Mohon tunggu...
Annisa Rahmatia
Annisa Rahmatia Mohon Tunggu... Jurnalis - Mahasiswi.

an ordinary student, daughter, and teleporter. Beware, I can be anywhere (as long as I got money to travel).

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Masa Depan Jurnalisme, Lahirnya Konsep Multimedia, dan Runtuhnya "Benteng" Antar Jurnalis

17 Februari 2020   11:15 Diperbarui: 19 Februari 2020   08:20 167
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kegiatan jurnalisme kini tidak hanya sebatas cetak dan penyiaran saja. Konsep multimedia menjadi kandidat kuat dalam pembangunan jurnalisme baru masa depan. Selain erat dikaitkan dengan multimedia, masa depan jurnalisme juga ditandai dengan berakhirnya fortress journalism. Fortress berarti 'benteng' yang memberi batas antara satu jurnalis dengan jurnalis lainnya. Fortress journalism dapat diartikan sebagai kegiatan jurnalisme yang justru memberi batas tinggi bagaikan benteng antar jurnalis, sehingga satu jurnalis akan selalu berusaha untuk menyaingi jurnalis lainnya.

Masa Depan Jurnalisme dan Kaitannya dengan Multimedia

Multimedia mengedepankan integrasi antara satu bentuk media dengan media lainnya. Semenjak mulai dikenal pada 1962, multimedia kini banyak diterapkan di berbagai berita. Satu paket berita dapat dinikmati dalam berbagai bentuk yang bersifat komplementer, misalnya audio, video, teks, gambar, dan grafis.

konsep multimedia yang makin melengkapi berita (cr: MakeUseOf)
konsep multimedia yang makin melengkapi berita (cr: MakeUseOf)
Namun, apakah masa depan jurnalisme akan selalu dikaitkan dengan multimedia? Tidak semua orang menyetujui hal tersebut. Masa depan jurnalisme tidak selalu dikaitkan dengan konsep multimedia. Eric Maierson, produser dari MediaStorm, menyatakan jika multimedia hanyalah sebuah kata yang digunakan oleh fotografer yang sedang membuat dokumenter. Ia sendiri tidak begitu menyukai kata 'multimedia'.

Eric Maierson (cr: website Eric Maierson)
Eric Maierson (cr: website Eric Maierson)

I believe 'multimedia' is the word we've come to use when describing photographers who make documentaries.

- Eric Maierson, 2006 -- 

Hal ini cukup bertolak belakang dengan MediaStorm yang menyebut diri mereka sebagai multimedia production studio. Semenjak itu, mereka mengganti sebutan itu dengan film production and interactive design studio. Produk-produk mereka umumnya berupa video dokumenter, misalnya "Crisis Guide: Iran".

Video dokumenter
Video dokumenter "Crisis Guide: Iran" (cr: Mediastorm)

Selain Eric Maierson, Robyn Tomlin (editor dari Thunderdome, bagian dari Digital First Media) juga menolak konsep multimedia sebagai masa depan jurnalisme. Ia menyatakan jika masa depan jurnalisme memiliki kecenderungan untuk lebih bergantung pada video dan interaktivitas.

Robyn Tomlin (cr: Durhan Technical Community College)
Robyn Tomlin (cr: Durhan Technical Community College)

I would say video and interactives.

- Robyn Tomlin --

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun