Mohon tunggu...
Gentur Adiutama
Gentur Adiutama Mohon Tunggu... ASN di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Pecinta bulutangkis dan pengagum kebudayaan Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Festival Tari Kontemporer ASEAN Digelar di Yogyakarta

7 Juli 2019   22:37 Diperbarui: 7 Juli 2019   23:17 0 0 0 Mohon Tunggu...
Festival Tari Kontemporer ASEAN Digelar di Yogyakarta
Ilustrasi kolaborasi tari ASEAN. Foto: ASEAN COCI

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bekerjasama dengan Sekretariat ASEAN menyelenggarakan sebuah perhelatan akbar bertajuk ASEAN Contemporary Dance Festival (ACDF) pada tanggal 9-15 Juli 2019 di kota Yogyakarta. Ajang unjuk pertunjukan dan dialog mengenai dunia tari kontemporer tingkat regional ini melibatkan 10 delegasi negara anggota ASEAN, antara lain yaitu Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam.

Para delegasi dari negara-negara anggota ASEAN adalah ahli dan praktisi di bidang seni pertunjukan, khususnya tari. Mereka dipilih oleh kementerian bidang kebudayaan dari masing-masing negara. Mayoritas dari mereka sudah sering tampil di berbagai festival di luar negeri, diantaranya Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan (ASWARA) dari Malaysia, Contemporary Dance Network Manila dari Filipina dan Bhaskar's Arts Academy dari Singapura.

Salah satu penampilan dari Bhaskar's Arts Academy Singapura. Foto: BAA
Salah satu penampilan dari Bhaskar's Arts Academy Singapura. Foto: BAA
Yogyakarta dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan acara karena memiliki jejak sejarah panjang dan kontribusi berkesinambungan dalam penciptaan dan pengembangan kebudayaan, tidak hanya bagi Indonesia namun juga secara kawasan. Terlebih lagi, Yogyakarta telah ditetapkan sebagai Kota Budaya ASEAN (ASEAN City of Culture) untuk periode tahun 2018 hingga 2020 pada Sidang Menteri-menteri Kebudayaan se-ASEAN ke-8 tahun lalu. Sejumlah venue di Yogyakarta dipilih sebagai tempat pelaksanaan, antara lain adalah Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma dan Padepokan Seni Bagong Kussudiardja.

Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadjamuddin Ramly menyampaikan, "Kebudayaan merupakan salah satu pilar yang penting dalam upaya negara-negara anggota ASEAN untuk memperkuat solidaritas dan meningkatkan kesalingpahaman sebagai satu komunitas bersama.

Melalui perhelatan ACDF ini, kita semua yang terlibat diharapkan mampu menghasilkan gagasan dan terobosan yang menarik dalam upaya pemerintah, komunitas, dan para seniman di 10 negara anggota ASEAN untuk memajukan kebudayaan khususnya dalam bentuk seni tari."

Lebih jauh, Nadjamuddin menjelaskan bahwa pelaksanaan acara ini juga merupakan bagian dari perwujudan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang mengamanatkan pemerintah Indonesia untuk berperan aktif dalam meningkatkan kerjasama internasional di bidang kebudayaan dan memperkokoh ekosistem kebudayaan baik di dalam negeri maupun antar negara.

ACDF diharapkan dapat menelurkan gagasan baru dalam pengembangan tari kontemporer. Foto: NUS.
ACDF diharapkan dapat menelurkan gagasan baru dalam pengembangan tari kontemporer. Foto: NUS.
Melalui festival ini, seluruh peserta delegasi dari 10 negara anggota ASEAN dapat untuk saling bertukar wawasan dan pengalaman dalam pengembangan tari kontemporer di negara masing-masing. Tari kontemporer di wilayah ASEAN diharapkan tetap berpijak pada kekuatan budaya yaitu mengembangkan budaya yang sudah ada di setiap negara dalam bentuk karya tari yang lebih modern.

Pada workshop yang digelar di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja pada tanggal 11 Juli 2019, para delegasi dari negara anggota ASEAN akan diperkenalkan secara lebih mendalam dengan pemikiran dan karya tari yang pernah dihasilkan oleh Bagong Kussudiardja. Tidak hanya di Indonesia, maestro seni multitalenta yang menjadi pelopor dan pendobrak di dunia seni ini juga dikenal luas di negara-negara lain.

Di samping itu, festival ini juga bertujuan untuk memperkenalkan ASEAN pada masyarakat Indonesia secara luas khususnya generasi muda. Pada pelaksanaannya, selain para seniman, budayawan dan masyarakat umum, festival ini turut mengundang para mahasiswa untuk dapat menyaksikan dan berpartisipasi pada workshop dan seminar. Sementara itu, pertunjukan pada tanggal 13 Juli 2019 di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma terbuka untuk umum dengan tiket gratis.

Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI
Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI