Giri Lumakto
Giri Lumakto Digital Ethicist

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, Bahasa, dan Budaya | Awardee BPI-LPDP 2016-2018 | M.Ed in TESOL University of Wollongong, Australia | LinkedIn: girilumakto | Blog: lumakto.blogspot.co.id | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Digital Artikel Utama

Antara IGTV, Format Video 9:16, dan Kemalasan Generasi

22 Juni 2018   20:46 Diperbarui: 23 Juni 2018   08:55 1958 10 6
Antara IGTV, Format Video 9:16, dan Kemalasan Generasi
Grab Vertical No - ilustrasi: jcatalan55.es

Instagram (IG), sebagai sosmed yang sedang digandrungi kalangan millenials baru merilis IGTV. Sebagai fitur add-on di IG. IGTV nantinya diisi dengan beragam video. Bukan sekadar video pendek seperti Story. Tapi juga video dengan durasi 1 jam lamanya. Kevin Systrom sebagai co-founder IG optimis fitur baru pada IG ini akan disukai user. 

Menurut eMarketer, budget iklan dengan format video akan terus meningkat. Diprediksi akan meningkat 22% di tahun 2019 daripada tahun 2017. Nilainya ditaksir mencapai 18 miliar USD. Menurut laporan Snapchat di tahun 2015, iklan akan 2 kali lebih banyak diperhatikan saat video berformat vertikal. 

Berbeda dengan YouTube, video di IGTV berformat 9:16 atau vertikal. Dengan kata lain, users tidak perlu memutar HP mereka seperti saat menonton YouTube. Pun, para creators nantinya tidak perlu repot merekam dengan mode horizontal. Cukup menekan tombol record sebagaimana HP dibuat, yaitu vertikal bukan horizontal.

Merekam video dengan format 9:16 kini dilabeli VVS atau Vertical Video Syndrome. Walau bukan sebuah gejala klinis, VVS sendiri menjadi olok-olok netizen. Sebuah video dari glooveandboots mengkritisi secara sarkas model video dengan potrait orientation. Seorang YouTuber, pogobat pun menyalahkan bentuk iPhone yang membuat orang lebih suka merekam dengan format 9:16. Bahkan, situs saynotoverticalvideos.com mengajak kita mengkoreksi format video vertikal yang ada.

Pro dan kontra tentang format video 9:16 pun muncul. Alasan kontra misalnya, saat format 9:16 dipindahkan ke layar horizontal pada layar TV/monitor. Maka akan muncul border hitam kiri-kanan yang cukup besar. Saat merekam secara vertikal, banyak scene/latar yang tidak terekam. Dengan kata lain, mode horizon akan lebih banyak memunculkan scene/latar.

Namun kini, video vertikal menjadi kian populer. Beberapa bentuk tidak selamanya bisa difoto berformat landscape. Seperti misalnya gedung tinggi atau penyanyi di atas panggung. Pengguna HP pun lebih mudah melihat format video 9:16 daripada 16:9. Dengan kata lain, karena HP umumnya dipegang secara vertikal, bukan horizontal.

MOVR Mobile di tahun 2016 melaporkan bahwa 94% pengguna HP memegang HP secara vertikal. Kebiasaan juga didukung aplikasi yang kebanyakan menggunakan mode potrait. Sejak laporan Snapchat di tahun 2015, video dengan mode potrait mulai digandrungi. Aplikasi Tik Tok pun sudah menerapkan video vertikal sejak dirilis 2015. 

Implikasi video vertikal menjadikan orang malas. Demi memutar 90 derajat HP mereka untuk merekam atau menonton saja begitu sulit. Mungkin ada dua faktor penyebab kemalasan ini. Pertama, menjamurnya format 9:16 membuat orang menyerah pada tren yang ada. Kedua, karena ketidaktahuan akan kecakapan dasar video formatting.

Pada alasan pertama, users memang akan ikut saja pada tren yang ada. Apapun yang diberikan vendor, creators atau users lain akan diterima saja. Coping mechanism dalam interaksi (media) sosial digunakan. Daripada pusing berkomentar atau nyinyir pada perekam video vertikal. Tonton saja dan nikmati daripada harus ribut sana-sini tiada jelas.

Alasan kedua mungkin lebih teknis bagi banyak pengguna HP. Karena memang tidak tahu tentang skill video formatting atau bahkan fotografi. Merekam/membuat foto secara vertikal dianggap biasa saja. Mulai dari orangtua, anak muda, sampai anak-anak bisa dan biasa merekam video 9:16. Saat bisa dan biasa menjadi pemakluman bersama, format video 9:16 menjadi konvensi.

Dari fenomena diatas bisa kita pahami. Ada ranah interaksi manusia, teknologi dan algoritmanya yang masih gelap. Saat literasi manusia hanya mampu melihat dunia digital sebagai instrumen. Interaksi didalamnya masih terus dipelajari. Cepatnya teknologi berubah dan mempengaruhi kehidupan sosial, tidak secepat manusia memahaminya. Dan kini kita diambang tersesat di dunia digital tanpa literasi digital yang mumpumi. 

Salam,

Solo, 22 Juni 2018

08:54 pm