tiba hilang.

Tipikal kerusuhan yang terjadi kemarin isu dan gerakan yang terjadi kemarin, mirip banget dengan tahun 1998. Model bakar bakar ban, dan merusak fasilitas umum polanya hampir sama. Yang sama lagi masyarakat dibenturkan dengan polisi, dengan  pemakaian peluru tajam sebagai bahan perdebatan dan akhirnya polisi yang selalu salah, padahal yang demo dan lemparin batu duluan adalah perusuh perusuh itu. Kesamaannya lagi saya heran kedua peristiwa tersebut ada tokoh yang sama, Kerusuhan Mei  1998 ada Prabowo, kerusuhan Mei 2019 kemarin juga ada Prabowo...Itu pertanyaan saya. Tahun 1998 dulu, Jokowi sudah jadi tokoh belum? Belum kan? Naaaahhh...

Tidak sepantasnyalah mereka bandingkan Jokowi dengan Soeharto. Jokowi itu memberikan banyak kontribusi baik untuk pembangunan, sedangkan Soeharto, nambahin utang Indonesia di luar negeri. Prabowo, apa ada kontribusinya buat negeri ini? Kasus pelanggaran HAM nya pun belum beres. Coba liat youtube Prof Mahfud MD, Jokowi itu biar dicari cari korupsinya beserta keluarganya ga bakalan ada . https://youtu.be/opWi4wTDHps 

Memang pemerintahannya belum sempurna tapi paling tidak dia dan keluarganya bersih dari korupsi. Soeharto, keluarga Cendana termasuk Prabowo, harta nya tidak bakalan habis tujuh turunan karena menjarah negeri ini.

Milenial sadarlah....Kalian tidak bisa bikin perbandingan, karena tidak mengalami jaman itu. Oleh karena itu.  Bertanyalah pada yang lebih tua dan pernah mengalami.

Saya bukan Cebong atau Kampret, tapi jangan samakan Jokowi dan Soeharto, karena sangat berbeda, langit dan bumi..Makanya Millenials Belajar SEJARAH...Lihat dan bandingan peristiwa Mei 1998 dan Peristiwa Mei 2019. Nahh...cari tokoh tokoh yang sama...Ada tiga tuh....Terus tanya lagi, Saat itu udah ada Jokowi? Belum lah...Dia saat itu mungkin masih jadi anak band di Jogja...Selanjutnya, simpulkan sendiri dalang kerusuhan kemarin..

Salam Damai.