Gilang Dejan
Gilang Dejan Amateur Football Writer

Football is the art of managing possibilities

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Aksi Teror yang Membuat Persebaya Tak Penting Lagi

17 Mei 2018   16:48 Diperbarui: 17 Mei 2018   17:16 810 1 1
Aksi Teror yang Membuat Persebaya Tak Penting Lagi
Sumber: online24jam.com

Rentetan aksi teror yang terjadi di Kota Pahlawan selama dua hari beruntun ini cukup berdampak besar. Di Surabaya, sekolah diliburkan sepekan, kegiatan keagamaan khususnya di gereja dijaga ketat oleh kepolisian, sampai laga sepak bola pun ikut tertunda. Pertandingan sepak bola yang dimaksud bukanlah match biasa karena mempertemukan antara dua tim besar tanah air; Persebaya Surabaya vs Persib Bandung.

Tak cukup sekadar label laga besar. Data dan fakta menarik menarasikan bahwa diluar taktikal kedua klub ada persahabatan abadi kedua supporter. Bonek Mania sebagai salah satu fansbase terbesar di tanah air kerap menghalalkan warna biru menyatu di laga kandang mereka, pun sebaliknya saat Viking atau Bobotoh berwarna setengah hijau di stadion.

Jika pada hakikatnya warna biru dan warna hijau itu berbeda. Namun dimata Viking dan Bonek keduanya adalah sama. Saking eratnya tali persaudaraan, tidak jarang kita melihat desain baju hijau-biru yang melambangkan Viking-Bonek bersaudara menghiasi setiap sudut stadion. Lebih dari itu, beberapa chants persahabatan membuat keduanya selalu hangat ketika berada dalam atap stadion yang sama.

Laga Persebaya vs Persib yang menurut jadwal normal Liga Satu akan dilaksanakan pada hari Sabtu (19/05) ini juga menjadi pertemuan perdana setelah Persebaya Surabaya dalam beberapa periode berada di kasta kedua sepakbola tanah air. Artinya, Persib dan Persebaya tidak pernah bertemu lagi dalam periode tersebut.

Kini, di pekan ke-9 laga big match yang cukup friendly ini batal digelar. Ketua Panpel Persebaya, Whisnu Sakti Buana, pihaknya telah menerima keputusan dari kepolisian terkait izin keamanan dan Polrestabes Surabaya memutuskan untuk tidak memberikan rekomendasi pertandingan atas dasar keamanan yang tidak kondusif beberapa hari terakhir ini.

PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi merespon cepat terkait kondisi keamanan di Surabaya. Melalui surat 177/LIB/V/2018 operator menyatakan jika pertandingan Persebaya vs Persib ditunda karena masuk kedalam kategori force majeur. Walau terkesan mendadak mengajukan penundaan, panpel Persebaya tidak bisa disalahkan dalam hal ini. Pihak Persib pun menyatakan sikap tidak keberatan dengan laga tunda kali ini karena alasan nya cukup dapat diterima, mengingat bukan kali pertama dimusim ini Persib mendapat gangguan perubahan jadwal.

***

Dalam beberapa kasus yang sudah terjadi, situasi mencekam akibat teror membuat sepak bola tak penting lagi untuk sementara waktu. Faktanya Surabaya bukan Kota pertama di dunia yang mengalami teror bom dan berkaitan dengan pertandingan sepak bola. Teror perbatasan Kongo-Angola, Istanbul, Paris, London, Dortmund, Barcelona, dan Jakarta.

Kejadian getir Timnas Togo jelang berlaga di Piala Afrika 2010 sulit untuk dilupakan. Ketika itu para pemain mendapatkan rentetan serangan peluru saat bus tim baru saja melewati perbatasan Kongo-Angola, 8 Januari 2010. Tiga orang wafat akibat kejadian tersebut dua diantaranya adalah pemain Timnas Togo. Akibat dari kejadian mengerikan itu Timnas Togo akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Piala Afrika 2010.

Lain cerita dengan yang terjadi di Istanbul. Teror dilakukan sesaat setelah pertandingan antara Besiktas vs Bursaspor usai pada 11 Desember 2016. Sebuah bom mobil meledak di luar pelataran stadion Vodafone. Tak berselang lama diikuti oleh bom bunuh diri di sekitaran taman. Polisi menduga bahwa target dari aksi tersebut adalah tempat keramaian.

