Cerpen Pilihan

Menabur Bumi Menuai Api

7 Desember 2017   19:23 Diperbarui: 7 Desember 2017   19:26 415 0 0

"Pak, bapak berdarah, kepala bapak berdarah," ujarku kepada Pak Hermanto. Ia tersenyum, sepertinya memang tidak mendengarku, atau karena ia tidak peduli pada darahnya. Lalu mataku tertuju pada Agni, ia berlari ke arahku sambil berteriak "Mereka tertangkap!"

* * *

            Selasa siang dibulan Desember. Kulon Progo. Awan mendung menyelimuti angkasa. Aku dan Agni, hendak menuju 'medan perang'. Agni menyebutnya begitu, entahlah, mungkin karena daerah konflik dan penggusuran bak arena laga baginya. Rumah Pak Sadikin, tempat kami singgah, adalah rumah pamah Agni yang nyaris terkena penggusuran mega proyek New Yogyakarta Internatioanl Airportatau NYIA. Bandara baru ini akan dijadikan untuk mendongkrak pariwisata di Yogyakarta, namun tanah rakyat dikorbankan. 

"Petani harus menanggung ini semua, ya memberikan makanan bagi negara, tapi ya tanahnya dirampas untuk keperluan negara," tutur Pak Sadikin sembari menuang teh panas untuk kami berdua, tangannya yang keriput sedikit bergetaran, mulutnya komat-kamit bercerita tentang pembangunan bandara. Penduduk menolak konsinyasi katanya, itu merugikan mereka.

            Tidak lama kami bersua dengan Pak Sadikin, Agni berpamitan, begitu juga denganku. Kami melangkah keluar dengan jalan kaki. Tanah tandus, pohon tumbang, reruntuhan gubuk-gubuk, puing-puing rumah, segalanya porak poranda bak terkena puting beliung. "Bencana apa lagi ini? Orang-orang ini sudah gila, benar-benar gila!" mulutku tak bisa kubendung, banjir sumpah serapah berlinang diantara telingaku dan Agni.

 Sejurus kemudian, langkah kami berhenti. Terdengar teriakan-teriakan dan suara gemuruh, gaduh. Aku berlari menghampiri suara itu. Barisan massa di depan, menghadang polisi dan alat berat. Mereka bergandengan dan membentuk pagar, ratusan jumlahnya. Agni tertawa, ini yang anak itu tunggu-tunggu. Kerusuhan.

            Aku masuk ke barisan, ku lihat Andra, Bona, Putra, dan beberapa kawan dari luar kota disana. Aktivis. Begitu mereka seringkali disebut. Aku pernah sekali bertemu mereka saat penolakan Pabrik Semen Kendeng, semangat mereka tidak pernah kendur. Kembali lagi aku memerhatikan orang-orang. Barisan depan, mahasiswa dan aktivis pemuda, bergandengan tangan dan menyanyikan lagu-lagu sedih tentang penindasan. Bagian tengah, ibu-ibu dan ada beberapa bapak-bapak yang menangis, sambil berdoa, bersholawat. Dibelakangku, teman-teman jurnalis dan pers mahasiswa yang beberapa kali pernah terlihat ketika aksi semacam ini. 

Beberapa menit kemudian barisan maju, melangkah dan bernyanyi, sembari ada yang berteriak "Tolak bandara!", "Tolak NYIA!", "Lawan!", dan beberapa jargon protes lainnya. Polisi datang, mendorong, sesekali menarik dan memukul. Ibu-ibu menangis bagaikan bayi yang baru dilahirkan, meronta dan merengek. Bagaimana tidak, tanah dan rumah mereka akan diratakan. Polisi semakin mendorong. Andra mendatangiku, "Polisi datang dari timur juga, disana belum banyak masa, bisa kesana?" kepalanya didekatkan ke telingaku. "Siap, tapi tunggu, aku cari kawanku dulu," jawabku, sejenak aku melupakan dimana Agni.

            Belum lama ketika aku keluar dari barisan depan, massa terpecah, berhamburan, berteriak-teriak. Ku sergah kakiku melangkah lebih jauh dan berlari kembali ke barisan yang terpecah. Kini aku melawan arus massa yang berlarian kebelakang. Polisi datang mengejar akhirnya aku turut berlari bersama massa. Masjid Al-Hidayah, posko yang aman. Aku mengengok ke arah polisi, batu melayang, namun gagal mengenai kepalaku. Tanpa aku sadari, aku semakin menjauh dari Masjid. Sial, sepertinya aku tersesat. Kaki ku terus berjalan, tanpa mengetahui di mana Agni, di mana Masjid, dan di mana yang lain, aku di mana?

            Seorang bapak yang tidak terlalu tua, berkumis tebal menghampiriku, ia memeringatkan aku untuk tidak sendirian, Hermanto namanya, sepertinya ia adalah warga asli yang terkena penggusuran pula. "Nanti kamu ketangkep polisi," ujarnya sambil menunjukan arah Masjid. Aku mengangguk, lalu ketika ia berpaling, aku terperanggah. Ada yang tidak aku sadari, kepala Pak Hermanto berlumuran darah. "Pak, bapak berdarah, kepala bapak berdarah," Hermanto. 

Ia tersenyum, sepertinya memang tidak mendengarku, atau karena ia tidak peduli pada darahnya. Lalu mataku tertuju pada Agni, ia berlari ke arahku sambil berteriak "Mereka tertangkap!" Nafasnya tersegal-segal, tangannya meraih lututnya sendiri. "Andra dan teman-teman pers ada yang ditangkap di Masjid. "Siapa?" sergahku terburu. "Andra, dan beberapa kawan dari UNY, UIN, dan yang lain, entah dari mana, pokoknya banyak yang ditangkap." Kepalaku panas, aku berlari menuju posko. Agni mengikuti dibelakangku.

            Disana kujumpai Bona dan Putra. Mereka mengamini bahwa beberapa kawan termasuk dari pers mahasiswa turut ditangkap. Aku kalut, mencari-cari polisi dan bertanya kemana mereka dibawa. Polisi diam, mereka menarik diri dari lokasi. Berjalan kembali menjauhi kami semua. Ibu-ibu masih menangis, ditambah lagi bapak-bapak turut meneteskan air mata. Petang datang, adzan berkumandang, kupandang semua ini. Kulon Progo. 

Belum reda juga kesedihan kita, tersebar kabar esok akan ada penggusuran lagi. Lagi, dan lagi. Agni memutuskan untuk tetap tinggal dirumah Pak Sadikin. Aku, dengan berat hati harus kembali kerumah dan menyisakan tanya. Bagaimana nasib petani? Sampai kapan ini berakhir? Mengapa mereka yang menabur di bumi, menuai api dikemudian hari? Apakah petani harus mati untuk menjadi lebih berguna bagi pembangunan?