Giri Lumakto
Giri Lumakto Digital Ethicist

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, Bahasa, dan Budaya | Awardee BPI-LPDP 2016-2018 | M.Ed in TESOL University of Wollongong, Australia | LinkedIn: girilumakto | Blog: lumakto.blogspot.co.id | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Artikel Utama

Lebar, Luber, Lebur, dan Labur di Lebaran

14 Juni 2018   11:07 Diperbarui: 15 Juni 2018   08:23 2407 6 6
Lebar, Luber, Lebur, dan Labur di Lebaran
Hand Jigsaw- foto: pixabay.com

Pada suku kata dan salin suara kata Lebaran, ada makna kearifan. Dalam kata dan suara asal kata Lebaran, ada aktivitas kita yang mengaktualisasinya.

Lebaran berarti lebar atau usai. Dengan tiada lagi kita berpuasa kita dianjurkan makan di pagi hari. Usai sudah menahan lapar dan dahaga karena perut terisi makanan. Namun kawan, bukan berarti esensi berempati saat berpuasa juga selesai. Makna usai berpuasa juga berarti kita sudah paripurna memahami empati menyoal urusan perut. 

Usai sudah juga satu masa kita berlebihan dalam mengkonsumsi. Usai pula membeli semua barang yang kadang tidak perlu. Bisa jadi, hidup hemat didapat setelah terlalu boros di Ramadhan. Dan memang, penyesalan datang dan diambil hikmahnya belakangan kawan.

Dalam Lebaran, pun bersalin suara dengan luber. Ada sebuah entitas yang harus berlimpah. Bukan dalam kesombongan berpakaian dan berucap. Tetapi dalam berbagi dan melayani. Berbagi dengan membayar zakat fitrah. Zakat yang menjadi peneguh rasa empati untuk sesama. Lalu berilah dan sajikan sanak keluarga hidangan istimewa. Jika punya, 2-3 lembar uang baru 5,000 Rupiah bisa membahagiakan keponakan dan anak tetangga.

Pun tidak hanya materi bisa banyak dibagi. Senyumlah dan berilah maaf yang tulus juga jadi bentuk sedekah. Bukankah senyum ikhlas juga adalah sedekah. Sesederhana itu Nabi kita sudah berpesan perihal berbagi kawan.

Lebaran juga bersanding suara dengan lebur. Dengan sungkem dan tulus mengucap maaf, kita lebur salah dan khilaf. Terutama pada keluarga. Orang-orang terdekat yang kadang kita sakiti. Seolah kita tiada faham merekalah yang nanti berada disamping kita dalam susah dan senang. Salam, salim dan sungkem menjadi penegas, kalau salah harus dilebur. 

Saling meminta maaf dan memberi adalah tanda saling melebur. Tiada harus saling merasa siapa paling bersalah. Tiada pula ada yang merasa selalu menjadi korban kesalahan. Di hari Lebaran, saling memaafkan adalah norma. Sungkan dan rikuh bila satu pihak terus keras kepala dengan egonya.

Lebaran pun berarti labur atau melabur. Ada yang diputihkan atau dihapus dari diri kita. Dosa dan kesalahan pada Tuhan dan sesama adalah perihalnya. Dengan meminta bertakbir sepanjang malam dan pagi. Inilah tanda kita meminta kepada Tuhan dosa kita dilabur. Meminta kepada-Nya perihal pengampunan yang dijanjikan saat Ramadhan.

Bukankah seusai kita sungkem, ada perasaan lega dalam hati kawan. Perasaan menjadi kembali jiwa yang kembali tenang. Bisa jadi kesalahan pada ayah kita begitu membebani hidup. Ternyata dengan meminta maaf, luntur semua gelisah dan gundah kita. Hati kita serasa kembali ke tempatnya yang tenang tiada turbulensi.

Bertakbir mengagungkan Tuhan. Sungkem mencium tangan orangtua seusai solah Ied. Sembari bersalaman dan menyesapkan ego atas kesalahan dengan saling memberi maaf pada sesama. Lalu berbagi rezeki dengan makanan istimewa dan salam tempel. Adalah aktualisasi esensi makna Lebaran kawan.

Salam,

Boyolali, 14 Juni 2018

11:03 am