Mohon tunggu...
Goris Lewoleba
Goris Lewoleba Mohon Tunggu... Alumni KSA X LEMHANNAS RI, Direktur KISPOL Presidium Pengurus Pusat ISKA, Wakil Ketua Umum DPN VOX POINT INDONESIA

-

Selanjutnya

Tutup

Keamanan

Mewaspadai Badai Kombatan ISIS ke Indonesia

9 Februari 2020   16:26 Diperbarui: 9 Februari 2020   16:33 99 1 0 Mohon Tunggu...

Goris Lewoleba

Di tengah hingar bingar kepanikan publik di Tanah Air terkait dengan merebaknya berita di Media Sosial dan  Media Mainstream mengenai Virus Corona yang konon amat mematikan itu,  muncul pula berita baru yang tak kalah menghebokan  publik di negeri ini  yaitu, mengenai  Rencana Kepulangan WNI eks ISIS ke Indonesia.

Pasalnya, apa saja kabar berita terkait dengan Teoris ISIS, dalam skala dan kadar apapun, bagi publik di negeri ini seolah seperti sedang mengalami mimpi buruk di siang bolong.

Hal ini disebabkan karena sudah menjadi semacam  common sense bahwa Teroris  ISIS merupakan wabah penyakit sosial politik dan kemanusiaan yang amat  mengerikan dan sangat mematikan dalam hidup  dan  kemanusiaan

Bahkan gerakan perjuangan  kelompok Teroris ISIS ini  cenderung membinasakan seluruh aspek kehidupan dan kemanusiaan,  dengan topeng dan argumentasi kejahatannya yang  dilakukannya  dengan meneriakkan  Takbir !!, suatu seruan perjuangan  atas  nama Kebesaran dan Kemuliaan  Tuhan.

Sudah menjadi rahasia umum bagi publik di seantero jaga raya ini bahwa, ISIS merupakan komplotan teroris yang amat mengerikan bagi masyarakat di seluruh dunia, dengan gerakan kejahatan moral dan  kemanusiaan atas nama agama serta  demi Kebesaran  Nama  Tuhan yang Maha Baik.

Dikatakan demikian, karena hampir semua identitas dan momen klatur tindakan kejahatan moral dan kemanusiaan yang dilakukan oleh kelompok teroris transnasional ini,  melabeli dirinya dengan semua  identitas dari agama tertentu.

Padahal, semua orang di bawah kolong langit ini,  sudah  tahu dan paham benar  bahwa, tidak ada satupun agama di dunia ini, apalagi agama samawi, mengajarkan  tentang tindakan  kekerasan serta  kejahatan moral  demi merusak kemanusiaan dan melenyapkan kehidupan atas nama Tuhan.

Akan tetapi, amat disayangkan pula  bahwa, sebagian umat beragama di negeri ini tergoda oleh bujuk rayu para teroris dimaksud untuk mengikuti garis  perjuangan politik dari para teoritis yang amat bengis dan tak manusiawi itu.

Bujuk rayu itu diimingi  dengan janji manis  bersama para pendayang surga, yaitu 70  bidadari, nan cantik jelita, bilamana nyawa mereka ikut terenggut  sebagai akibat dari bom bunuh diri yang dilakukannya,  dengan mengorbankan pula  banyak nyawa manusia lainnya.

Bahkan,  yang amat mengenaskan adalah bahwa, dengan indoktrinasi melalui mekanisme brain wash atau gerakan  cuci otak  yang dilakukan oleh para Teroris ISIS,  maka para teroris yang tergabung dalam komplotan ISIS ini dapat  menghabisi nyawa sesamanya, bahkan bila perlu nyawa orangtuanya sendiri,  serta para kerabat dekatnya, bilamana pandangan mereka tidak sejalan dengan ideologi  para Teroris ISIS.

Mereka dapat dianggap kafir oleh para Teroris ISIS, dan oleh karena itu, darah dan nyawanya dianggap halal demi keyakinan para teroris dimaksud.

Kombatan ISIS sangat Berbahaya

Berawal mula dari pemberitaan di berbagai media di Tanah Air atas sinyalemen bahwa akan dipulangkannya WNI Eks ISIS ke Indonesia, maka tak ayal kabar itu telah menggemparkan hati  nurani hampir seluruh  publik di Tanah Air.

Hal ini, disebabkan karena pada saat yang sama, ketika  membayangkan kehadiran para Kombatan ISIS di Tanah Air, publik seolah dihantui sacara traumatik dan merasa seperti sedang berada pada Pintu Gerbang Neraka di Dunia.

Analogi ini memang  terasa amat  hiperbolik, tetapi rasanya tidak berlebihan jika diperlihatkan beragam  kekejaman dari para Teroris ISIS di berbagai Kamp Pengungsian di Timur Tengah,  yang tampaknya tak sanggup untuk dibayangkan bila mana Kombatan ISIS itu berada di sekitar kita di negeri ini.
 
Apa lagi, adanya fakta dalam  kenyataan bahwa, para Kombatan ISIS ini tidak lagi mengakui dirinya sebagai Warga Negara Republik Indonesia, dengan melakukan
sumpah setia kepada negara baru versi kelompok mereka, dengan berjuang sampai pada titik darah yang penghabisan.

Kemudian, para Kombatan ISIS ini juga  sudah secara sadar dan yakin untuk  menolak Ideologi Pancasila, serta  pernah secara sadar dan sengaja  serta secara  sukarela bergabung dengan negara baru versi mereka yaitu  Negara ISIS.

Kemudian, mereka juga secara sadar dan sukarela, berjuang dan memerangi negara lain untuk mendirikan negara versi mereka. Mereka berjuang dengan berbagai cara termasuk berperang dengan pihak manapun untuk mempertahankan negara yang mereka dirikan yaitu Negara  ISIS itu sendiri.

Di samping itu, mereka juga secara sukarela bergabung dalam gerakan militer negara asing untuk memperjuangkan tujuan politik yang mereka usung dengan menghalalkan segala  cara untuk mencapai tujuan.

Dan hal yang  lebih mengenaskan adalah bahwa, mereka telah melucuti Identitas Kewarganegaraan Indonesia secara sadar dan sukarela dengan membakar Paspor Warga Negara Republik yang dimilikinya.

Memperhatikan berbagai hal tersebut di atas dan dengan mengacu kepada referensi Undang-Undang Nomor 12  Tahun 2006 rentang Kewarganegaraan, maka sudah jelas bahwa, mereka para Kombatan ISIS ini bukan lagi Warga Negara Republik Indonesia.

Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah harus tegas  terhadap kelompok-kelompok  yang berjuang untuk mengubah dasar negara kita Pancasila termasuk mereka para Kombatan ISIS  yang secara tegas berideologi berbeda dan secara terang benderang menolak Ideologi Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bahkan mereka telah menyatakannya  dalam bentuk tindakan nyata, berupa pengkhianatan terhadap Negata  Kesatuan Republik Indonesia  dan Pancasila dengan bergabung bersama kelompok ISIS dan mendirikan negara sesuai dengan versi mereka.

Sehubungan dengan hal itu, maka sebagaimana dilaporkan oleh Gatra.Com (7 Februari 2020), diketengahkan bahwa,  kita jangan mudah lupa dengan kekejian yang dilakukan kelompok mereka, baik yang terjadi di negara lain ataupun di negara kita  Indonesia.

Berulang kali telah  terjadi usaha keji yang dilakukan oleh  kelompok mereka dengan menyerang warga sipil yang sedang beribadah bahkan melakukan penyerangan terhadap pihak berwajib.

Dengan demikian, maka dapat dibayangkan jika 600'an orang  Kombatan ISIS itu  kembali ke Indonesia, maka negara yang indah permai ini dengan masyarakat Indonesia yang ramah tamah dan riang gembira, penuh dengan sukacita ini,  akan dapat menjadi bulan-bulanan para Teroris Kombatan Teroris  ISIS itu.