Aksi teror dan sepak bola tidak berhenti sampai Istanbul saja. Pada sebuah pertandingan persahabatan antara Perancis vs Jerman 13 November 2016 lalu di Stade de France. Dua bom meledak, setelah pertandingan penonton dievakuasi ke dalam lapangan demi keamanan.

Aksi selanjutnya datang dari London, Inggris. Ketika Timnas Inggris melakoni friendly match melawan Timnas Jerman di Signal Iduna Park. Rabu, (22/3/2017). Baku tembak terjadi di Jembatan Westmeinster, tak jauh dari gedung parlemen Inggris. Beberapa waktu kemudian atau 20 hari setelah aksi teror di London. Aksi dengan modus serupa seperti penembakan bus Timnas Togo kembali terulang.

Pada Rabu Dinihari (12/04/2017), bus dari tim Borussia Dortmund terkena ledakan. Satu orang terluka, adalah Marc Bartra bek Borussia Dortmund yang dilarikan ke rumah sakit. Hal demikian membuat pihak UEFA mengambil sikap untuk menunda laga Dortmund vs AS Monaco yang sedianya akan digelar pada pukul 18.45 waktu setempat atau 23.45 WIB.

Beberapa bulan kemudian, aksi teror berlangsung di kawasan Las Ramblas, Barcelona. Sebuah mobil Van menabrak kerumunan pada Kamis (17/8/2017) waktu setempat. Pemerintah Spanyol menyatakan bahwa aksi tersebut merupakan bagian dari aksi terorisme. Pemerintah Catalan mencatat, serangan tersebut memakan korban 13 orang tewas dan 50 orang luka-luka.

Terakhir tentu masih segar di ingatan kita, ketika bom mengguncang Jakarta. Lebih tepatnya di hotel J.W Marriot dan Ritz Carlton pada Jumat (17/07/09). Akibat serangan tersebut klub Manchester United yang diagendakan akan menghadapi Indonesian All Stars di Stadion GBK Senin (20/7) batal digelar. Meskipun bom atau teror bentuk lain yang disebutkan diatas belum pasti menyasar sepak bola sebagai target utama namun momentum aksi teror tersebut cukup mengganggu pertandingan sepak bola secara utuh.

Keramaian adalah tempat strategis bagi pelaku teror melancarkan aksinya. Dengan tujuan yang sama, yaitu membuat masyarakat ketakutan dengan suasana mencekam yang telah diciptakannya. Jadi tak ada rumus sepak bola bebas dari aksi teror. Dan kita sepakat bahwa Bonek yang notabene merupakan warga Surabaya pun merasakan kondisi demikian meskipun tagar #KamiTidakTakut beredar di sosial media. Rasa kegelisahan akan tetap ada menyaksikan kota kelahirannya diberondong bom selama dua hari berturut-turut.

Gelisah yang sebenar-benarnya rasa gelisah. Bukan gelisah tidak bisa menyaksikan tim kesayangannya, Persebaya Surabaya yang gagal bertarung sabtu ini. Kecewa bukan karena kecewa tidak bisa menjamu sahabat bernama Viking/Bobotoh. Dalam situasi seperti ini sepakbola pada umumnya wajib dipinggirkan barang sebentar, dan Persebaya secara khusus tidak penting lagi untuk sementara waktu.

Warga Surabaya wajib menanggalkan atribut ke-bonek-annya sementara waktu. Ada kondisi yang lebih penting dari berbicara Persebaya hari ini: melawan teror dengan cara tetap waspada. Seperti yang pernah Lee Dixon ucapkan, salah satu legenda Arsenal. "Sepak bola tidak penting untuk saat-saat seperti ini", dikutip Daily Mail.

Kita lupakan sejenak laga tunda Persebaya vs Persib sabtu ini. Selebihnya Bonek memerankan sebagai warga yang baik supaya tidak takut dengan aksi teror namun senantiasa agar tetap waspada. Bajul Ijo sabtu ini tidak penting asalkan Bonek dan kota Surabaya bisa lekas kondusif.