Mohon tunggu...
Askara Aksara
Askara Aksara Mohon Tunggu... Lainnya - tempat paling menyenangkan untuk berhitung dengan aksara

tidak hanya aku padamu, tetapi juga darimu untukku. selamat berpesta kata

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Merayakan Ulang Tahun Naga

24 Juli 2020   16:05 Diperbarui: 24 Juli 2020   15:54 195
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
pict: weheartit.com

"Tapi kenapa nenek tidak pernah datang ke pesta peringatan bulan merah besar?" nenek menjawab pertanyaanku itu dengan senyum yang mengatakan bahwa aku akan mengerti pada waktunya. 

Pesta perayaan bulan merah besar sangat meriah. Mereka berteriak, "Hidup Raja Agung, hidup Semesta Raya" berulang-ulang. Sedang yang diteriaki sudah melahap hampir setengah dari sajian yang dibawa orang-orang tadi. 

Aku jadi bertanya, apakah benar dia Raja Agung? Aku lebih suka menyebutnya Raja Makan karena lihatlah di depan itu. Raja yang mereka sebut Agung itu makan dengan lahap sedang disekelilingnya ada banyak orang yang berebut daging dari satu piring. 

DUUUUMMMMMM

Suara dentuman itu memekakkan telinga. Dan bersamaan dengan itu, tubuh Raja Agung terbanting ke meja dan membuatnya patah tak keruan. Sorak sorai semakin keras. "Hidup Raja Agung, hidup Semesta Raya." teriakan itu semakin keras dan semakin sering. 

Orang-orang dan hewan pemakan daging mendekat ke arah Raja Agung. Mereka berteriak dan mengoyak tubuh Raja Agung kemudian memakannya dengan lahap. 

Seolah Raja Agung adalah santapan utama dari pesta itu. Tidak sampai seperempat pasir waktu, tinggal belulang tanpa seincipun daging yang melekat. Bahkan darahnya pun tak terlihat. Aku bergidik melihat kejadian itu.

"Raja Agung telah Bangkit, Raja Agung telah Bangkit" teriakan itu membuat semua mata menatap kearahku. Dengan mata berbinar penuh harap dan wajah seolah tengah mendamba, mereka mengelilingiku. 

"Hidup Raja Agung, Hidup Raja Agung" begitu seru mereka terus menerus sampai bulan merah besar tenggelam di timur. Saat Matahari Biru terbit, mereka seperti lupa sedang mengelu-elukanku. 

Gundukan-gundukan mulai terbentuk. Memisahkan kerangka Raja Agung semaunya. Mengirimkan pulang orang-orang, hewan-hewan, dan tanaman-tanaman pulang dengan terbang. Aku terbelalak ditempatku berdiri.

"Bagaimana bisa mereka semua terbang? Bahkan ilalang itu pun terbang sekarang." aku menelan ludah. Baru aku ingat bagaimana cara nenek mati. Naga tua itu mati sebagai santapan penghuni Semesta Raya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun