Mohon tunggu...
Gatot Tri
Gatot Tri Mohon Tunggu... Swasta

life through a lens..

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Fenomena Kerajaan Fiktif, Neotribalisme, dan Sifat Manusia Indonesia

22 Januari 2020   13:22 Diperbarui: 23 Januari 2020   11:40 551 9 1 Mohon Tunggu...
Fenomena Kerajaan Fiktif, Neotribalisme, dan Sifat Manusia Indonesia
ilustrasi (sumber: NewDesignFile.com)

Masyarakat tanah air dikejutkan dengan kemunculan beberapa kerajaan fiktif yang sebelumnya tidak pernah eksis. Masyarakat dibuat terheran-heran tentang adanya permainan raja-rajaan ini. 

Lebih takjub lagi ketika mengetahui bahwa sejumlah orang mau membayar sekian juta rupiah untuk menjadi pengikut suatu kerajaan fiktif tersebut. 

Jujur saya merasa takjub dengan si raja dan ratu abal-abal itu yang bisa menggaet sekian banyak orang untuk menjadi pengikut atau followers. Dengan embel-embel menjadi ningrat, sejumlah orang tergiur dan pada akhirnya mau bergabung.

Raja dari sebuah kerajaan fiktif tersebut mengatakan bahwa tidak ada paksaan untuk bergabung sebagai pengikut kerajaan. Para pengikut kebanyakan warga sekitar yang sudah mengenal keseharian si raja abal-abal itu. 

Tapi ternyata sebagian pengikut kerajaan fiktif itu ada juga yang datang dari luar kota.

Kabarnya mereka membayar jutaan rupiah untuk mendapatkan seragam pengikut (seragam pasukan kerajaan?) lengkap dengan aksesoris dan atribut. 

Adanya keraton yang digunakan sebagai "kantor operasional" kerajaan fiktif membuat sebagian orang meyakini bahwa kerajaan tersebut nyata ada.

***

Entah mengapa sebagian orang Indonesia gampang termakan dengan rayuan. Akhir-akhir ini diberitakan adanya kerajaan abal-abal, produk investasi bodong, arisan tipu-tipu, dan masih banyak lagi. 

Sebagian orang menjadi korban dan dirugikan ratusan juta hingga miliaran rupiah. Tetapi fenomena kerajaan gadungan ini sungguh menarik.

Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo memberikan pendapat kepada detik.com tentang konsep neotribalism dalam ilmu Sosiologi yang dapat menjelaskan fenomena kerajaan fiktif ini. Ia menjelaskan tentang orang-orang yang punya perkumpulan dengan emosi sendiri, dengan ciri-ciri, pola pikir, emosional sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN