Mohon tunggu...
Agoeng Widodo
Agoeng Widodo Mohon Tunggu...

Seseorang yang sedang belajar, dan sangat memimpikan Indonesia yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem karto raharjo

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Pasar Dieng

14 Mei 2012   08:13 Diperbarui: 25 Juni 2015   05:19 829 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pasar Dieng
13369782121480509364

Mentari siang itu begitu menyengat. Namun tetap saja tidak mampu mengalahkan hawa dingin yang menusuk pori-pori.  Bayu, Eko, Fajar, Ando dan Rudi menyusuri jalanan setapak berbatu di kawasan Cemoro Sewu. Yah, mereka berlima memang bermaksud mendaki Gunung Lawu di malam satu suro kali ini. Disepanjang perjalanan yang mereka lalui, tak jarang mereka bertemu dengan para pendaki lain dari berbagai daerah. Bagi mereka berlima, ini merupakan pengalaman pertama mereka mendaki gunung. [caption id="attachment_177040" align="aligncenter" width="441" caption="Ilustrasi penulis"][/caption] Setelah beberapa jam mendaki, akhirnya sampailah mereka di Sendang Drajad. Dari wajah-wajah mereka tersirat keletihan yang luar biasa. "Teman-teman, kita nge-camp di sini saja ya!" Ando mengajak yang lain "Atau menginap di goa di depan sendang drajad itu saja?" Bayu menambahi "Ga usah Do, kita langsung ke Hargo Dalem saja. Tinggal 45 menit lagi saja kok" jawab Fajar "Baiklah, ayo kita lanjutkan perjalanan!"  kata Ando menanggapi Rombongan kecil itu kembali meneruskan pendakian.  Setelah 30 menit berjalan, sampailah mereka disebuah pertigaan. Jika ke kiri maka mereka akan sampai di Puncak Hargo Dumilah, sedangkan jika berjalan lurus, maka akan sampai di Hargo Dalem. Hanya dibutuhkan waktu 15 menit, mereka sudah sampai di Hargo Dalem. Hargo Dalem senja itu memang sangat ramai oleh pendaki dan peziarah. Mereka ada yang mendirikan tenda, adapula yang beristirahat di bangunan-bangunan dari seng yang banyak terdapat di sana. Bahkan beberapa dari mereka ada yang beristirahat di warung-warung makan yang ada. Fajar dan teman-teman lebih memilih mendirikan tenda tak jauh dari batu yang berbentuk blok-blok di lokasi Hargo Dalem. Setelah tenda berdiri, mereka segera mengeluarkan parafin dan peralatan memasak. Beramai-ramai mereka menyeduh mie instan dan kopi susu guna mengusir hawa dingin yang kian menusuk. Selesai makan, mereka memutuskan untuk segera tidur, karena pagi-pagi sekali mereka bermaksud mendaki ke puncak Hargo Dumilah untuk menyaksikan matahari terbit. Meski udara dingin, namun mereka tetap merasa hangat dengan api unggun kecil di dekat tenda. Fajar hanya membolak-balikkan badan saat beberapa temannya sudah mendengkur. Dia sepertinya belum mengantuk sehingga dia memutuskan untuk keluar dari tenda. Sesaat dia kaget begitu keluar tenda. Tak jauh dari tenda mereka kelihatan hiruk pikuk orang. Fajar berjalan diantara hiruk pikuk dan lalu lalang orang. "Wah, kok makin malam makin ramai saja ya tempat ini, makin banyak saja orang yang berjualan" fikirnya "Mau beli apa kamu?" sebuah suara mengagetkan Fajar "Tidak, saya tidak mau membeli apa-apa. Saya hanya berjalan-jalan saja" jawab Fajar "Kamu siapa?" tanya Fajar penasaran "Oh..iya, aku Surti" jawab sang gadis "Memangnya kamu jualan apa?" Fajar semakin penasaran "Aku membantu simboku. Tuh warung simbokku" jawab Surti sembari menunjuk ke arah sebuah warung "Ayo mampir ke warungku!" ajak Surti sembari menarik tangan Fajar Fajar hanya bisa mengikuti kemauan Surti. Warung tempat simbok Surti jualan ternyata sangat ramai. Beberapa orang nampak duduk sambil minum kopi. "Ayo, silahkan dicicipi!" kata Surti sembari menyerahkan segelas kopi hagat dan beberap potong ubi goreng "Terima kasih Surti" jawab Fajar "Aku bantuin simbok dulu ya" pamit Surti Sepeninggal Surti, Fajar langsung menyeruput kopi tersebut. Benar-benar terasa hangat di perutnya. Bahkan hanya dalam hitungan detik saja ubi goreng pemberian surti sudah lenyap. Entah karena kekenyangan, atau kecapaian, Fajar langsung tertidur.

*****

"Ando, Eko, Bayu, bangun-bangun" suara Rudi membangunkan temannya

"Ada apa sih Rud, kan pagi masih lama" jawab Bayu malas

"Fajar ga ada Yu" jawab Rudi

"Apa????" hampir serentak mereka menjawab

Malam itu mereka berempat sibuk dan bingung mencari keberadaan Fajar. Beberapa warung dan kemah-kemah mereka datangi. Namun Fajar tak kunjung ditemukan. Bahkan sampai pagi menjelang, Fajar belum juga bisa ditemukan. Dari mulut ke mulut, berita adanya orang hilang santer terdengar. Bahkan beberapa mapala dan sar dari UNS turut mencari keberadaan Fajar. Namun tetap saja sosok Fajar tidak berhasil ditemukan.

*****

Sampai 7 hari kemudian, Fajar masih belum ditemukan. Pak Hendra (ayah Fajar) dan teman-teman Fajar mencoba mengajak orang pintar untuk mengetahui keberadaan Fajar. Beberapa ubo rampe dipersiapkan. Dengan ditemani Rudi, Ando, Bayu, dan Eko, rombongan yang terdiri dari Pah Hendra (ayah Fajar) dan beberapa famili serta Ki Mukti (orang pintar) tersebut menuju ke Hargo Dumilah.

"Di sinilah kami mendirikan tenda mbah" kata Bayu

"Hee..emm, di sini ini namanya Pasar Dieng nak Bayu" jawab Ki Mukti menjelaskan

"Pasar Dieng ini disebut juga pasar setan, karena di sini memang terdapat sebuah pasar bagi para lelembut"

"Makanya kalau kalian disini tiba-tiba mendengar ada suara yang menanyakan mau beli apa?, segera saja lemparkan beberapa uang dan petiklah beberapa daun atau rumput yang ada" tambah Ki Mukti

Hampir seluruh anggota rombongan tersebut manggut-manggut mendengar penjelasan Ki Mukti.

"Jika memang nak Fajar tidak mau makan atau minum yang mereka suguhkan, pasti dia bisa kembali"  ucap Ki Mukti.

Siang itu berbagai ritual untuk bisa menemukan Fajar dilakukan, namun hingga menjelang senja belum ada tanda-tanda keberadaan Fajar, hingga akhirnya rombongan kecil itu memutuskan untuk turun. Mereka melangkah dengan gontai. Nampak sekali kesedihan di wajah mereka.

"Fajar, dimana kamu nak?" ucap Pak Hendra lirih

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x