Ditegaskan pula bahwa,  siapa yang bisa menjamin keselamatan warga negara Indonesia ketika Badai  Kombatan Teroris ISIS itu hadir dan melanda masyarakat  Indonesia. Siapa pula  yang bisa menjamin bahwa mereka telah insyaf dan kembali kepada Ideologi Pancasila dan hidup sesuai dengan tatanan sosial budaya  dalam selimut  Nilai-Nilai Bhineka Tunggal Ika di negara  Indonesia yang tercinta ini.

Jangan Biarkan Mereka Pulang

Ketika merebak berita wacana dan rencana kepulangan para Kombatan ISIS ke Tanah Air, sontak saja, semua pihak di negeri ini menolak dengan amat keras rencana kepulangan para Kombatan ISIS itu, tidak terkecuali Presiden Joko Widodo, meski penolakannya itu atas nama pribadi sebagai seorang Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebagaimana diberitakan Kompas (6 Februari 2020), Presiden Joko Widodo mengatakan bawa,  "Ya, kalau bertanya  kepada saya (pribadi), saya akan bilang (tidak dipulangkan)" kata Jokowi (Rabu, 5/2/2020), di Istana Merdeka Jakarta, saat ditanya sikap pemerintah terkait pemulangan WNI eks NIIS.

Memperhatikan respson Presiden Joko Widodo atas wacana dan rencana kepulangan para Kombatan ISIS ke Tanah Air seperti itu, dapat menjadi semacam suatu sinyal dan indikasi kuat  bahwa, memang rencana kepulangan mereka itu merupakan ancaman yang amat serius bagi ketenangan masyarakat Indonesia.

Meskipun sikap pemerintah bahwa,  masih akan membahas persoalan itu secara cermat dalam Rapat Terbatas, tetapi rencana kepulangan dan memulangkan para Kombatan ISIS itu  merupakan ihwal  yang tidak dapat dianggap sebagai hal yang semestinya dilakukan.

Berkenaan dengan hal itu, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Sidarto Danusubroto (2020),  menilai bahwa Rencana Pemulangan 660 Kombatan ISIS itu bisa menjadi preseden buruk.

Oleh karena itu, upaya sebagian  pihak yang memfasilitasi  kepulangan bekas Kombatan ISIS itu dikuatirkan akan melegalisasi tindakan mereka,  sehingga hal serupa akan dapat berulang terjadi di Tanah Air. Apa yang mereka lakukan telah menabrak konstitusi. Jika memulangkan mereka artinya, kita melegalisasi tindakan orang yang melakukan kejahatan kemanusiaan dan kejahatan  terhadap bangsa dan negara.

Diandaikan bahwa, kepergian mereka  ke luar negeri dan bergabung dengan ISIS itu sebagai kesalahan fatal yang manusiawi, dan dianggap sebagai warga Negara Republik Indonesia yang sedang tersesat menuju ke jalan kebaikan dan kebenaran, maka sudah tentu kepulangan mereka patut difasilitasi oleh semua pihak karena mereka adalah Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Akan tetapi,  indakan para Kombatan ISIS itu memang sudah melampaui batas toleransi sebagai Warga Negara Indonesia  dalam lingkup dan ranah Hak Asasi Manusia sekalipun.

 Dikatakan demikian karena, tindakan mereka  menabrak Konstitusi, dimana mereka  bepergian ke luar negeri secara ilegal, membakar Paspor  mereka sebagai Warganegara Indonesia, dan menyebut Indonesia sebagai Negara Kafir dan menolak Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia.

Dengan demikian, maka  sejak sekarang dan ke depan, semua pihak di Indonesia, terutama Pemerintah, harus bertindak  tegas bahwa, orang yang sudah meninggalkan kewarganegaraan  dengan merobek  serta membakar Paspornya sebagai Warga Negara Indonesia dan menganggap Indonesia sebagai Negara Kafir, sebaiknya harus direlakan, dan biarkanlah mereka pergi, karena  "Dunia ini tidak selebar Daun Kelor".


Goris Lewoleba

Alumni KSA X LEMHANNAS RI, Direktur KISPOL Presidium Pengurus Pusat ISKA, Dewan Pakar VOX POINT INDONESIA.

VIDEO PILIHAN